Rabu, 22 APRIL 2026 • 14:00 WIB

Hate Speech: Ujaran Kebencian Ternyata Termasuk Kekerasan Verbal! Dampaknya Sangat Parah

Author

Ilustrasi ujaran kebencian. (Asiandelight)

INDOZONE.ID - Masih banyak yang menganggap hate speech atau ujaran kebencian cuma sekadar “komentar pedas” atau candaan di media sosial. Padahal, hate speech adalah bagian dari kekerasan verbal yang bisa melukai seseorang secara serius, apalagi jika terjadi berulang dan menargetkan hal sensitif.

Apa Itu Kekerasan Verbal?

Kekerasan verbal terjadi ketika seseorang menggunakan kata-kata untuk menyakiti, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain. Bentuknya tidak selalu berupa teriakan atau makian, tetapi juga bisa hal-hal yang terlihat “ringan”.

Contohnya:

  • Menghina fisik atau penampilan seseorang (body shaming).
  • Mengejek dengan kata-kata kasar atau julukan yang merendahkan (name-calling).
  • Mengancam.
  • Menjelek-jelekkan keluarga atau orang terdekat korban.

Pelaku biasanya sengaja menyerang bagian paling sensitif dari korban, seperti latar belakang, kepercayaan, atau identitas diri, agar terasa lebih menyakitkan.

Baca juga: Cuma Teriak Doang? Eits, Hati-Hati! Ini Tanda Kamu Sudah Mengalami Kekerasan Verbal

Kapan Disebut Hate Speech?

Kekerasan verbal bisa berkembang menjadi hate speech jika menyerang seseorang atau kelompok berdasarkan identitas tertentu, seperti:

  • Agama.
  • Ras atau warna kulit.
  • Budaya atau bahasa.
  • Gender dan orientasi seksual.

Hate speech tidak hanya disampaikan secara langsung, tetapi juga bisa lewat media digital seperti komentar, meme, video, atau pesan pribadi.

Contoh hate speech:

  • Membuat lelucon yang merendahkan perempuan atau menganggap mereka hanya objek seksual.
  • Menggunakan kata ejekan untuk seseorang yang dianggap berbeda orientasi seksualnya.
  • Menyebarkan konten yang menghina kelompok agama tertentu.
  • Menulis komentar seperti “Orang dari kelompok itu memang pantas dibenci”.

Kenapa Ini Berbahaya?

Dampak hate speech tidak hanya berhenti di perasaan tersinggung. Banyak korban yang pada akhirnya mengalami rasa takut dan tidak aman, cemas dan stres berlebihan, kehilangan kepercayaan diri, bahkan trauma serta depresi berat.

Dalam beberapa kasus, tekanan ini bisa membuat korban merasa putus asa hingga mengakhiri hidup.

Lebih jauh lagi, ujaran kebencian bisa memicu tindakan nyata. Jika kebencian terus disebarkan dan dianggap normal, hal ini bisa berkembang menjadi kekerasan fisik, perusakan, bahkan kejahatan terhadap kelompok tertentu.

Baca juga: Titip Pesan di Your Voice Matters, Kevin Geraldi: Berpendapatlah Asal Jangan Hate Speech

Mulai dari Hal Sederhana: Jaga Kata-Kata

Di era digital, semua orang bisa dengan mudah berkomentar. Tapi penting untuk diingat, kata-kata punya dampak besar.

Sebelum berbicara atau mengetik sesuatu, coba pikirkan:

  • Apakah ini bisa menyakiti orang lain?
  • Apakah ini menyerang identitas seseorang?

Memahami bahwa hate speech adalah bagian dari kekerasan verbal adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan saling menghargai. Karena pada akhirnya, satu kalimat bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Coe.int

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU