INDOZONE.ID - Jika kamu pernah berkunjung ke pantai-pantai populer di Indonesia seperti Bali, Lombok, atau Labuan Bajo, pemandangan turis asing berkulit putih yang berjemur di bawah terik matahari tentu bukan hal asing.
Mereka tampak santai berbaring di atas kursi pantai, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar memejamkan mata menikmati hangatnya sinar mentari.
Lantas, apa sebenarnya alasan di balik kebiasaan orang bule berjemur di pantai? Apakah hanya soal estetika, atau ada faktor lain yang memengaruhi? Berikut penjelasan lengkapnya.
Baca juga: 7 Cara Berjemur yang Tepat untuk Bayi, Jangan Sampai Salah!
Alasan Bule Senang Berjemur di Pantai
1. Jarang Mendapatkan Sinar Matahari di Negara Asal
Sebagian besar turis asing yang gemar berjemur, berasal dari negara empat musim di Eropa dan Amerika Utara.
Di wilayah tersebut, musim dingin bisa berlangsung berbulan-bulan dengan suhu rendah, dan intensitas cahaya matahari yang sangat terbatas.
Pada musim gugur dan musim dingin, langit sering mendung, durasi siang lebih pendek, dan sinar matahari tidak sekuat di negara tropis.
Bahkan di beberapa negara Skandinavia, matahari hanya muncul beberapa jam saja dalam sehari saat musim dingin.
Akibatnya, momen musim panas menjadi waktu yang sangat dinantikan. Ketika cuaca mulai hangat dan matahari bersinar lebih lama, masyarakat di sana cenderung memaksimalkan aktivitas luar ruangan, termasuk berjemur.
Saat mereka berlibur ke Indonesia yang memiliki iklim tropis dengan sinar matahari melimpah sepanjang tahun, pantai menjadi tempat ideal untuk “mengisi ulang” paparan sinar matahari.
Bagi mereka, matahari adalah sesuatu yang berharga dan tidak selalu tersedia setiap hari.
Berbeda dengan Indonesia, di mana matahari adalah bagian dari keseharian. Namun bagi mereka, sinar matahari adalah kemewahan musiman.
Baca juga: 10 Manfaat Berjemur di Bawah Sinar Matahari Selama 15 Menit
2. Tren Kulit Cokelat sebagai Simbol Status Sosial
Menariknya, persepsi tentang warna kulit di negara Barat mengalami perubahan besar sepanjang sejarah. Pada abad-abad sebelumnya, kulit putih pucat dianggap sebagai simbol kemewahan dan kelas sosial tinggi.
Orang yang bekerja di dalam ruangan cenderung memiliki kulit lebih cerah. Sedangkan pekerja lapangan, memiliki kulit lebih gelap karena terpapar matahari.
Namun memasuki abad ke-20, persepsi tersebut berubah. Seiring meningkatnya tren liburan ke pantai dan perjalanan wisata, kulit kecokelatan mulai diasosiasikan dengan gaya hidup santai dan kemampuan finansial untuk berlibur.
Kulit tan atau cokelat keemasan menjadi simbol bahwa, seseorang memiliki waktu dan uang untuk menikmati liburan di pantai.
Hal ini diperkuat oleh industri mode dan hiburan yang sering menampilkan model atau selebriti dengan kulit kecokelatan sebagai standar kecantikan modern.
Hingga kini, di banyak negara Barat, warna kulit tan masih dianggap menarik dan stylish. Itulah sebabnya banyak turis asing sengaja berjemur untuk mendapatkan warna kulit yang dianggap lebih eksotis.
3. Kulit Cokelat Dianggap Lebih Sehat dan Segar
Selain faktor gaya hidup, ada pula alasan kesehatan di balik kebiasaan ini. Paparan sinar matahari, membantu tubuh memproduksi vitamin D secara alami.
Vitamin D memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tulang, meningkatkan daya tahan tubuh, serta mendukung fungsi otot.
Karena paparan sinar matahari di negara empat musim sering terbatas, sebagian masyarakat di sana berisiko mengalami kekurangan vitamin D.
Berjemur saat liburan menjadi salah satu cara alami untuk meningkatkan kadar vitamin D dalam tubuh.
Selain itu, kulit yang sedikit lebih gelap akibat paparan matahari, sering dianggap terlihat lebih sehat, segar, dan bercahaya.
Banyak orang merasa kulit tan, membuat mereka tampak lebih hidup dibandingkan dengan kulit pucat yang sering diasosiasikan dengan kurang energi atau kelelahan.
Meski demikian, para ahli tetap menyarankan agar berjemur dilakukan dalam batas aman, untuk menghindari risiko kerusakan kulit.
4. Meningkatkan Rasa Percaya Diri
Faktor psikologis juga memainkan peran penting. Banyak orang Barat merasa lebih percaya diri saat memiliki kulit kecokelatan.
Warna kulit tan sering membuat tubuh terlihat lebih proporsional, dan garis otot tampak lebih tegas.
Industri kecantikan dan fashion turut memperkuat persepsi ini. Model pakaian renang, atlet, hingga selebriti kerap tampil dengan kulit tan yang terlihat glowing di bawah sinar matahari.
Standar ini kemudian membentuk opini publik bahwa kulit kecokelatan terlihat lebih menarik.
Sebaliknya, di Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya, standar kecantikan sering kali mengarah pada kulit cerah. Perbedaan budaya inilah yang membuat fenomena berjemur terlihat kontras.
Padahal pada dasarnya, setiap warna kulit memiliki keindahan dan karakteristik unik masing-masing.
5. Baik untuk Kesehatan Mental
Berjemur bukan hanya soal penampilan atau vitamin D. Paparan sinar matahari juga berpengaruh pada kesehatan mental.
Sinar matahari membantu tubuh memproduksi hormon serotonin, yang berperan dalam meningkatkan suasana hati dan perasaan bahagia.
Selain itu, cahaya alami membantu mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh. Hal ini berdampak pada kualitas tidur yang lebih baik serta tingkat energi yang lebih stabil.
Di negara dengan musim dingin panjang, sebagian orang mengalami gangguan suasana hati musiman atau seasonal affective disorder (SAD).
Kondisi ini muncul akibat kurangnya paparan cahaya matahari dan dapat menyebabkan rasa sedih berkepanjangan, lemas, hingga kehilangan motivasi.
Karena itu, saat memiliki kesempatan berlibur ke negara tropis, mereka memanfaatkan waktu untuk menikmati sinar matahari sebagai bentuk relaksasi dan terapi alami.
6. Budaya Pantai yang Sudah Mengakar
Di banyak negara Barat, budaya pantai sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Aktivitas seperti berjemur, berenang, bermain voli pantai, atau sekadar membaca buku di tepi laut merupakan kegiatan umum saat musim panas.
Pantai bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga ruang sosial untuk berkumpul bersama teman dan keluarga. Berjemur menjadi aktivitas yang dianggap normal dan menyenangkan.
Kebiasaan ini kemudian terbawa saat mereka bepergian ke luar negeri. Indonesia yang memiliki garis pantai panjang dan pemandangan indah tentu menjadi lokasi favorit untuk menikmati budaya tersebut.
7. Pengaruh Media dan Industri Kecantikan
Media memiliki peran besar dalam membentuk standar kecantikan global. Iklan produk kecantikan, majalah fashion, hingga media sosial sering menampilkan figur dengan kulit tan sebagai simbol kecantikan modern.
Bahkan muncul berbagai produk seperti tanning oil dan tanning spray yang dirancang untuk membantu proses penggelapan kulit secara instan.
Hal ini menunjukkan bahwa, warna kulit tan memang memiliki pasar tersendiri di negara Barat.
Sebaliknya, di Asia, produk pencerah kulit lebih banyak diminati. Perbedaan tren ini semakin memperjelas bahwa standar kecantikan dipengaruhi oleh faktor budaya dan lingkungan.
8. Sensasi Relaksasi di Bawah Matahari
Berjemur juga memberikan sensasi relaksasi tersendiri. Hangatnya sinar matahari yang mengenai kulit dapat memberikan efek nyaman dan menenangkan.
Di pantai tropis, kombinasi suara ombak, angin sepoi-sepoi, serta aroma laut menciptakan pengalaman yang sulit didapatkan di negara asal mereka.
Aktivitas sederhana seperti berbaring di kursi pantai bisa menjadi momen me time yang sangat berharga.
Bagi sebagian turis asing, liburan ke Indonesia adalah pelarian dari rutinitas padat dan cuaca dingin di negara asal.
Berjemur menjadi simbol kebebasan dan waktu istirahat yang berkualitas.
9. Apakah Berjemur Aman?
Meski memiliki manfaat, berjemur tetap harus dilakukan dengan bijak. Paparan sinar UV berlebihan dapat menyebabkan:
- Penuaan dini
- Kulit terbakar (sunburn)
- Hiperpigmentasi
- Risiko kanker kulit
Karena itu, penting untuk menggunakan sunscreen dengan SPF minimal 30, membatasi durasi berjemur sekitar 15-30 menit, serta menghindari paparan langsung saat matahari berada di puncak teriknya.
Keseimbangan adalah kunci agar manfaat sinar matahari tetap bisa dirasakan tanpa merusak kesehatan kulit.
Perbedaan Perspektif tentang Warna Kulit
Fenomena ini menunjukkan bahwa standar kecantikan sangat relatif dan dipengaruhi oleh latar belakang budaya.
Di Barat:
Kulit cokelat dianggap sehat dan menarik
Di Asia:
Kulit cerah sering diasosiasikan dengan kebersihan dan perawatan diri
Perbedaan ini bukan untuk dibandingkan, melainkan dipahami sebagai keberagaman perspektif. Setiap warna kulit memiliki pesona dan nilai keindahan masing-masing.
Kebiasaan orang bule berjemur di pantai ternyata bukan sekadar tren atau keinginan tampil berbeda. Ada faktor iklim, sejarah, budaya, kesehatan, hingga psikologis yang membentuk kebiasaan tersebut.
Bagi mereka, sinar matahari adalah sesuatu yang langka dan berharga. Sementara bagi kita yang tinggal di negara tropis, matahari adalah bagian dari keseharian.
Perbedaan inilah yang menciptakan sudut pandang berbeda tentang warna kulit dan aktivitas berjemur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Penulis