Ilustrasi pengecekan penyakit radiasi. (Freepik)
INDOZONE.ID - Penyakit radiasi merupakan kondisi serius, yang bisa menyerang ketika tubuh terpapar radiasi dalam intensitas tinggi dalam waktu singkat.
Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal sebagai acute radiation sickness (ARS) atau sindrom radiasi akut.
Tingkat keparahan penyakit bergantung pada jumlah radiasi yang diserap tubuh. Kondisi itu dikenal sebagai absorbed dose atau dosis serap.
Meski sering dikaitkan dengan bencana nuklir, penyakit radiasi tergolong langka. Pemeriksaan medis yang menggunakan radiasi dosis rendah, seperti rontgen (X-ray), CT scan, dan pemindaian kedokteran nuklir, tidak menyebabkan penyakit radiasi.
Kasus penyakit radiasi paling terkenal terjadi setelah pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, pada Perang Dunia II.
Setelah itu, sebagian besar kasus muncul akibat kecelakaan industri nuklir, termasuk insiden reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986.
Baca juga: Radiasi di Sekitar Kita: Berbahaya atau Aman? Ini Kata Kemenkes
Dikutip dari Mayo Clinic, radiasi merupakan energi yang dilepaskan atom dalam bentuk gelombang atau partikel kecil. Ketika seseorang terpapar radiasi berenergi tinggi dalam jumlah besar, radiasi tersebut dapat merusak atau menghancurkan sel-sel tubuh.
Bagian tubuh yang paling rentan terhadap kerusakan akibat radiasi adalah:
Kerusakan pada jaringan-jaringan tersebut dapat menyebabkan berbagai gejala yang berpotensi mengancam jiwa.
Tingkat keparahan gejala sangat bergantung pada jumlah radiasi yang diserap tubuh. Faktor lain yang memengaruhi antara lain, kekuatan sumber radiasi, lama paparan, jarak dari sumber radiasi, serta apakah paparan terjadi pada seluruh tubuh atau hanya sebagian tubuh.
Gejala pertama yang biasanya muncul pada kasus penyakit radiasi yang masih dapat ditangani adalah:
Waktu munculnya mual dan muntah setelah paparan, sering digunakan sebagai petunjuk untuk memperkirakan jumlah radiasi yang diterima. Semakin cepat gejala muncul, semakin tinggi dosis radiasi yang kemungkinan diserap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic