Ilustrasi pasangan diam-diaman (Pexels/Vera Arsic)
INDOZONE.ID - Tak sedikit orang yang diam-diam menyalahkan diri sendiri karena tak juga mampu meninggalkan sosok yang jelas-jelas menyakitkan. Dari luar, keputusan itu sering dianggap mudah. “Tinggal blokir,” atau “harusnya dari dulu pergi,” terdengar ringan padahal kenyataannya jauh lebih rumit.
Bagi mereka yang terjebak dalam hubungan toxic atau narsistik, menjauh bukan sekadar soal menekan tombol blokir. Ini adalah proses emosional yang menguras tenaga, pikiran, dan perasaan. Jika kamu merasa langkah ini terasa terlalu berat, itu bukan karena kamu lemah melainkan karena otak dan tubuhmu sedang terikat pada pola yang tidak sehat.
Hubungan yang sehat tumbuh dari rasa aman, konsistensi, dan saling menghargai. Meski ada konflik, tidak ada rasa takut atau manipulasi yang mengancam kestabilan emosi. Sistem saraf pun belajar bahwa hubungan seperti ini bisa dipercaya.
Berbeda dengan hubungan toxic. Di sini, perhatian dan kasih sayang sering datang berdampingan dengan kritik, sikap dingin, atau luka emosional. Campuran antara manis dan sakit inilah yang menciptakan trauma bond, ikatan emosional yang lahir dari bertahan hidup, bukan kebahagiaan.
Baca juga: 7 Tanda Kamu Berada dalam Hubungan Toxic dan Harus Segera Move On
Harapan terus hidup karena sesekali muncul versi “baik” dari orang tersebut. Kamu bertahan bukan karena hubungan itu sehat, melainkan karena berharap momen manis itu akan kembali dan menetap.
Otak manusia cenderung memilih sesuatu yang familiar, meski itu melukai. Hubungan toxic memiliki pola berulang: konflik, sakit hati, lalu diikuti perhatian atau janji perubahan. Pola ini terasa “dikenal” oleh otak, sementara ketenangan justru terasa asing.
Ketika konflik mereda, tubuh melepaskan rasa lega yang mirip dengan kelegaan setelah stres panjang. Inilah yang membuat hubungan tersebut terasa adiktif. Maka, saat kamu mulai menjauh, tubuh bereaksi seperti kehilangan, gelisah, cemas, sedih, bahkan panik.
Penting untuk diingat: rasa tidak nyaman setelah tidak berkomunikasi bukan tanda kamu salah pergi. Justru itu sinyal bahwa ikatan tersebut memang tidak sehat dan sedang dilepaskan.
Ilustrasi komunikasi dengan pasangan agar hubungan awet (Freepik).
Bertahan sering terasa lebih ringan karena tidak menuntut perubahan besar. Pergi berarti menghadapi kehilangan, merelakan harapan, dan membangun ulang diri di ruang yang sunyi serta asing.
Tidak lagi berkomunikasi juga membawa proses berduka, bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga mimpi, versi diri yang terus berusaha, serta waktu dan emosi yang sudah diberikan. Rasa kehilangan ini nyata dan sepenuhnya valid.
Baca juga: Pasangan Tiba-Tiba Diam? Ini Cara Mengatasinya dengan Dewasa dan Sehat
Setiap orang memiliki kapasitas dan kondisi yang berbeda. Ada yang perlu memutus kontak sepenuhnya, ada pula yang harus mengurangi interaksi secara perlahan. Tidak ada cara yang paling benar, yang terpenting adalah menjaga keselamatan emosionalmu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com