INDOZONE.ID - Dunia orthopedi perkembangannya sangat luas, dengan banyaknya pilihan teknologi highend. Jika dulu pasien sering terpaksa berobat ke negara tetangga, kini di Indonesia sudah banyak rumah sakit yang menggunakan robot untuk operasi masalah tulang, otot, dan jaringan ikat tubuh.
Founder Siloam Hospitals Mampang, Prof. Dr. dr. Andri M. T. Lubis, Sp.OT, Subsp.CO(K) menjelaskan, di dunia orthopedi ternyata bukan hanya soal sekadar patah tulang. Tetapi bagaimana dokter membantu pasien, supaya mereka bisa menikmati kegiatan yang sepertinya sempat hilang.
“Karena mungkin tadi lihat cedera akibat misalkan melakukan kegiatan olahraga. Tidak perlu atlet profesional, tapi orang yang melakukan kegiatan rekreasional sport pun bisa mengalami cedera,” ujarnya dalam acara Siloam Orthovolution 2026 di Park Hyatt Jakarta, Sabtu 6 Juni 2026.
Prof Andri menambahkan, dengan banyaknya penduduk usia muda di Indonesia, tak sedikit orang mengalami cedera olahraga. Tapi untuk lansia, masalah orthopedi juga rentan dialami karena proses penuaan, yang membuat menjadi kesulitan untuk beraktivitas.
“Para orang tua kita itu kadang-kadang mengalami masalah degeneratif termasuk pada persediaannya. Misalkan lutut, panggul, bahkan sekarang shoulder. Dulu shoulder gak ada joint replacementnya di Indonesia, sekarang sudah ada,” paparnya.
Untuk meningkatkan kualitas hidup lansia, maka perlu penanganan yang baik jika mengalami masalah orthopedi. Sekarang ini di rumah sakit Indonesia juga fasilitasnya sangat mumpuni untuk surgery dengan robotik.
Baca juga: Kisah Dokter Operasi Pasien Kanker Dibantu Robot, Hasilnya?
Operasi Orthopedi dengan ERAS
Prof Andri menyebut bahwa dalam dunia orthopedi, keterlibatan teknologi sangat penting untuk meningkatkan presisi dan keamanan tindakan. Tentu manfaatnya bisa membantu pasien agar bisa kembali bergerak dan hidup lebih baik.
“Kita perlu mengembalikan mereka mendapatkan quality of life yang baik. Jadi, bukan hanya life saving surgery, tetapi quality of life pada para pasien itu harus kita dapatkan,” imbuhnya.
Ia memperkenalkan Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) untuk Total Knee Replacement, suatu jalur perawatan yang dirancang meminimalisir pembedahan, komplikasi, serta mempercepat rehabilitasi pasien. Ada banyak fase yang harus dihadapi pasien mencakup praoperatif (sebelum operasi), intraoperatif (selama operasi), dan pascaoperatif (setelah operasi).
“Kita mencegah nyeri otot saat operasi supaya tidak terjadi terlalu hebat. Begitu pula penanganan nyeri sesudah operasi. Di dalam kamar operasi, kami harus bekerja sama dengan ahli anestesi yang baik untuk melakukan blok,” terangnya.
Baca juga: Operasi Bibir Sumbing Gratis di Bekasi, Hampir 700 Pasien Ditangani Sejak 2014
Keberhasilan Pasien saat Melakukan ERAS
Bagi pasien dengan gangguan sendi lutut, keberhasilan layanan orthopaedi tidak hanya diukur dari tindakan medis yang dilakukan, tetapi juga dari kemampuan untuk kembali berjalan, bergerak, bekerja, beribadah, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.
Hal ini dirasakan oleh Iskandar Abubakar, salah satu pasien Total Knee Replacement (TKR) di Siloam Hospitals Mampang, yang sebelumnya mengalami keterbatasan gerak akibat keluhan pada lututnya. Iskandar mengungkapkan bahwa keputusan untuk menjalani tindakan TKR bukan keputusan yang mudah.
“Sebelum kami melakukan operasi ini kami survei dulu ke banyak rumah sakit di Indonesia dan luar negeri. Lihat dulu siapa dokternya, apa alatnya. Saya sangat bersyukur akhirnya memutuskan untuk operasi di rumah sakit ini,” kata Iskandar.
Berdasarkan pengalaman sebelumnya, Iskandar pernah juga total knee replacement dengan cara manual di 2022. Ia merasa prosesnyw lebih beda dan masa penyembuhan juga memakan waktu yang lama.
“Kalau dengan cara manual itu ya memang penyembuhannya agak lebih lama, lukanya lebih lebar. Saya kira sakitnya pada saat di operasi dan setelahnya total knee replacement secara robotik perbandingannya jauh,” bebernya.
Ia sangat senang melihat rumah sakit di Indonesia sudah banyak kemajuan dengan teknologi terbaru. Daripada harus ke luar negeri seperti Penang dan Kucing, Malaysia, yang membuat dirinya tidak bisa melakukan rutinitas lainnya.
“Kami pernah jalan ke luar negeri, melihat di Penang dan Kucing berdasarkan rekomendasi teman. Saya melihat dia, kok jalannya lambat banget, artinya tidak terlalu sempurna. Kemudian pilihan kita jatuh pada rumah sakit di Indonesia dan prosesnya lebih cepat,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan