INDOZONE.ID - Selama ini banyak orang yang masih menganggap bahwa tubuh kurus adalah standar kesehatan yang mutlak. Banyak orang merasa aman dari ancaman kolesterol dan penyakit jantung hanya karena angka timbangan yang ideal.
Faktanya, sebuah studi diabetes pada populasi Asia yang dikutip dalam jurnal internasional Metabolism pada 2016, menunjukkan bahwa orang dewasa Asia dengan tubuh langsing lima kali lebih besar berpeluang dibanding mereka yang obesitas.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa berat badan maupun penampilan fisik tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran kesehatan metabolik.
Pemeriksaan profil lipid secara rutin tetap diperlukan untuk mengetahui kadar kolesterol dan mendeteksi risiko kardiovaskular sejak dini.
Baca juga: Fungsi Ginjal pada Tubuh Manusia dan Cara Menjaga Kesehatannya
“Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat. Seseorang dapat memiliki indeks massa tubuh atau BMI yang normal, tetapi menyimpan lemak visceral berlebih di sekitar organ tubuh. Kondisi ini sering disebut sebagai obesitas pada berat badan normal,” ujar Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Susetyo Atmojo dalam sesi edukasi media “Meningkatkan Kesadaran Masyarakat terhadap Penyakit Kardiovaskular” di Jakarta, pada Kamis (23/7/2026).
Dokter Susetyo menegaskan bahwa kadar kolesterol jahat (LDL) yang tinggi pada orang kurus adalah ancaman serius yang tampak tenang di luar, namun bisa meledak di masa mendatang.
Bahkan, kelompok tersebut memiliki risiko dua hingga tiga kali lipat terkena serangan jantung atau stroke di kemudian hari dibandingkan mereka yang kurus dengan kolesterol normal.
”Orang yang kurus dengan kadar kolesterol jahatnya tinggi, itu dua sampai tiga kali mengalami risiko penyakit jantung dan pembuluh darah dibandingkan orang yang kurus dengan kadar kolesterol jahat yang rendah,” jelasnya.
Baca juga: Luar Biasa! Kakek Ini Jadi Peserta Tertua yang Berhasil Finish Triathlon dengan Kaki Prostetik
Dokter Setyo menjelaskan empat alasan utama mengapa kolesterol tinggi tetap bisa menyerang seseorang yang bertubuh ramping, yakni sebagai berikut:
- Faktor Genetik (Keturunan): Terdapat kondisi medis bernama Familial hypercholesterolemia (FH) atau kelainan genetik yang membuat tubuh tidak mampu membuang kolesterol jahat secara efektif. Karena faktor genetik, tubuh seseorang tidak mampu memecah kolesterol dengan normal.
- Cara Mengolah Makanan: Berat badan dipengaruhi oleh porsi, namun kolesterol dipengaruhi oleh cara masak. Seseorang bisa tetap kurus karena makannya sedikit, tapi jika pengolahannya selalu digoreng atau terpapar minyak berlebih, kadar kolesterol darahnya tetap akan melonjak.
- Gaya Hidup Kurang Gerak (Sedentary Lifestyle): Banyak yang rajin berpuasa atau diet ketat sehingga tetap kurus, namun jarang melakukan aktivitas fisik, kurang gerak mengakibatkan pembakaran kolesterol jahat di tubuh menjadi sangat minimal.
- Obesitas Sentral (Lemak Perut): Ini sering kali menipu. Seseorang terlihat kurus di bagian lengan dan kaki, namun lingkar pinggangnya melebihi batas normal (lebih dari 90 cm untuk pria Asia dan 80 cm untuk wanita). Penumpukan lemak visceral di perut ini adalah jenis lemak paling jahat lantaran memicu peradangan dan merusak metabolisme kolesterol.
- Berat badan ideal hanyalah satu faktor kecil dalam kesehatan secara menyeluruh. Kunci utamanya adalah menjaga kadar kolesterol LDL tetap sesuai rekomendasi medis.
Baca juga: Kenapa Tiba-tiba Mimisan? Jangan Panik, Kenali Penyebabnya
Dokter Sasetyo menyarankan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan profil lipid (cek darah) secara rutin sebagai satu-satunya cara akurat untuk mendeteksi ancaman di balik tubuh kurus.
"Jangan mengelabui diri sendiri dengan tampilan luar. Kurus saja tidak cukup, kurus harus disertai kadar kolesterol yang sehat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan