INDOZONE.ID - Penyakit kardiovaskular merupakan gangguan kesehatan yang menyerang jantung dan pembuluh darah. Bahkan diperkirakan, memengaruhi sekitar 650 juta orang di seluruh dunia.
Salah satu dampak paling umum dari penyakit ini adalah, infark miokard atau yang lebih dikenal sebagai serangan jantung.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention, sekitar 805 ribu orang mengalami serangan jantung setiap tahun di Amerika Serikat.
Menariknya, satu dari lima kasus tergolong sebagai ‘silent heart attack’, atau serangan jantung tiba-tiba yang tidak terdiagnosis saat kejadian berlangsung.
Kini, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, semua jenis serangan jantung, termasuk yang tidak disadari penderitanya, dapat meningkatkan risiko penurunan fungsi otak atau kognitif seiring bertambahnya usia.
Baca juga: Kenapa Risiko Serangan Jantung Bisa Dua Kali Lipat di Malam Hari? Ini Penjelasannya
Hubungan Antara Serangan Jantung dan Penurunan Kognitif
Dikutip dari Medical News Today, suatu studi yang dipublikasikan di Stroke, para peneliti menemukan, riwayat serangan jantung berkaitan dengan penurunan kemampuan berpikir, mengingat, dan memproses informasi lebih cepat, dibandingkan orang tanpa riwayat penyakit tersebut.
Cheng-Han Chen, seorang ahli jantung intervensi bersertifikat, menjelaskan, kaitan antara serangan jantung dan penurunan fungsi otak, kemungkinan berhubungan dengan gangguan aliran darah ke otak.
Menurutnya, orang yang pernah mengalami serangan jantung, cenderung memiliki penyumbatan pembuluh darah di otak yang dapat menyebabkan iskemia otak, hingga infark kecil yang mempercepat kerusakan fungsi otak.
Penelitian Libatkan Lebih dari 20 Ribu Orang
Penelitian ini menganalisis data lebih dari 20 ribu warga kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat, berusia 45 tahun ke atas, yang tergabung dalam studi jangka panjang REGARDS (REasons for Geographic And Racial Differences in Stroke).
Para peserta menjalani pemeriksaan kesehatan lengkap, termasuk:
- Tes darah
- Pengukuran tekanan darah
- Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG)
- Evaluasi riwayat medis
- Penilaian fungsi kognitif tahunan selama 10 hingga 14 tahun
Dalam wawancara awal, peserta ditanya apakah pernah didiagnosis mengalami serangan jantung. Setelah itu, mereka menjalani pemeriksaan EKG untuk mendeteksi tanda-tanda serangan jantung sebelumnya.
Hasilnya:
- 10,4 persen peserta pernah mengalami serangan jantung
- 5,2 persen terdiagnosis secara medis
- 3,8 persen mengalami silent heart attack
- 1,3 persen memiliki bukti klinis lengkap
Silent Heart Attack Sama Berbahayanya
Peneliti menemukan, semua jenis serangan jantung berkaitan dengan peningkatan risiko gangguan kognitif, termasuk penurunan fungsi otak yang lebih berat dari waktu ke waktu.
Penurunan kemampuan kognitif ditemukan pada peserta laki-laki maupun perempuan, serta pada kelompok kulit hitam dan kulit putih.
Pada perempuan, silent heart attack bahkan ditemukan lebih sering terjadi. Peneliti menduga, kondisi ini berkaitan dengan masih rendahnya diagnosis serangan jantung pada wanita karena gejalanya sering tidak khas.
Apa Itu Silent Heart Attack?
Silent heart attack adalah serangan jantung yang terjadi tanpa gejala khas seperti nyeri dada hebat. Banyak penderita hanya merasakan:
- Kelelahan berlebihan
- Sesak ringan
- Nyeri punggung atau rahang
- Mual
- Gangguan pencernaan
Karena gejalanya samar, banyak orang tidak menyadari, mereka pernah mengalami serangan jantung hingga ditemukan melalui pemeriksaan EKG.
Baca juga: Cara Membedakan Sesak Napas Gejala Serangan Jantung dan Gerd, Biar Nggak Bingung Walaupun Mirip!
Mengapa Serangan Jantung Bisa Memengaruhi Otak?
Peneliti menjelaskan, penderita silent heart attack cenderung memiliki penyakit pembuluh darah kecil yang lebih banyak. Kondisi ini meningkatkan risiko stroke kecil tanpa gejala atau subclinical cerebral infarcts.
Stroke kecil tersebut dapat terjadi tanpa disadari, tetapi perlahan merusak jaringan otak dan mempercepat penurunan daya ingat maupun fungsi berpikir.
EKG Bisa Jadi Alat Skrining Murah
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya pemeriksaan EKG sebagai metode sederhana dan murah, untuk mendeteksi risiko penurunan fungsi kognitif di masa depan.
EKG dapat menemukan pola gelombang jantung abnormal, yang menandakan seseorang pernah mengalami serangan jantung meskipun tidak pernah terdiagnosis sebelumnya.
Para peneliti menilai, kombinasi riwayat kesehatan dan pemeriksaan EKG berpotensi menjadi strategi efektif untuk mengidentifikasi individu dengan risiko tinggi mengalami gangguan kognitif.
Cara Menjaga Kesehatan Jantung dan Otak
Para ahli menekankan, menjaga kesehatan pembuluh darah dapat membantu menurunkan risiko penurunan fungsi otak dan demensia di kemudian hari.
Beberapa langkah yang dianjurkan antara lain:
- Rutin berolahraga
- Mengonsumsi makanan rendah lemak jenuh dan garam
- Menghindari rokok dan alkohol
- Menjaga tekanan darah, gula darah, dan kolesterol tetap normal
- Menjaga berat badan ideal
- Tidur cukup dan berkualitas
Kesadaran Dini Sangat Penting
Temuan ini memperkuat bukti, kesehatan jantung dan otak saling berkaitan erat. Bahkan, serangan jantung yang tidak disadari sekalipun dapat meninggalkan dampak jangka panjang pada fungsi otak.
Oleh karena itu, mengenali faktor risiko penyakit jantung, melakukan pemeriksaan rutin, dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi langkah penting.
Hal ini untuk melindungi kesehatan tubuh secara menyeluruh, termasuk menjaga kemampuan kognitif tetap optimal seiring bertambahnya usia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today