Ilustrasi orang melakukan tindakan spontan (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernahkah kamu merasa menyesal sesaat setelah membeli barang yang tidak dibutuhkan? atau memutusukan sesuatu secara terburur-buru tanpa memikirkan dampaknya?
Kejadian tersebut merupakan tanda bahwa kendali diri kamu sedang melemah atau sebuah fenomena psikologis yang dikenal sebagai tindakan impulsif.
Nah jika membiarkan kebiasaan ini terus berlanjut, tentu dapat mengganggu produktivitas bahkan merusak hubungan personal kamu dengan orang sekitar.
Namun jangan khawatir, berikut penjelasan penyebab dan cara lengkap mengatasi perilaku impulsif yang bisa kamu pelajari.
Perilaku impulsif dapat dipicu oleh berbagai penyebab, baik dari dalam diri maupun pengaruh lingkungan sekitar.
Salah satu faktor utamanya adalah genetik, di mana riwayat gangguan mental seperti ADHD atau bipolar dalam keluarga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang bertindak impulsif.
Baca juga: Kenapa Kita Gampang Boros Pas Lagi Bahagia? Ini Penjelasan Otakmu!
Selin itu, fungsi otak yang tidak optimal, khususnya pada korteks prefrontal yang berperan dalam pengendalian diri dan pengambilan keputusan, juga membuat seseorang lebih mudah bertindak tanpa memikirkan konsekuensi.
Lebih dari itu, lingkungan yang penuh tekanan, stres berkepanjangan, atau pengalaman masa kecil seperti kekerasan dan pengabaian, juga dapat mendorong perilaku impulsif sebagai pelarian emosi.
Tak kalah penting, pengaruh zat seperti alkohol, narkotika, obat-obatan tertentu, serta trauma atau pengalaman buruk di masa lalu, dapat memperburuk perilaku impulsif ini karena memengaruhi cara otak merespons emosi dan stres.
Adapun beberapa cara mengatasi perilaku implusif yang bisa kamu coba secara sederhana adalah sebagai berikut.
Baca juga: 5 Perilaku Sepele yang Bisa Menghambat Rezekimu tapi Jarang Disadari
Itu dia beberapa tindakan impulsif secara perlahan lengkap dengan penyebab nya agar kamu bisa mengatasinya terlebih dahulu. Semangat ya!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today