Ilsutarsi berdamai dengan diri sendiri (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah merasa tahu mana yang benar, tapi tetap tergoda melakukan hal sebaliknya? Menunda shalat, mudah emosi, atau larut dalam kebiasaan yang sebenarnya melelahkan batin. Dalam Islam, kondisi ini erat kaitannya dengan hawa nafsu, sisi diri yang kerap mendorong manusia mengejar kepuasan sesaat.
Mengendalikan hawa nafsu bukan perkara instan. Ini bukan soal siapa paling kuat menahan diri, tapi siapa yang mau terus melatih jiwanya. Prosesnya panjang, tetapi hasilnya membuat hidup jauh lebih tenang.
Nafs bisa dibilang sebagai “dorongan internal” yang membuat manusia ingin serba cepat puas. Jika tidak diarahkan, hawa nafsu mudah membawa seseorang pada kelalaian, amarah, dan keputusan impulsif.
Dalam ajaran Islam, nafs berkembang dalam tiga fase utama:
Mengendalikan hawa nafsu berarti “naik kelas”: dari hidup yang dikendalikan keinginan, menuju jiwa yang stabil dan damai.
Baca juga: Sulit Menahan Diri? Begini Cara Mengatasi Perilaku Impulsif secara Perlahan
Islam menyebut perjuangan melawan hawa nafsu sebagai jihad paling berat, karena medan perangnya ada di dalam diri sendiri. Tidak terlihat, tidak ada garis akhir, dan berlangsung setiap hari.
Musuhnya bukan orang lain, melainkan ego, emosi, dan keinginan diri sendiri. Justru karena itu, perjuangan ini memiliki nilai besar dan berdampak langsung pada kualitas hidup seseorang.
Mengontrol hawa nafsu bukan teori kosong. Beberapa langkah praktis yang bisa mulai diterapkan:
Dalam Islam, pengendalian hawa nafsu tidak lepas dari tazkiyah, yaitu proses penyucian jiwa. Proses ini mengganti sifat merusak seperti iri, sombong, dan rakus dengan karakter positif seperti sabar, rendah hati, dan syukur.
Tazkiyah membantu seseorang berpindah dari hidup yang selalu merasa kurang menjadi pribadi yang lebih lapang dan terarah.
Baca juga: Doa Perlindungan dari Hawa Nafsu yang Jelek Beserta Maknanya
Ketika hawa nafsu tidak lagi memegang kendali penuh, dampaknya terasa jelas:
Mengendalikan hawa nafsu memang bukan perjalanan singkat. Akan ada jatuh, gagal, dan tergoda. Tapi Islam tidak menuntut kesempurnaan yang penting adalah kemauan untuk terus kembali dan memperbaiki diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Sakeenaacademy.com