Jumat, 10 OKTOBER 2025 • 19:37 WIB

3 Golongan Manusia Berdasarkan Niatnya dalam Beramal Menurut Hadis Arbain Imam An-Nawawi

Author

Ilustrasi berdoa dalam Islam (freeimages.com)

INDOZONE.ID - Pada hadis arbain pertama karya Imam An-Nawawi, disebutkan bahwa amal perbuatan seseorang tergantung pada niatnya. 

Setiap perbuatan tergantung niatnya. Demikian penggalan redaksi hadis pertama karya Imam An-Nawawi.

Hadits arbain pertama tersebut menunjukkan bahwa benar tidaknya, diterima atau ditolaknya amal perbuatan seseorang dapat dilihat dari niatnya. 

Dengan kata lain, apabila niatnya baik maka amalnya juga baik. Sebaliknya, jika niatnya buruk, maka buruk pula amalnya.

Lantas seperti apa niat yang baik dalam melakukan suatu amal, sesuai dengan hadis arbain Imam An-Nawawi?

Baca juga: 5 Cara Agar Pria Tak Mudah Cemburu dalam Hubungan, Biar Gak Toxic!

Dalam buku Penjelasan Lengkap Hadits Arbain Imam An-Nawawi karya Abu Abdillah Said bin Ibrahim disebutkan bahwa apabila perbuatan seseorang disandingkan dengan niat, maka akan ada tiga golongan.

Pertama, orang yang melakukan amal perbuatan karena rasa takut kepada Allah. 

Kedua, orang yang melakukan amal perbuatan karena berharap masuk surga.

Ketiga, orang melakukan amal perbuatan karena perasaan malu pada Allah dan sebagai relasi atas hak Allah sebagai ilah yang harus diibadahi serta wujud dari rasa syukur seorang hamba.

Golongan pertama merupakan model ibadah seperti budak, karena hanya melakukan suatu amal yang berlandaskan pada perasaan takut semata. 

Baca juga: “Serandom Apa Hidupmu?” Cewek Ini Buktikan Jalur Tak Lurus pun Bisa Sampai ke Tujuan

Sementara yang kedua, melakukan amalan karena berharap masuk surga merupakan ibadah yang menyerupai pedagang.

Golongan ketiga, yaitu orang yang menjalankan ibadah karena perasaan malu kepada Allah, sebagai relasi atas hak Allah serta wujud dari rasa syukur adalah bentuk ibadah orang yang merdeka. 

Kategori orang ini juga memandang dirinya masih kurang maksimal dalam beribadah, karena tidak mengetahui amalan mana yang diterima dan ditolak.

Kategori ketiga ini pula yang pernah diterangkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat Aisyah radhiyallahu ‘anha melihat beliau bangun di waktu malam hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah lalu bertanya.

“Wahai Rasulullah, mengapa engkau harus membebani diri seperti itu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?”

Baca juga: Siap-siap! Serbu 5 Juta Buku Internasional di Big Bad Wolf 2025 Jakarta yang Paling Menarik

Rasulullah menjawab, “Bukankah sudah sepantasnya aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?”

Hadits yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari (4837) dan Muslim (2820) di atas menunjukkan bahwa Rasulullah melakukan ibadah di waktu malam bahkan sampai kakinya bengkak meskipun Allah telah mengampuni dosa yang lalu dan yang akan datang, sebagai bentuk syukur.

Namun jika ada yang bertanya, mana yang lebih utama antara ibadah dengan rasa takut ataukah dengan rasa harap?

Ibnu Qayyim menerangkan bahwa hati manusia dalam perjalanan menuju Allah diibaratkan seperti burung. 

Rasa cinta adalah kepalanya, sementara rasa takut dan harap adalah kedua sayapnya.

Baca juga: 5 Cara Melatih Otak Agar Tetap Tenang di Bawah Tekanan, Wajib Tau!

Jika kepala dan kedua sayapnya sehat, maka burung akan terbang dengan sempurna. Jika kepalanya putus, dia akan mati. 

Jika kedua sayapnya patah, maka dia akan tertangkap hewan pemangsa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Buku: Penjelasan Lengkap Hadits Arbain Imam An-Nawawi

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU