Minggu, 10 MEI 2026 • 15:15 WIB

Ternyata, Jalan Kaki Bisa Bantu Pasien Cepat Pulih Setelah Operasi

Author

Ilustrasi seseorang jalan kaki agar bisa cepat pulih setelah operasi. (Freepik)

INDOZONE.ID - Setelah menjalani tindakan operasi atau bedah, biasanya pasien butuh proses pemulihan hingga dapat kembali beraktivitas normal. 

Meski banyak pasien yang akhirnya dapat pulih dengan baik, namun masa pemulihan tetap memiliki sejumlah risiko. Misal, infeksi, perdarahan, hingga gangguan penyembuhan luka.

Beberapa faktor, seperti usia lanjut, penyakit penyerta, atau jenis operasi yang kompleks, dapat meningkatkan risiko komplikasi. 

Jika komplikasi terjadi, pasien berpotensi menjalani rawat inap lebih lama, bahkan harus kembali dirawat setelah pulang dari rumah sakit.

Sehingga, dunia medis kini menerapkan pendekatan berbasis bukti seperti Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). 

Itu merupakan metode perawatan perioperatif, yang dirancang untuk mempercepat pemulihan pasien setelah operasi besar.

Baca juga: Perhatian! Studi Ungkap Jalan Kaki Bisa Turunkan Risiko Kematian Akibat Jantung dan Diabetes

Salah satu langkah sederhana yang dinilai efektif adalah, mendorong pasien untuk mulai bergerak lebih cepat setelah operasi. 

Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki, diketahui dapat membantu mempercepat pemulihan, menurunkan risiko komplikasi, serta mempersingkat masa rawat inap.

Dikutip dari Medical News Today, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American College of Surgeons menunjukkan, peningkatan jumlah langkah harian setelah operasi, dapat berperan besar dalam memperbaiki proses pemulihan pasien.

Semakin Banyak Langkah, Semakin Baik Pemulihan

Ilustrasi berjalan kaki (freepik)

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis data dari All of Us Research Program yang melibatkan 1.965 orang dewasa. Mereka menjalani operasi rawat inap.

Hasil penelitian menemukan adanya hubungan yang konsisten, antara jumlah langkah harian yang lebih tinggi dengan perbaikan hasil pemulihan pascaoperasi.

Manfaat ini terlihat pada berbagai jenis operasi dan kondisi kesehatan pasien yang berbeda.

Setelah memperhitungkan faktor seperti usia, jenis kelamin, dan tingkat risiko operasi, peneliti menemukan, setiap tambahan 1.000 langkah per hari setelah operasi, berkaitan dengan:

  • Penurunan risiko komplikasi sebesar 18 persen
  • Penurunan kemungkinan rawat ulang sebesar 16 persen
  • Pemendekan masa rawat inap sekitar 6 persen

Tim peneliti juga membandingkan jumlah langkah dengan indikator pemulihan lain. Seperti, variabilitas denyut jantung, dan penilaian kondisi tubuh oleh pasien sendiri.

Menariknya, kedua indikator tersebut tidak menunjukkan hubungan yang kuat dengan hasil pemulihan, lama rawat inap, maupun risiko komplikasi. 

Sebaliknya, jumlah langkah justru menjadi indikator yang lebih konsisten.

Apakah Berjalan Membantu Pemulihan?

Meski hasil penelitian cukup menjanjikan, muncul pertanyaan penting, apakah pasien pulih lebih baik karena mereka berjalan lebih banyak, atau justru mereka mampu berjalan lebih banyak karena kondisinya memang sudah membaik?

Profesor dan Ketua Departemen Bedah di The Ohio State University Wexner Medical Center, Timothy Pawlik, MD, PhD, MPH, mengatakan, kemungkinan jawabannya adalah kombinasi keduanya.

Menurutnya, penelitian ini menunjukkan hubungan yang kuat antara peningkatan jumlah langkah, dengan hasil pemulihan yang lebih baik. Termasuk, masa rawat lebih singkat dan risiko komplikasi yang lebih rendah.

Namun, karena penelitian ini bersifat observasional, para peneliti belum dapat memastikan, berjalan lebih banyak secara langsung menjadi penyebab utama membaiknya kondisi pasien.

Meski demikian, tim peneliti berusaha meminimalkan kemungkinan bias. Mereka hanya menganalisis data aktivitas, sebelum pasien mengalami komplikasi atau rawat ulang, sehingga hasilnya dianggap lebih akurat.

Baca juga: Jalan Kaki atau Jogging: Pilihan Kardio Terbaik untuk Program Diet Kamu

Jumlah Langkah Bisa Menjadi ‘Sinyal’ Kondisi Pasien

Peneliti juga menemukan, penurunan jumlah langkah dapat menjadi tanda awal adanya masalah kesehatan setelah operasi. 

Menurut Pawlik, penurunan aktivitas sebaiknya dipandang sebagai ‘sinyal’ yang perlu diperhatikan, bukan diagnosis pasti.

Penurunan langkah secara tiba-tiba, bisa mengindikasikan berbagai masalah, seperti:

  • Nyeri yang tidak terkontrol
  • Dehidrasi
  • Mual
  • Sesak napas
  • Infeksi
  • Anemia
  • Gangguan luka operasi
  • Efek samping obat

Dalam situasi seperti ini, tenaga medis dapat melakukan evaluasi lebih dini melalui konsultasi, terapi fisik, penyesuaian obat, hingga pemeriksaan langsung bila diperlukan.

Teknologi Wearable Dinilai Membantu Pemantauan Pemulihan

Penelitian itu juga menyoroti potensi perangkat wearable, seperti jam tangan pintar atau fitness tracker, dalam memantau pemulihan pasien secara real-time.

Selama ini, dokter telah lama menyarankan pasien untuk berjalan setelah operasi. Tapi, belum memiliki cara objektif untuk mengukur aktivitas pasien.

Dengan teknologi pelacak langkah, tenaga medis dapat mengetahui apakah pasien bergerak sesuai target pemulihan, atau justru mengalami penurunan aktivitas yang mengkhawatirkan.

Target Langkah Harus Disesuaikan dengan Kondisi Pasien

Meski peningkatan aktivitas fisik dinilai bermanfaat, para peneliti menekankan, target langkah tidak boleh disamaratakan untuk semua pasien.

Pasien muda dengan operasi ringan, tentu memiliki target berbeda dibanding pasien lansia dengan penyakit penyerta atau operasi besar.

Karena itu peneliti menilai, pendekatan terbaik bukan menetapkan angka universal seperti 10.000 langkah per hari, melainkan melihat progres pemulihan masing-masing pasien, dibanding kondisi aktivitas mereka sebelum operasi.

Sebagai contoh, pasien yang sebelum operasi terbiasa berjalan 8.000 langkah per hari, tentu memiliki target pemulihan berbeda dibanding pasien dengan aktivitas harian 2.000 langkah.

Bergerak Jadi Bagian Penting dari Pemulihan

Studi ini menambah bukti bahwa, aktivitas fisik merupakan bagian penting dalam proses pemulihan pascaoperasi.

Berjalan kaki secara bertahap dan aman, dapat membantu menjaga fungsi paru-paru, mengurangi risiko penggumpalan darah, mempertahankan kekuatan otot, dan mendukung pemulihan tubuh secara keseluruhan.

Para peneliti berharap, penggunaan teknologi wearable di masa depan, dapat membantu dokter memberikan panduan pemulihan yang lebih personal, aman, dan sesuai kondisi masing-masing pasien.

Dengan kata lain, sesuatu yang sederhana seperti menghitung langkah harian mungkin dapat menjadi kunci penting dalam mempercepat pemulihan setelah operasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Medical News Today

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU