Ilustrasi pembatasan sosial media pada anak. (Sumber: Freepik)
INDOZONE.ID - Di Australia, perdebatan mengenai pelarangan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun memicu diskusi luas di kalangan akademisi dan praktisi kesehatan mental. Isu ini ternyata juga disorot oleh banyak pakar di Indonesia.
Profesor Psikologi dari University of New South Wales, Jillian Griffiths, menyampaikan bahwa pelarangan total penggunaan media sosial tanpa strategi pendampingan dapat memperburuk rasa isolasi sosial pada remaja. Sebab, media sosial bisa menjadi ruang tumbuh anak jika digunakan dengan benar.
“Bagi sebagian anak, media sosial adalah ruang untuk mencari dukungan sebaya, terutama ketika mereka tidak mendapatkannya di lingkungan offline. Kebijakan yang memutus akses secara tiba-tiba berisiko meningkatkan kecemasan dan rasa terasing,” ujarnya, dilansir dari ohchr.org.
Baca juga: 5 Cara Jaga Kesehatan Mental saat Dibanjiri Berita Negatif di Media Sosial
Sejumlah penelitian di Australia menunjukkan bahwa pembatasan tanpa literasi digital dan dukungan psikososial bisa mendorong remaja membuat akun kedua yang lebih sulit diawasi. Situasi ini berpotensi meningkatkan risiko paparan konten ekstrem.
Para pakar di Indonesia pun sepakat dengan studi profesor asal Australia tersebut. Hal ini relevan karena Indonesia akan menerapkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Regulasi ini bertujuan memperkuat perlindungan anak dari paparan konten berbahaya, eksploitasi, serta penyalahgunaan data pribadi di ruang digital.
Psikologi Anak dan Remaja dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, mengatakan bahwa kesehatan mental anak dan remaja harus menjadi pertimbangan utama dalam implementasi PP TUNAS.
“Anak dan remaja berada pada fase perkembangan identitas. Ruang digital sering menjadi medium eksplorasi diri dan koneksi sosial. Regulasi perlu melindungi, tetapi juga tidak boleh menghilangkan ruang tumbuh tersebut,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (4/3/2026).
Baca juga: Sering Capek Mental Gara-Gara Media Sosial? Ini 5 Cara Tetap Waras Meski Aktif Online
Data global menunjukkan bahwa 1 dari 7 remaja mengalami gangguan kesehatan mental, dengan kecemasan dan depresi sebagai isu dominan.
Dalam konteks ini, ruang digital bisa menjadi faktor risiko jika tidak dikelola dengan baik, tetapi juga dapat mendukung pertumbuhan dan peningkatan daya saing digital jika dimanfaatkan untuk edukasi, membangun jejaring, dan akses ke profesional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara