Ilustrasi hubungan percintaan si anxious dan avoidant (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak, kamu merasa ada di hubungan yang punya drama tarik ulur tanpa akhir? Satu pihak merasa menjauh, sedangkan satunya bilang nggak terlalu suka ditempelin.
Kalau iya, biasa jadi kamu lagi ada di hubungan anxious x avoidant, kombinasi hubungan klasik tapi sering bikin bingung.
Di awal hubungan, dua orang tipe ini bisa kelihatan saling tertarik banget. Satunya butuh kedekatan dan kasih sayang, sedangkan si pasangan butuh ruang sendirian. Begitu udah bareng, perbedaan ini malah sering jadi sumber stres dan kebingungan.
Kenapa dua tipe ini sering ketemu dan sulit lepas satu sama lain? Yuk, kita bahas bareng kenapa pola Anxious x Avoidant sering bikin hubungan terasa nagih, tapi diam-diam bikin capek!
Asal-Usul Attachment Style
Setiap orang punya attachment style yang terbentuk dari hubungan emosionalnya waktu kecil, terutama sama orang tua.
Kalau kamu tumbuh di lingkungan yang nggak konsisten, seperti kadang disayang atau diabaikan, kamu bisa aja berkembang jadi orang dengan anxious attachment (tipe cemas).
Orang dengan gaya ini biasanya merasa cinta itu harus diperjuangkan. Mereka merasa harus jadi cukup baik dulu biar layak dicintai.
Baca juga: Hustle Culture VS Work Life Balance: Pengertian dan Contoh Konkrit Dalam Kehidupan
Pas dewasa, mereka cenderung gampang khawatir kalau pasangan tiba-tiba berubah dingin atau menjauh. Semua itu sering dianggap tanda penolakan dan itu bikin mereka makin takut ditinggal.
Kebalikannya, orang gaya avoidant (tipe menghindar) justru kurang nyaman kalau hubungan jadi terlalu dekat atau intens.
Biasanya, ini terjadi karena dari kecil mereka dibesarkan oleh pengasuh yang dingin secara emosional. Orang tua hadir secara fisik, tapi nggak responsif terhadap kebutuhan si anak.
Baca juga: Sudahi Galaumu, Lakukan 4 Cara Ini Biar Kamu Tidak Terjebak HTS atau Hubungan Tanpa Status!
Kenapa Mereka Bisa Saling Tertarik?
Hubungan dua tipe ini sering banget punya pola tarik ulur. Si anxious mengejar terus karena butuh kedekatan dan kepastian, sedangkan avoidant merasa tertekan dan mulai menjauh.
Hasilnya adalah hubungan kayak main karet, makin ditarik, makin tegang. Di balik itu, sebenarnya ada ketertarikan yang nggak disadari.
Orang dengan tipe cemas merasa tertantang dan ingin menaklukkan orang dengan tipe menghindar. Di sisi lain, si menghindar justru merasa aman karena bisa tetap menjaga jarak sesuai keinginannya.
Nah, waktu anxious ketemu avoidant, biasanya langsung muncul chemistry kuat banget di awal. Apalagi, tipe avoidant sering terlihat tenang, misterius, dan menarik karena mereka fokus sama diri.
Si avoidant juga awalnya tertarik, karena orang anxious biasanya perhatian, romantis, dan berusaha keras buat bikin hubungan terasa spesial.
Namun, ketika hubungan mulai makin dalam, sisi asli keduanya mulai muncul. Si anxious mulai butuh kepastian dan validasi terus, sedangkan avoidant malah ngerasa sesak dan butuh jarak.
Baca juga: 7 Tanda Kamu Lagi Pacaran sama Tipe Avoidant, si Ahli Tarik Ulur Emosi
Menariknya lagi, dua orang dengan tipe ini tertarik karena saling melihat sisi yang mereka ingin punya. Si cemas kagum sama kemandirian si menghindar, sedangkan si menghindar diam-diam pengin bisa seekspresif si cemas dalam nunjukin perasaan.
Akhirnya, hal yang awalnya bikin tertarik itu, lama-lama bisa jadi sumber konflik juga.
Gimana Cara Mengatasinya?
Nggak semua orang dengan gaya anxious atau avoidant pasti bakal tertarik satu sama lain. Nggak ketiggalan, gaya attachment atau kelekatan juga bisa berubah kok, seiring waktu.
Kalau kamu mau hubungan yang lebih sehat, coba mulai dari hal kecil. Kamu bisa mulai dengan lebih sadar sama emosimu sendiri dan pahami kenapa bereaksi seperti itu. Kalau udah sampai menganggu, mungkin ini saatnya cari bantuan profesional.
Kalau kamu atau pasanganmu punya gaya cemas atau menghindar, tenang aja, itu bukan akhir dunia. Dengan kesadaran, komunikasi yang sehat, dan usaha bareng, hubungan tetap bisa jadi lebih aman dan saling ngerti.
Karena pada akhirnya, hubungan bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang dua orang yang sama-sama belajar tumbuh tanpa takut kehilangan satu sama lain
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Psychology Today, Growing Self