Katharine Briggs bersama Ibu dan anaknya. (The New York Times)
INDOZONE.ID - Tes kepribadian Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) mungkin sudah sering kamu lihat di internet, dari kuis “kamu introvert atau extrovert?” sampai label 16 tipe kepribadian yang viral di media sosial. Tapi, di balik popularitasnya, ternyata sistem ini punya sejarah panjang, unik, bahkan cukup kontroversial.
Berawal dari ide dua perempuan visioner, sistem ini berkembang jauh lebih besar dari sekadar tes psikologi biasa. Yuk, simak lima fakta menarik di balik lahirnya Myers-Briggs!
Semua berawal dari ketertarikan Katharine Cook Briggs terhadap teori psikologi milik Carl Jung. Ia bahkan sampai menjadikan karya Jung sebagai “panduan hidup” dalam memahami manusia.
Dari sini, ia mulai mengembangkan cara mengelompokkan kepribadian berdasarkan cara orang berpikir dan berinteraksi. Konsep ini kemudian diwariskan dan dikembangkan lebih jauh oleh putrinya, Isabel Briggs Myers, hingga lahirlah sistem MBTI yang kita kenal sekarang.
Baca juga: Awalnya Cuma Eksperimen di Rumah, Kini Jadi Tes Kepribadian Paling Viral di Dunia!
Siapa sangka, tes kepribadian ini pernah “turun ke medan perang”. Saat Perang Dunia II, sistem ini sempat digunakan untuk membantu menempatkan orang pada posisi kerja yang dianggap paling cocok termasuk di lembaga intelijen Amerika.
Tujuannya sederhana: mencocokkan “bakat alami” seseorang dengan tugas rahasia yang mereka jalankan. Namun, pada praktiknya, hasil tes ini dianggap tidak cukup akurat untuk dunia spionase yang penuh tekanan dan situasi tak terduga.
Di era 1950-an, sebuah lembaga penelitian di Universitas California, Berkeley, pernah melakukan eksperimen sosial unik. Mereka mengundang para penulis, ilmuwan, hingga arsitek untuk tinggal bersama di satu rumah dan diamati perilakunya.
Salah satu nama yang ikut dalam eksperimen ini adalah penulis terkenal Truman Capote. Ia bahkan menjalani berbagai tes psikologis dan aktivitas observasi untuk dianalisis kepribadiannya.
Hasilnya? Para peneliti mencoba “mengelompokkan” gaya berpikir mereka menggunakan MBTI, meski metode ini dianggap terlalu subjektif.
Memasuki tahun 1950-an, MBTI mulai masuk ke dunia bisnis. Perusahaan besar seperti General Electric hingga perusahaan asuransi di Amerika menggunakan tes ini untuk menilai kandidat karyawan.
Bahkan, ada perusahaan yang menjadikannya alat untuk memprediksi apakah seseorang cocok menjadi sales atau pemimpin perusahaan. Meski begitu, hasilnya tidak selalu dianggap mutlak, karena setiap tipe kepribadian dinilai punya kelebihan masing-masing.
Meski populer, banyak peneliti kemudian meragukan akurasi MBTI. Beberapa studi menemukan bahwa hasil tes sering tidak konsisten dan banyak orang justru berada “di tengah” tanpa kecenderungan ekstrem.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Marketplace.org