INDOZONE.ID - Tidak bisa dipungkiri penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence kini semakin dekat dengan kehidupan anak.
Tidak sedikit pula pelajar yang memanfaatkan Ai untuk berbagai kegiatan pembelajaran sekolah seperti mencari jawaban, mengerjakan pekerjaan rumah atau PR, hingga memahami materi sekolah.
Teknologi ini memang dapat membantu proses belajar, tetapi penggunaannya tetap perlu didampingi agar anak tidak sekadar menyalin jawaban tanpa memahami prosesnya.
Kali ini Tim IHDC memberikan cara agar anak tetap menjaga kemapuan berpikirnya di era ai ini.
“Yang pertama, tidak boleh dibatasi. Kalau dibatasi, itu pasti akan menekan anak. Jadi hal yang harus dilakukan adalah pengawasan guru dan orang tua,” ujar Ray Wagiu Basrowi selaku direktur eksekutif IHDC dalam temu pers di jakarta selatan (23/7/26)
Oleh karena itu, orang tua dan guru perlu mengarahkan anak agar menggunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai sumber jawaban utama.
Baca juga: Waspadai Gejala GERD pada Anak yang Sering Luput dari Perhatian Orangtua
Langkah selanjutnya adalah kamu bisa minta anak untuk membaca kembali hasil yang diberikan AI, lalu membandingkannya dengan buku, serta menjelaskan jawabannya menggunakan bahasa sendiri.
Cara tersebut dapat membantu mereka tetap berlatih menganalisis informasi dan membangun kemampuan berpikir kritis.
Selain pendampingan, durasi penggunaan gawai juga perlu diperhatikan.
Ray menyebut jumlah screen time dapat diatur agar anak tetap memiliki waktu untuk belajar langsung, berinteraksi dengan teman, dan melakukan aktivitas fisik.
Pendekatan antar teman atau peer-to-peer counseling juga dinilai penting.
“Kalau anak dan anak saling ngobrol gitu ya, jadinya mereka jarang main handphone gitu dan ketergantungan terhadap gadget juga akan turun. Nah kalo udah kaya gini kurangnya kemampuan berpikir akan menuruh bahkan hilang,” jelasnya.
Selain itu, ketika anak bergantungan dengan ai juga berisiko akan selalu self-diagnosis.
Menurut Ray, hasil diagnosis mandiri melalui AI berpotensi besar tidak akurat.
Baca juga: Psikolog Ungkap Alasan Anak di Bawah 16 Tahun Belum Siap Punya Akun Media Sosial
Oleh sebab itu, peran orang tua dan guru sangat penting dalam kasus tergantungan AI ini.
Dengan pengawasan yang tepat, AI tetap dapat dimanfaatkan tanpa menghilangkan kemandirian anak.
Teknologi seharusnya membantu mereka berpikir lebih luas, bukan menggantikan proses berpikir itu sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan