Ilustrasi pekerja Gen Z (Freepik)
INDOZONE.ID - Gen Z, generasi yang lahir antara 1997 sampai 2012, sekarang makin banyak meramaikan dunia kerja.
Mereka ini lahir di tengah internet, tumbuh dengan smartphone, dan masuk dunia kerja pas pandemi bikin semua serba online.
Nggak heran kalau cara kerja dan ekspektasi mereka agak beda dengan generasi sebelumnya.
Masalahnya, banyak manajer masih bingung gimana caranya menghadapi anak-anak Gen Z ini.
Ada yang bilang mereka kurang komunikasi, kurang etika kerja, bahkan ada survei yang nunjukin 40 persen manajer lebih milih pakai AI ketimbang rekrut Gen Z.
Baca juga: 7 Tanda Gebetanmu Siap Melangkah ke Hubungan Serius, Apa Saja?
Tapi kenyataannya, banyak juga pemimpin yang jujur aja: mereka nggak ngerti apa sih yang sebenernya dibutuhin generasi ini.
Padahal, di tahun 2030 nanti, Gen Z bakal jadi 30 persen tenaga kerja global. Jadi, mau nggak mau, pemimpin harus belajar cara ngatur mereka kalau nggak mau ketinggalan.
Baca juga: 7 Puisi Singkat tentang Awan Hitam, Penuh Makna dan Bikin Baper
Jangan cuma kasih perintah, tapi juga jelasin alasannya. Mereka lebih gampang percaya kalau tahu “kenapa” di balik sebuah keputusan.
Gen Z nggak suka abu-abu. Kalau target, deadline, atau peran mereka jelas, kerja mereka juga lebih terarah.
Baca juga: 17 Caption Singkat tentang Awan Hitam, Biar Postinganmu Jadi Estetik dan Bikin Baper
Bukan sekadar kasih handbook, tapi ajak mereka bener-bener paham budaya kerja. Mentoring atau buddy system bisa banget ngebantu.
Gen Z ambisius. Kalau mereka tahu langkah apa aja yang harus dilewati buat naik level, motivasinya bisa lebih kuat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Franklincovey.com