Ilustrasi berteriak. (Pixabay)
INDOZONE.ID - Masih banyak orang yang menganggap berteriak dalam hubungan itu hal biasa. “Namanya juga lagi emosi,” atau “dia memang orangnya keras.” Tapi, jangan salah, kebiasaan berteriak, apalagi dilakukan berulang kali, bisa jadi bukan sekadar luapan emosi. Itu bisa masuk ke dalam bentuk kekerasan verbal yang sering tidak disadari.
Di balik suara tinggi dan kata-kata tajam, ada pola yang lebih dalam: keinginan untuk mengontrol, mendominasi, bahkan melemahkan pasangan. Dan yang lebih berbahaya, banyak korban yang baru sadar setelah dampaknya terasa cukup parah.
Saat seseorang berteriak, tujuannya sering kali bukan hanya untuk didengar, tapi untuk “menang”. Nada tinggi digunakan sebagai alat untuk menekan lawan bicara agar diam, mengalah, atau merasa bersalah.
Kalau ini terjadi sekali-dua kali, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, kalau sudah jadi kebiasaan setiap ada konflik, itu bukan lagi komunikasi itu bentuk dominasi.
Dan di situlah garis antara “marah biasa” dan kekerasan verbal mulai terlihat.
Baca juga: Ternyata Kritikan Bisa Menjadi Kekerasan Verbal! Kok Bisa? Ini Penjelasannya
Kekerasan verbal bukan cuma soal kata kasar. Intinya adalah bagaimana seseorang menggunakan kata-kata atau suara untuk melukai, merendahkan, atau mengintimidasi orang lain.
Berteriak jadi bagian dari itu karena efeknya nyata, seperti membuat lawan bicara merasa takut, menekan secara emosional, bahkan menghilangkan rasa aman dalam hubungan.
Apalagi jika disertai dengan hinaan, tuduhan tanpa bukti, atau bahkan ancaman itu jelas sudah melewati batas.
Yang bikin kekerasan verbal berbahaya adalah efeknya sering tidak langsung terlihat. Nggak ada luka fisik, tapi luka mentalnya bisa bertahan lama.
Saat seseorang sering diteriaki, tubuh akan merespons dengan stres. Hormon seperti kortisol dan adrenalin meningkat, memicu rasa cemas dan tegang terus-menerus.
Kalau dibiarkan, dampaknya bisa memengaruhi mental, misalnya anxiety disorder (gangguan kecemasan), depresi, gangguan tidur (insomnia), bahkan trauma emosional berkepanjangan.
Lebih parah lagi, korban bisa mulai kehilangan kepercayaan diri dan merasa dirinya memang “pantas” diperlakukan seperti itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Innerbalanceaz.com