INDOZONE.ID - Tidak sedikit orang mengalami kesulitan tidur nyenyak, mulai dari sering terbangun di malam hari hingga sulit terlelap dalam waktu lama. Kondisi ini kerap dipengaruhi berbagai faktor, seperti kebiasaan sebelum tidur hingga paparan cahaya buatan.
Menariknya, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa tidur di alam terbuka atau berkemah justru dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Paparan langsung terhadap siklus alami siang dan malam dinilai mampu mengatur ulang ritme tubuh agar lebih selaras.
Karena itu, berkemah kini tidak hanya dipandang sebagai aktivitas rekreasi, tetapi juga berpotensi menjadi cara sederhana untuk membantu mendapatkan tidur yang lebih berkualitas.
Tidur di Luar Ruangan Atur Ulang Jam Sirkadian
Sebagian besar orang tidur jauh setelah matahari terbenam. Ketidaksesuaian ini berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Penelitian menunjukkan, tidur di luar ruangan dapat membantu menyelaraskan kembali ritme tubuh dengan siklus alami matahari dan bulan.
Para ilmuwan menemukan bahwa berkemah selama akhir pekan dapat mengatur ulang jam sirkadian agar lebih selaras dengan lingkungan alami. Dampaknya, waktu tidur menjadi lebih awal dan risiko gangguan kesehatan seperti penyakit kardiovaskular hingga depresi bisa berkurang.
Baca juga: Susah Tidur di Malam Hari? Yuk Coba Konsumsi 5 Makanan Berikut
Sekitar 15 tahun lalu, Kenneth Wright, direktur Laboratorium Tidur dan Kronobiologi di University of Colorado Boulder, melakukan penelitian dengan membawa sekelompok peserta berkemah selama seminggu di Pegunungan Rocky. Mereka tidak menggunakan senter atau ponsel, dan terpapar cahaya alami hingga empat kali lebih banyak dari biasanya.
Hasilnya, jam sirkadian peserta bergeser dua jam lebih awal. Kadar hormon melatonin penanda waktu biologis malam, turun lebih cepat saat pagi hari dibandingkan saat mereka tidur di rumah.
“Paparan cahaya buatan modern membuat ritme sirkadian kita tidak selaras. Otak seolah masih menganggap kita harus tidur saat kita sudah bangun,” jelas Wright.
Dengan ritme yang lebih selaras, tubuh menjadi lebih sehat. Ia menambahkan, orang dengan pola tidur lebih awal cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap penyalahgunaan zat, depresi, obesitas, hingga diabetes.
Tidur di Bawah Bintang Lebih Menyegarkan
Ella Hewton, manajer komunitas Love Her Wild di Inggris, mengaku merasakan manfaat langsung dari tidur di alam terbuka.
“Ada sesuatu yang istimewa dari ritme alami itu. Burung membangunkan kita saat fajar, dan cahaya pagi terasa sangat menyenangkan,” ujarnya.
Dalam pengalaman terbaiknya, ia tidur tanpa cahaya buatan, tanpa ponsel dan tanpa senter, hanya ditemani api unggun dan selimut. Meski sempat terbangun di malam hari, ia justru merasa lebih segar dan berenergi di siang hari.
Penelitian lain oleh Wright juga menunjukkan, meski orang yang berkemah lebih sering terbangun di malam hari, total waktu tidur mereka justru bertambah hingga lebih dari dua jam dibandingkan saat tidur di dalam ruangan.
Selain itu, mengurangi paparan cahaya buatan di malam hari juga berdampak positif bagi kesehatan, termasuk tekanan darah, regulasi hormon, dan kondisi mental.
Baca juga: Sering Begadang dan Susah Bangun Pagi? Coba 8 Cara Ini Biar Pola Tidur Kembali Normal
Suara Alam dan Tips Berkemah Nyaman
Suara alam juga bisa membantu meningkatkan kualitas tidur. Survei terhadap 1.000 orang di Inggris menunjukkan 56 persen responden merekomendasikan tidur di luar ruangan bagi mereka yang sulit tidur. Sekitar seperempat responden bahkan mengaku tidur lebih nyenyak di alam dibandingkan di rumah.
Suara seperti rintik hujan, dedaunan, jangkrik, hingga ombak dinilai menenangkan. “Suara burung hantu dan makhluk malam lainnya justru terasa menenangkan dan membuat mengantuk,” kata Rob Ganley dari Camping and Caravanning Club.
Ia menyarankan agar tidak mendirikan tenda di bawah pohon saat hujan karena tetesan air bisa terasa seperti “tembakan” di atas tenda. Selain itu, penting menggunakan alas atau insulasi yang cukup tebal agar tubuh tidak langsung bersentuhan dengan tanah dingin.
Bagi pemula, kini tersedia berbagai opsi seperti membeli tenda bekas atau bahkan meminjam dari perpustakaan, sehingga biaya tidak menjadi kendala utama.
Wright menambahkan, bagi yang belum bisa berkemah, suasana alam juga bisa dihadirkan di rumah, misalnya dengan menyesuaikan pencahayaan, warna biru di siang hari dan lebih hangat di malam hari.
Pada akhirnya, mungkin sudah saatnya kembali membuka perlengkapan berkemah yang lama tersimpan, atau setidaknya mematikan lampu lebih awal. Siapa tahu, tidur yang lebih nyenyak bisa dimulai dari langkah sederhana tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Bbc.com