Jumat, 03 JULI 2026 • 16:35 WIB

Obsesi untuk "Sempurna" Bisa Picu Sakit Kepala yang Datang dan Pergi

Author

Ilustrasi sakit kepala. (Freepik)

INDOZONE.ID - Selama ini, banyak orang meyakini bahwa sakit kepala hanya disebabkan oleh kurang tidur, dehidrasi, atau kelelahan akibat pekerjaan yang menumpuk. 

Padahal, ada satu ‘tersangka’ yang jarang disadari, dan menariknya, penyebab ini justru sering menyamar sebagai sifat yang terkesan positif: kebiasaan untuk selalu mengendalikan segala sesuatu secara penuh.

Terlihat rapi, disiplin, dan serba terencana memang kedengarannya seperti nilai plus yang patut dibanggakan. 

Namun tanpa disadari, kebiasaan inilah yang bisa menjadi alasan mengapa kepala tiba-tiba berdenyut di tengah hari yang sebenarnya berjalan biasa saja, tanpa ada masalah besar yang terjadi.

Baca juga: Perut Sering Mulas Ketika Berada di Situasi Tegang? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenalan Dulu Sama "Sakit Kepala Tegang"

Jenis sakit kepala yang muncul akibat stres ini secara medis disebut sakit kepala tegang atau tension-type headache (TTH). 

Kondisi ini berbeda dari migrain karena umumnya muncul di bagian belakang kepala dengan sensasi seperti dicengkeram atau diikat kencang, tanpa disertai mual maupun sensitivitas terhadap cahaya.

Jangan anggap remeh, sebab berdasarkan penelitian, TTH justru merupakan jenis nyeri kepala paling umum di dunia. 

Menurut temuan riset yang dipublikasikan, sekitar 30 hingga 78 persen populasi pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam hidup, dengan puncak prevalensi terjadi pada rentang usia 20 hingga 40 tahun.

Baca juga: Sering Sakit Punggung Bawah? Bisa Jadi Amarah yang Selama Ini Kamu Pendam Penyebabnya!

Lalu, kenapa stres bisa jadi salah satu pemicu utamanya? Saat tubuh berada dalam kondisi tertekan, terjadi peningkatan sensitivitas terhadap nyeri sekaligus aktivasi otot-otot di sekitar kepala, termasuk otot temporalis, yang kemudian memicu sekaligus memperparah gejala TTH. 

Dalam jurnal yang membahas hubungan tingkat stres dengan risiko TTH, ditemukan bahwa tingkat stres yang tinggi berhubungan positif secara signifikan dengan kemunculan kondisi ini.

Kok Bisa Suka Ngatur Segalanya Malah Bikin Stres?

Orang dengan kecenderungan perfeksionis biasanya kelihatan produktif dan rapi dari luar, padahal di dalam kepala terus bekerja keras menyusun rencana serapi mungkin dan mengantisipasi segala kemungkinan. 

Begitu ada satu hal yang meleset dari rencana, tekanan mental langsung muncul dan menumpuk pelan-pelan tanpa disadari. Perlu digarisbawahi, sebenarnya nggak semua perfeksionisme itu buruk. 

Baca juga: 7 Manfaat Luar Biasa Ikan Toman untuk Kesehatan Tubuh

Menurut teori yang dikemukakan Hamachek, perfeksionisme punya dua sisi: yang normal atau adaptif justru bisa mendorong seseorang berprestasi dan berkembang. 

Sementara itu yang neurotik atau maladaptif muncul ketika standar yang ditetapkan terlalu tinggi dan nggak realistis, sehingga dorongan itu berubah jadi tekanan internal yang merusak keseimbangan mental.

Nah, jenis perfeksionisme yang kedua inilah yang paling sering jadi biang keladi stres berkepanjangan. 

Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Counseling Care, perfeksionisme terbukti berpengaruh langsung dan signifikan terhadap burnout, dengan stres berperan sebagai penghubung di antara keduanya. 

Baca juga: 7 Manfaat Biji Nangka untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui

Temuan ini sejalan dengan hasil riset lain dalam JIVA (Journal of Behaviour) and Mental Health, yang mengkonfirmasi adanya hubungan sangat signifikan antara tingkat perfeksionisme dan stres pada mahasiswa. 

Jadi, garis besarnya begini: ingin sesuatu berjalan baik itu wajar, tapi ketika standar yang dikejar udah nggak masuk akal dan bikin kamu terus-menerus cemas kalau ada yang meleset, di situlah titik di mana kebiasaan "rajin ngatur" berubah jadi sumber stres yang diam-diam menggerogoti kesehatan mental dan fisik.

Banyak yang percaya semua masalah bisa diatasi asal dipikirkan matang-matang. Padahal, banyak hal dalam hidup yang memang di luar kendali kita. 

Makin dipaksa dikendalikan, semakin besar juga tekanan yang muncul, dan itu hanya menambah beban baru, bukan solusi.

Baca juga: 7 Penyakit yang Menyerang Sistem Gerak yang Perlu Diwaspadai

Melepas Kendali Ternyata Ada Dasar Ilmiahnya

Solusinya bukan sekadar saran "santai aja". Program meditasi berbasis kesadaran penuh atau biasa disebut mindfulness terbukti mampu menurunkan stres, kecemasan, dan kelelahan pada tenaga medis di ruang gawat darurat dibanding kelompok yang tidak menjalaninya. 

Kalau metode ini ampuh bagi para tenaga medis yang selalu bekerja penuh tekanan, maka tentu bisa juga diterapkan buat tekanan sehari-hari kita.

Langkah Kecil Buat Mulai Melepas Kendali

  • Sadari bahwa tidak semua hal wajib sesuai rencana: biarkan sesuatu mengalir apa adanya sesekali.
  • Fokus pada sesuatu yang bisa diubah saja: lepaskan energi dari hal yang di luar jangkauanmu.

Baca juga: 7 Manfaat Ikan Belida untuk Kesehatan yang Sayang Dilewatkan

  • Praktek mindfulness secara rutin: meski cuma beberapa menit sehari.
  • Jangan remehkan sinyal tubuh: sakit kepala berulang bisa jadi cara tubuh bilang kapasitasmu udah hampir penuh.

Jadi, lain kali kepala berdenyut tanpa sebab jelas, coba tanya ke diri sendiri: jangan-jangan ini bukan soal fisik, tapi soal seberapa keras kamu berusaha mengendalikan hal yang sebenarnya nggak perlu dikendalikan. 

Melepas kendali sedikit demi sedikit bukan tanda kalah, justru langkah paling cerdas biar pikiran tetap tenang dan kepala tetap adem.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU