Rabu, 18 MARET 2026 • 20:40 WIB

Cara Menyikapi ‘Flexing’ saat Lebaran, agar Mental Tetap Sehat

Author

Ilustrasi flexing. (Freepik)

INDOZONE.ID - Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Phoebe Ramadina, mengingatkan pentingnya menjaga respons yang sehat secara psikologis saat menghadapi perilaku pamer atau flexing, terutama dalam momen berkumpul seperti Lebaran.

Menurut Phoebe, respons terbaik bukanlah ikut bersaing, melainkan tetap netral dan tidak terjebak dalam dorongan untuk “mengimbangi” apa yang ditampilkan orang lain.

“Respon yang netral dan tidak memperpanjang diskusi ke arah kompetisi sudah cukup, sambil tetap menjaga kesadaran bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya,” ujarnya, dikutip Rabu (18/3/2026).

Ia menjelaskan, momen Idulfitri sering kali memunculkan dinamika perbandingan di lingkungan keluarga besar, baik terkait pencapaian maupun kepemilikan. Dalam kondisi ini, perilaku flexing kerap muncul sebagai bentuk kebutuhan akan validasi sosial.

Phoebe menyebut, orang yang gemar flexing umumnya ingin diakui sebagai “berhasil” atau setidaknya tidak tertinggal dibandingkan orang lain. Hal ini juga dipengaruhi oleh budaya yang masih mengaitkan kesuksesan dengan materi dan status sosial.

Baca juga: Jangan Tergiur Flexing di Medsos, Milenial dan Gen Z harus Pahami Dulu Apa Itu Trading

Selain itu, perilaku tersebut bisa menjadi bentuk kompensasi dari rasa tidak aman atau ketakutan dianggap gagal. 

Dalam beberapa kasus, dorongan ini bahkan membuat seseorang melakukan berbagai cara, termasuk menampilkan kemewahan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Faktor lain yang memengaruhi antara lain tekanan sosial dalam keluarga, fenomena fear of missing out (FOMO), serta kondisi harga diri yang belum stabil.

“Di era yang sangat menekankan pencitraan, penampilan eksternal sering kali dianggap lebih penting daripada keaslian,” kata Phoebe.

Untuk menyikapi kondisi ini, ia menyarankan agar individu tetap berpegang pada nilai dan standar diri sendiri. Menjaga jarak emosional juga penting dilakukan jika interaksi mulai terasa melelahkan.

Baca juga: Ini 7 Gaya Hidup Sederhana Warren Buffett di Usia 90-an, Jauh dari Kata Flexing!

Di sisi lain, empati tetap perlu dikedepankan. Menurutnya, perilaku flexing bisa jadi merupakan cara seseorang untuk mencari pengakuan atau rasa dihargai dari lingkungannya.

Agar momen Lebaran lebih bermakna, Phoebe mendorong keluarga untuk mengarahkan percakapan pada hal-hal yang memperkuat koneksi emosional, bukan sekadar membandingkan pencapaian.

“Misalnya dengan berbagi pengalaman hidup, termasuk tantangan dan pelajaran yang didapat, mengingat kembali kenangan keluarga, atau saling memberikan apresiasi secara tulus,” sarannya.

Membicarakan harapan ke depan serta saling menanyakan kondisi emosional juga dinilai dapat membuka ruang komunikasi yang lebih hangat. 

Dengan demikian, kebersamaan saat Lebaran tidak hanya terasa secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan keluarga yang lebih suportif.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU