INDOZONE.ID – Ikatan ayah dan anak ternyata enggak cuma dibentuk oleh kedekatan emosional. Tapi, juga dipengaruhi oleh perubahan biologis di dalam tubuh.
Sebuah penelitian terbaru dari University of Michigan menemukan, kadar hormon testosteron pada ayah cenderung menurun, ketika melihat bayi mereka yang berusia sekitar 12 bulan mengalami kesulitan atau menangis.
Menariknya, perubahan hormon tersebut tidak terjadi saat para ayah mengajarkan bayi mereka melakukan tugas sederhana. Misal, bermain menggunakan mainan edukatif.
Temuan ini menunjukkan, respons hormonal seorang ayah lebih dipengaruhi oleh situasi yang melibatkan kebutuhan emosional anak, dibandingkan aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Jangan Abaikan! Ini Tanda Hormon Tidak Seimbang pada Wanita
Testosteron Turun Saat Bayi Alami Distres
Dalam penelitian yang dikutip dari Medical Daily, para peneliti ingin memahami apakah hormon testosteron berperan dalam membentuk perilaku pengasuhan seorang ayah.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti yang dipimpin Profesor Psikologi Dr. Brenda Volling, melibatkan 175 pria yang pasangannya sedang mengandung anak kedua.
Selama penelitian, kadar testosteron para peserta diukur melalui sampel air liur yang diambil pada beberapa tahapan pengujian.
Pada tahap pertama, bayi dipisahkan sementara dari ayahnya. Selama proses tersebut, para ayah dapat melihat bayi mereka menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau menangis. Hasilnya, kadar testosteron sebagian besar ayah mengalami penurunan.
Sebaliknya, ketika para ayah diminta mengajarkan bayi mereka memainkan berbagai mainan sederhana, kadar testosteron mereka relatif tetap dan tidak mengalami perubahan berarti.
Menurut para peneliti, penurunan hormon tersebut kemungkinan merupakan respons biologis yang membantu ayah menjadi lebih peka terhadap kebutuhan emosional anaknya.
Sensitivitas Ayah Tidak Hanya Dipengaruhi Hormon
Meski testosteron berperan dalam membentuk respons pengasuhan, penelitian ini menunjukkan, hormon bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kualitas hubungan ayah dan anak.
Peneliti menemukan, ayah yang memiliki hubungan harmonis dengan pasangan, cenderung menunjukkan pola pengasuhan yang lebih hangat dan responsif.
Selain itu, tingkat empati alami yang dimiliki seorang ayah juga berpengaruh terhadap cara mereka merespons kebutuhan anak.
Faktor lain yang menarik perhatian adalah, jenis kelamin anak. Dalam penelitian ini, para ayah terlihat lebih sensitif dan lembut ketika berinteraksi dengan anak perempuan dibandingkan anak laki-laki.
Para peneliti menduga, perbedaan tersebut terjadi secara tidak sadar karena dipengaruhi norma sosial dan pola perilaku yang telah terbentuk sejak lama.
Akibatnya, banyak ayah mungkin tidak menyadari, mereka memperlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan cara yang berbeda.
Peran Ayah dalam Pengasuhan Semakin Besar
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Data Biro Sensus Amerika Serikat (U.S. Census Bureau) menunjukkan, jumlah ayah yang menjadi pengasuh utama terus meningkat. Pada 2011, sekitar satu dari lima ayah yang memiliki anak usia prasekolah menjadi pengasuh utama di rumah.
Baca juga: Pria Wajib Tahu! Ini Hasil Studi Terbaru tentang Manfaat dan Risiko Terapi Testosteron
Selain itu, hampir 32 persen ayah secara rutin merawat anak berusia 15 tahun ke bawah, meningkat dibandingkan 26 persen pada 2002.
Perubahan tersebut menunjukkan, peran ayah dalam keluarga semakin berkembang, tidak lagi terbatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi sosok yang aktif terlibat dalam perkembangan emosional dan sosial anak.
Otak Ayah Juga Bereaksi Saat Bayi Menangis
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan, otak seorang ayah memberikan respons yang lebih kuat ketika mendengar bayinya menangis dibandingkan saat mendengar bayi tertawa.
Sebaliknya, pada orang dewasa yang belum memiliki anak, respons otak justru lebih besar ketika mendengar suara tawa bayi.
Perbedaan ini mengindikasikan, menjadi orang tua memicu perubahan biologis dan psikologis yang membantu seseorang lebih peka terhadap kebutuhan anak.
Para peneliti menduga perubahan hormon testosteron merupakan salah satu bagian dari proses adaptasi tersebut.
Hormon Bukan Satu-satunya Penentu Menjadi Ayah yang Baik
Meski penelitian menemukan adanya hubungan antara perubahan testosteron dan sensitivitas ayah, para peneliti menegaskan, menjadi ayah yang hangat dan penuh perhatian tidak ditentukan oleh hormon semata.
Kasih sayang terhadap pasangan, kemampuan berempati, pengalaman mengasuh, serta kualitas hubungan dalam keluarga juga memainkan peran penting dalam membentuk pola pengasuhan yang positif.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa keterlibatan ayah dalam tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh perpaduan antara faktor biologis, psikologis, dan sosial.
Dengan kata lain, meskipun ayah dan ibu memiliki cara yang berbeda dalam mengasuh anak, keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan emosional, sosial, dan psikologis buah hati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily