INDOZONE.ID - Istilah Acute flaccid myelitis (AFM) atau mielitis flaksid akut, belum banyak dikenal masyarakat. Padahal, ini merupakan penyakit langka namun serius, yang menyerang sumsum tulang belakang.
Penyakit tersebut dapat menyebabkan kelemahan mendadak pada lengan atau kaki, hilangnya tonus otot, serta berkurangnya refleks tubuh. AFM paling sering terjadi pada anak-anak usia muda.
Sebagian besar anak yang mengalami kondisi ini, sebelumnya mengalami infeksi virus ringan. Misal, flu atau demam, sekitar satu hingga empat minggu sebelum gejala AFM muncul.
Gejala AFM yang Perlu Diwaspadai
Dikutip dari Mayo Clinic, gejala AFM biasanya muncul secara tiba-tiba, dan dapat berkembang dengan cepat. Beberapa tanda yang paling umum meliputi:
- Kelemahan mendadak pada lengan atau kaki
- Hilangnya tonus otot secara tiba-tiba
- Hilangnya refleks tubuh
Baca juga: Hati-Hati! Ini 5 Ciri Penyakit Jantung di Usia Muda, Cepat Lelah hingga Kaki Bengkak
Selain itu, gejala lain yang mungkin muncul antara lain:
- Kesulitan menggerakkan mata atau kelopak mata terkulai
- Wajah tampak lemah atau menurun di satu sisi
- Kesulitan menelan atau bicara pelo
- Nyeri pada lengan, kaki, leher, atau punggung
Pada kasus yang lebih jarang, penderita juga dapat mengalami:
- Mati rasa atau kesemutan
- Kesulitan buang air kecil
Dalam kondisi berat, AFM dapat menyebabkan kegagalan pernapasan karena otot-otot pernapasan melemah. Kondisi ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan intensif.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika kamu atau anak mengalami gejala seperti kelemahan mendadak pada anggota tubuh, atau kesulitan bernapas, segera cari pertolongan medis.
AFM adalah kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat di rumah sakit, bahkan dalam beberapa kasus memerlukan alat bantu napas (ventilator).
Penyebab Acute Flaccid Myelitis
AFM diduga berkaitan dengan infeksi virus, terutama kelompok enterovirus yang juga sering menyebabkan penyakit pernapasan ringan dan demam, khususnya pada anak-anak.
Namun hingga kini, belum diketahui secara pasti mengapa hanya sebagian kecil penderita infeksi virus tersebut, yang kemudian berkembang menjadi AFM.
Kasus AFM sering meningkat pada periode tertentu, terutama antara Agustus hingga November di beberapa negara. Gejalanya juga menyerupai penyakit polio, meskipun AFM tidak disebabkan oleh virus polio.
Faktor Risiko
Kelompok yang paling berisiko mengalami AFM adalah anak-anak usia muda. Hingga saat ini, belum banyak faktor risiko lain yang diketahui secara pasti.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Kelemahan otot akibat AFM, dapat berlangsung dalam jangka panjang. Mulai dari beberapa bulan hingga bertahun-tahun. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan bergerak secara permanen.
Cara Mencegah AFM
Belum ada cara khusus untuk mencegah AFM. Namun, pencegahan infeksi virus dapat membantu menurunkan risikonya. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
- Mencuci tangan secara rutin dengan sabun dan air
- Menghindari menyentuh wajah dengan tangan yang belum bersih
- Menjauhi kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
- Membersihkan permukaan benda yang sering disentuh
- Menutup mulut saat batuk atau bersin
- Menjaga anak yang sakit tetap di rumah
Diagnosis AFM
Untuk memastikan diagnosis AFM, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, antara lain:
- Pemeriksaan saraf untuk menilai kelemahan otot dan refleks
- MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat kondisi otak dan sumsum tulang belakang
- Tes laboratorium pada cairan tulang belakang, darah, atau sampel lainnya
- Pemeriksaan saraf untuk mengevaluasi respons otot dan kecepatan impuls saraf
Diagnosis AFM cukup sulit diketahui, karena gejalanya mirip dengan penyakit saraf lain, seperti sindrom Guillain-Barré.
Baca juga: 9 Penyebab Kesemutan yang Harus Diwaspadai dan Perlu Bantuan Dokter!
Pengobatan dan Penanganan
Hingga saat ini, belum ada terapi spesifik untuk menyembuhkan AFM. Penanganan difokuskan pada meredakan gejala dan mendukung fungsi tubuh.
Dokter spesialis saraf (neurolog) biasanya akan merekomendasikan:
- Terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan otot
- Terapi okupasi untuk membantu aktivitas sehari-hari
Jika dilakukan sejak awal, terapi ini dapat membantu memperbaiki pemulihan jangka panjang. Selain itu, beberapa terapi yang mungkin diberikan meliputi:
- Imunoglobulin untuk meningkatkan respons imun
- Kortikosteroid untuk mengurangi peradangan
- Obat antivirus
- Terapi plasma (plasma exchange)
Namun, efektivitas terapi-terapi tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Dalam kasus tertentu, tindakan operasi seperti transfer saraf atau otot dapat dilakukan untuk membantu memulihkan fungsi anggota tubuh.
Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan cepat, menjadi kunci utama untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Sehingga, penting bagi orang tua untuk segera mencari bantuan medis jika anak menunjukkan gejala kelemahan mendadak atau gangguan pernapasan.
Dengan pemahaman yang tepat, risiko komplikasi dapat diminimalkan dan peluang pemulihan bisa lebih baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic