INDOZONE.ID - Tahukah kamu, stroke sering kali datang tiba-tiba, padahal risikonya bisa dikenali dari beberapa kondisi kesehatan sebelumnya.
Sayangnya, beberapa penyakit pemicu stroke kerap dianggap biasa, sampai akhirnya menimbulkan komplikasi serius.
Oleh karena itu, penting untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak menyepelekan penyakit yang sedang dialami.
Penyakit yang Bisa Picu Stroke
Nah, agar kamu lebih berhati-hati, berikut beberapa penyakit yang bisa meningkatkan risiko stroke sebelum terlambat:
1. Diabetes
Diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2, terjadi ketika kadar gula darah dalam tubuh meningkat secara kronis.
Jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat merusak pembuluh darah kecil maupun besar, termasuk pembuluh darah yang menuju otak.
Akibatnya, risiko terjadinya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah ikut meningkat.
Diabetes juga sering berkaitan dengan masalah kesehatan lain, seperti hipertensi dan kolesterol tinggi.
Kombinasi kondisi tersebut dapat mempercepat penumpukan plak di pembuluh darah dan memicu terbentuknya gumpalan darah.
Itulah mengapa pengidap diabetes perlu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Pola makan sehat, olahraga teratur, pemeriksaan rutin, dan konsumsi obat sesuai anjuran dokter dapat membantu menekan risiko komplikasi, termasuk stroke.
2. Sleep Apnea
Sleep apnea adalah gangguan tidur yang membuat napas berhenti sesaat secara berulang saat seseorang sedang tidur.
Meski sering dianggap hanya masalah tidur, kondisi ini ternyata dapat meningkatkan risiko stroke jika tidak ditangani dengan baik.
Hal ini dikarenakan saat sleep apnea terjadi, kadar oksigen dalam tubuh bisa turun berulang kali.
Kondisi tersebut dapat memicu tekanan darah naik-turun dan memberi tekanan lebih besar pada pembuluh darah.
Jika berlangsung lama, sleep apnea juga bisa berkontribusi pada hipertensi, gangguan jantung dan stroke
3. Hipertensi
Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu faktor utama yang paling sering memicu stroke.
Jadi saat tekanan darah terus berada di atas batas normal, dinding pembuluh darah akan bekerja lebih keras, menjadi tegang, dan berisiko melemah.
Baca juga: Tiba-Tiba Pusing dan Bicara Pelo? Bisa Jadi Gejala Stroke
Kondisi ini dapat meningkatkan peluang terjadinya stroke hemoragik, yaitu stroke akibat pecahnya pembuluh darah di otak.
Selain itu, hipertensi juga bisa mempercepat terjadinya aterosklerosis atau penumpukan plak di dinding arteri.
Plak ini dapat membuat pembuluh darah menyempit, sehingga aliran darah menuju otak ikut terganggu dan memicu stroke iskemik.
4. Kolesterol Tinggi dan Aterosklerosis
Kolesterol tinggi, terutama peningkatan LDL atau kolesterol jahat juga dapat memicu penumpukan plak di dinding pembuluh darah.
Kondisi ini dikenal sebagai aterosklerosis dan menjadi salah satu faktor risiko penting terjadinya stroke.
Seiring waktu, plak yang menumpuk bisa membuat pembuluh darah menyempit dan menghambat aliran darah.
Jika terbentuk gumpalan darah di area tersebut lalu bergerak menuju otak, kondisi ini dapat menyebabkan stroke iskemik
5. Penyakit Jantung
Penyakit jantung juga menjadi salah satu kondisi yang dapat meningkatkan risiko stroke.
Beberapa gangguan seperti gagal jantung, fibrilasi atrium atau irama jantung tidak teratur, penyakit katup jantung, hingga penyakit arteri koroner bisa memengaruhi aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak.
Pada fibrilasi atrium, misalnya, jantung tidak berdetak dengan ritme yang normal.
Kondisi ini membuat darah lebih mudah menggumpal di dalam jantung.
Jika gumpalan tersebut terbawa aliran darah menuju otak, stroke iskemik dapat terjadi.
6. Penyakit Ginjal Kronis dan Gangguan Hipertensi Sekunder
Penyakit ginjal kronis juga dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur tekanan darah.
Akibatnya, banyak pengidap penyakit ginjal kronis juga mengalami hipertensi yang sulit dikontrol.
Padahal, tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya stroke.
Baca juga: 8 Ciri Stroke di Usia Muda yang Sering Diabaikan, Jangan Sampai Kena!
Ketika fungsi ginjal terus menurun, risiko gangguan kardiovaskular juga ikut meningkat.
Kondisi ini dapat memperberat kerja pembuluh darah dan mempercepat munculnya komplikasi, termasuk stroke.
Selain itu, penyakit ginjal kronis juga sering disertai gangguan metabolik, seperti kadar asam urat tinggi dan dislipidemia.
Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko penyumbatan pembuluh darah yang berhubungan dengan stroke.
7. Anemia Sel Sabit
Anemia sel sabit adalah kelainan darah genetik yang membuat sel darah merah berbentuk seperti sabit.
Bentuk yang tidak normal ini membuat sel darah lebih mudah tersangkut di pembuluh darah kecil, termasuk pembuluh darah di otak.
Ketika aliran darah terhambat, bagian tertentu di otak bisa kekurangan oksigen.
Jika kondisi ini terjadi, risiko stroke iskemik dapat meningkat.
Komplikasi ini bahkan dapat terjadi pada anak-anak yang hidup dengan anemia sel sabit.
Oleh karena itu, penanganan sejak dini sangat penting bagi pengidap anemia sel sabit.
Pemeriksaan rutin dan perawatan menyeluruh dapat membantu mengurangi risiko komplikasi serius, termasuk stroke.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic, National Heart, Lung, And Blood Institute (NHLBI)