Ilustrasi menjalani hubungan toxic. (freepik.com) (freepik)
INDOZONE.ID - Di era media sosial, istilah “toxic relationship” makin sering berseliweran. Sedikit-sedikit toxic, beda pendapat dikit dibilang red flag. Tapi faktanya, nggak semua hubungan toxic itu langsung terlihat ekstrem atau penuh kekerasan.
Banyak hubungan yang terlihat “biasa aja” di luar, tapi ternyata menyimpan pola yang nggak sehat.
Bahkan, hubungan seperti ini bisa terjadi bukan cuma sama pasangan, tapi juga teman, rekan kerja, sampai keluarga.
Yang bikin tricky, generasi sekarang cenderung pakai istilah “toxic” lebih luas — nggak cuma untuk hubungan yang abusif, tapi juga yang secara emosional melelahkan.
Baca juga: 5 Efek Hubungan Toxic yang Bisa Mengubah Kepribadianmu Tanpa Disadari
Perlu dipahami, setiap orang pasti pernah bersikap kurang sehat dalam hubungan. Tapi beda cerita kalau perilaku itu terus berulang, nggak diperbaiki, dan malah jadi pola.
Ada hubungan yang masih bisa diperbaiki kalau kedua pihak mau introspeksi. Tapi ada juga yang sudah masuk kategori toxic dan malah merusak mental.
Nah, biar kamu nggak salah menilai, ini dia 8 tanda hubungan toxic yang sering banget nggak disadari.
Baca juga: Kesabaran Guru Mengajar Murid Berkebutuhan Khusus di SLBN 1 Sumbawa Ini Banjir Pujian
Ini level paling serius. Bukan cuma soal fisik, tapi juga bisa berupa kata-kata yang menjatuhkan, ancaman, atau mempermalukan kamu terus-menerus.
Misalnya, pasangan sering merendahkan kamu di depan orang lain atau bikin kamu merasa takut untuk jadi diri sendiri. Kalau sudah sampai tahap ini, itu bukan sekadar “toxic” — itu sudah berbahaya dan perlu bantuan.
Nggak ada alasan untuk membenarkan ini!
Baca juga: Kesabaran Guru Mengajar Murid Berkebutuhan Khusus di SLBN 1 Sumbawa Ini Banjir Pujian
Dalam hubungan seperti ini, semuanya selalu tentang dia. Dia butuh dipuji terus, tapi nggak pernah benar-benar peduli sama perasaan kamu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychologytoday.com