Sabtu, 05 JULI 2025 • 14:05 WIB

Dikejar Bikin Dia Menjauh, Dijauhi Bikin Kamu Cemas: Welcome to Anxious–Avoidant Trap!

Author

Ilustrasi pasangan tersandung kasus. (FREEPIK)

INDOZONE.ID - Kamu cuma pengen diperhatiin, dibalas cepat, dan dikasih kepastian, tapi pasanganmu malah makin dingin, menjauh, dan terkesan "cuek banget". 

Begitu kamu berusaha menjaga jarak agar nggak terlihat terlalu membutuhkan, justru kamu yang jadi makin kepikiran, overthinking, dan dipenuhi rasa cemas sendiri. Pernah mengalaminya?

Kalau jawabannya iya, berarti kamu sedang berada di salah satu siklus hubungan yang paling menguras emosi: Anxious–Avoidant Trap. 

Ini adalah jebakan emosional yang terjadi ketika dua orang dengan gaya keterikatan yang berlawanan—satu cemas, satu menghindar—saling terjebak dalam pola tarik-ulur yang melelahkan. 

Yang satu butuh kedekatan konstan, yang satu justru merasa terancam saat didekati terlalu intens.

Dan sayangnya, kombinasi ini bukan cuma umum, tapi juga bisa berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari.

Baca juga: 4 Tanggal Lahir yang Dipercaya Membawa Kesuksesan dan Rezeki, Apa Saja?

Kenapa Dua Tipe Ini Bisa Ketemu (dan Terjebak) Satu Sama Lain?

Kalau dipikir-pikir, bukankah harusnya dua gaya yang bertolak belakang nggak cocok? Tapi justru di situlah jebakannya.

Orang dengan anxious attachment (biasanya mereka yang takut ditinggal dan sangat butuh kejelasan) sering kali merasa "tertarik" pada orang dengan avoidant attachment (yang justru lebih suka menjaga jarak dan kemandirian emosional). 

Awalnya, si avoidant terlihat misterius, stabil, dan cool. Begitu hubungan mulai dalam, barulah si anxious menyadari bahwa mereka jarang mendapat validasi emosional yang dibutuhkan.

Dan si avoidant? Mereka mungkin awalnya menikmati perhatian intens dari anxious partner. 

Namun ketika hubungan mulai semakin serius dan ekspektasi mulai tumbuh, mereka justru merasa tertekan, kewalahan, lalu perlahan menarik diri.

Baca juga: Smart Farming Berbasis IoT: Solusi Pertanian Modern yang Cerdas dan Berkelanjutan

Siklusnya Kayak Apa?

  1. Anxious merasa insecure karena pasangan terasa jauh
  2. Mereka makin mendesak untuk kejelasan, perhatian, dan koneksi
  3. Avoidant merasa tekanan dan mulai menjauh
  4. Anxious makin panik, makin mengejar
  5. Avoidant makin menarik diri

Siklus ini bisa terasa seperti drama tanpa akhir. Ada masa ketika kamu merasakan rindu yang dalam, lalu tiba-tiba berubah jadi kelelahan emosional yang menyiksa. 

Tapi pada akhirnya, ada satu fase lagi yang terus kembali: perasaan bahwa kamu nggak benar-benar sanggup untuk meninggalkan semuanya. Semuanya terus berulang sampai salah satu lelah dan benar-benar menyerah.

Baca juga: Ketika Cerita Fiksi Menggerakkan Hati dan Membentuk Rasa Empati

Apakah Ini Bisa Diperbaiki?

Jawabannya rumit, bisa iya, bisa nggak. Yang jelas, butuh dua orang yang sama-sama sadar dan mau kerja keras bareng.

Kalau cuma satu pihak yang terus mengevaluasi diri sementara yang lain menganggap “ini bukan masalahku”, hubungan ini kemungkinan besar akan terus menyiksa secara emosional. 

Terkadang, hal ini justru mendorong seseorang mempertanyakan nilai diri dan harga dirinya, seolah merasa tidak cukup layak untuk dicintai atau dipertahankan.

Tapi, ketika keduanya mau memahami pola masing-masing—si anxious belajar menahan dorongan untuk terus minta jaminan, dan si avoidant belajar menghadapi konflik tanpa lari—maka perubahan bisa terjadi. Bahkan bisa jadi pasangan yang sangat kuat secara emosional.

Baca juga: Pura-pura Sibuk demi Social Battery: Capek Mental atau Cuma Alasan?

Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

  1. Kenali gaya keterikatanmu sendiri. Apakah kamu lebih sering merasa takut ditinggal, atau lebih suka sendiri saat ada masalah?
  2. Perhatikan pola yang berulang. Apakah kamu sering merasa ‘nggak cukup dicintai’ walau sudah berusaha keras?
  3. Belajar menenangkan diri. Jangan biarkan rasa cemas atau ketakutan mengambil alih dan menentukan bagaimana kamu merespons suatu situasi.
  4. Komunikasikan kebutuhanmu tanpa menekan. Banyak avoidant bukan nggak sayang, mereka cuma bingung menghadapi intensitas emosi yang mereka nggak terbiasa.
  5. Pertimbangkan terapi individu atau pasangan. Kadang pola seperti ini terbentuk dari pengalaman masa kecil yang kompleks dan perlu dibongkar lebih dalam.

Dalam era komunikasi yang serba instan seperti sekarang, pola attachment style seseorang semakin tampak jelas lewat cara mereka membangun dan mempertahankan hubungan. 

Dulu butuh waktu lama buat tahu seseorang avoidant, sekarang cukup lihat "Seen tapi nggak dibalas 12 jam." 

Kamu bisa langsung cemas, curiga, bahkan kepikiran sampai sakit kepala. 

Dan karena banyak dari kita tumbuh dengan pengalaman relasi yang tidak aman (broken home, invalidasi emosional, cinta bersyarat), attachment style ini jadi lebih sering muncul daripada yang kita sadari.

Baca juga: Hidup Minimalis, Gimana Caranya Biar Nggak Cuma Tren Sementara?

Trap yang Sebenarnya Minta Dilepaskan

Kombinasi anxious dan avoidant bukan tanda kalian nggak jodoh. Tapi juga bukan alasan untuk terus bertahan dalam hubungan yang penuh rasa sakit dan kebingungan.

Terkadang, cinta bukan soal "siapa butuh siapa", tapi soal apakah dua orang bisa tumbuh dan sembuh bersama, tanpa harus saling menghancurkan dalam prosesnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Explorepsychology.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU