Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa FHUI (X/@inidaffajuga)
INDOZONE.ID - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) dan terjadi di dalam grup obrolan kembali jadi pengingat bahwa kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik.
Kadang, bentuknya justru muncul dari hal yang dianggap sepele, seperti candaan di tongkrongan atau chat grup.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari perilaku ini masih dinormalisasi. Padahal, di baliknya ada masalah yang lebih besar, yakni rape culture.
Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan di KRL Libatkan Dosen Unpam, Begini Klarifikasi dan Fakta Terbarunya!
Dalam kasus ini, dugaan pelecehan terjadi lewat percakapan di grup chat. Biasanya, bentuknya bisa berupa:
Sering kali, pelaku atau bahkan anggota grup lain akan berdalih, “Ah, cuma bercanda.”
Padahal, tidak semua hal bisa dibungkus sebagai humor. Ketika candaan tersebut membuat orang lain tidak nyaman, merendahkan, atau melecehkan, itu bukan lagi sekadar lelucon melainkan bentuk pelecehan.
Rape culture adalah kondisi di mana kekerasan dan pelecehan seksual dianggap biasa, diremehkan, atau bahkan dijadikan bahan candaan oleh masyarakat.
Dalam budaya ini pelecehan sering dianggap hal lumrah, pelaku kerap dibela atau dimaafkan, korban justru disalahkan atau tidak dipercaya, dan batasan pribadi sering diabaikan.
Hal ini membuat lingkungan jadi tidak aman, terutama bagi perempuan.
Salah satu penyebab utamanya adalah cara pandang yang masih menganggap perempuan sebagai objek bukan individu yang harus dihormati sepenuhnya.
Sejak lama, perempuan di-sexualize sejak usia muda, dijadikan bahan candaan, dan dinilai dari tubuh atau penampilan.
Ditambah lagi, tekanan sosial membuat banyak orang takut menegur karena khawatir dianggap baper, ikut tertawa agar tidak dikucilkan, dan menganggap ini sebagai hal biasa dalam pergaulan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rapecrisis.org.uk, Inside.southernct.edu, Antara