INDOZONE.ID - Kalimat “takut komitmen” sekarang kayaknya udah sering banget kita denger, entah di chat, story, atau obrolan nongkrong bareng teman.
Banyak orang, apalagi Gen Z yang cenderung ingin bebas, mulai mikir: “Kenapa sih sekarang susah banget buat serius?”
Hubungan yang dulu diharapkan jadi tempat nyaman malah sering terasa kayak kapal yang sudah siap berlayar, tapi nggak pernah benar-benar mau berlabuh.
Baca juga: Begini Strategi Chat Waktu PDKT Biar Waktu dan Perasaan Nggak Kebuang, Jangan Asal!
Apa sih yang dimaksud “takut komitmen”?
Sebelum lanjut, kita perlu tahu dulu nih apa sebenarnya arti dari “takut komitmen” atau fear of commitment.
Ini bukan cuma soal malas pacaran serius atau gampang ilfil, tapi bisa juga muncul karena rasa cemas, pengalaman buruk di masa lalu, sampai masalah soal jati diri.
Misalnya, ada orang yang tiap kali mulai dekat sama seseorang langsung mundur begitu topik “hubungan serius” muncul.
Atau ada juga yang terus menunda-nunda buat nikah atau settle, padahal umurnya sudah cukup, tapi masih ngerasa “belum siap aja.”
Baca juga: Begini Cara Jadi Pendengar yang Baik Buat Pasanganmu, Biar Gak Salah Paham Terus!
Kenapa banyak orang takut komitmen sekarang?
1. Takut Kehilangan Kebebasan
Sekarang ini, banyak orang yang menaruh nilai tinggi pada kebebasan pribadi.
Makanya, ketika ngomongin soal hubungan serius, sering muncul pikiran kayak, “Kalau aku komit, berarti harus menyesuaikan diri sama dia, mikirin masa depan bareng, dan rela kompromi.”
Buat sebagian orang, hal itu terasa berat kalau belum siap.
Menurut beberapa ahli, rasa takut kehilangan kemandirian jadi salah satu penyebab utama kenapa orang enggan berkomitmen.
Baca juga: 111 Caption Bahasa Inggris tentang Kebun Teh, Lucu Romantis!
Jadi, bukan karena nggak mau serius, tapi lebih ke takut: “Kalau aku bareng dia, masih bisa nggak ya jadi diriku sendiri?”
2. Trauma atau Pengalaman Masa Lalu
Pernah disakiti, dikhianati, atau bahkan ngeliat hubungan orang tua sendiri yang nggak berjalan baik, semua itu bisa ninggalin luka yang susah hilang.
Luka-luka inilah yang sering bikin seseorang jadi ragu buat membuka hati lagi.
Beberapa penelitian juga nunjukin kalau orang yang punya pengalaman buruk di masa lalu cenderung menghindari komitmen karena takut ngerasain sakit yang sama.
Jadi, nggak heran kalau ada yang udah cocok banget tapi tetap santai aja begitu diajak ke tahap yang lebih serius.
Baca juga: 111 Caption Jogging Lucu Bahasa Inggris, Singkat Aesthetic!
3. Standar Ideal yang Terlalu Tinggi dan Banyak Pilihan
Di era digital kayak sekarang, aplikasi dating dan media sosial bikin pilihan jadi nggak terbatas.
Kalau dulu mungkin cuma punya dua atau tiga calon, sekarang bisa punya puluhan bahkan ratusan “option” yang tinggal di-swipe aja.
Karena terlalu banyak pilihan, banyak orang jadi punya pola pikir “ah, mungkin masih ada yang lebih baik di luar sana.”
Akibatnya, mereka jadi susah buat benar-benar berkomitmen.
Ditambah lagi, kalau standar yang kita pasang terlalu tinggi, harus yang sempurna, harus yang “klik banget”, komitmen malah terasa kayak pengorbanan besar, bukan sesuatu yang layak diperjuangkan.
Baca juga: Rezeki Tak Disangka, Ibu Ini Temukan Tumpukan Amplop Berisi Uang
4. Tak Punya Visi atau Tak Siap Untuk Masa Depan
Komitmen itu nggak cuma soal “pacaran aja”, tapi juga tentang gimana kita ngeliat masa depan bareng, mulai dari tinggal bareng, nikah, punya anak, sampai ngebangun kehidupan bersama.
Nah, kalau seseorang masih bingung soal karier, keuangan, atau masih dalam fase “nyari jati diri”, wajar banget kalau komitmen terasa kayak beban besar.
Beberapa ahli bilang, “kurangnya visi jangka panjang” atau lack of vision bisa bikin seseorang ragu buat melangkah ke tahap serius.
Jadi, bukan cuma takut kehilangan kebebasan, tapi juga takut kalau keputusan untuk berkomitmen justru nggak sejalan sama arah hidup yang dia mau.
Baca juga: Serem! Curhat Sama AI Bisa Bikin Kamu Lupa Dunia Nyata dan Hilang Akal
Kenapa ini jadi “isu” besar terutama di generasi sekarang?
Generasi muda sekarang cenderung lebih fokus buat eksplor diri.
Entah itu soal karier, gaya hidup, atau jati diri dibanding generasi sebelumnya yang mungkin merasa harus cepat “settle” demi stabilitas.
Budaya dating apps juga ikut ngaruh. Dengan pola pikir “kalau nggak cocok, tinggal swipe aja”, komitmen jadi terasa kayak memilih satu dari sekian banyak opsi.
Dan buat sebagian orang, itu bisa bikin takut salah pilih.
Media sosial pun nggak kalah berperan. Deretan kisah cinta sempurna dan tagar #relationshipgoals sering bikin ekspektasi jadi tinggi banget, atau malah sebaliknya bikin takut kalau hubungan nyata nggak akan pernah seindah itu.
Baca juga: Tubuh Manusia Punya 'Alarm Jam' Alami, Tapi Kenapa Kita Masih Telat Bangun?
Tips untuk yang merasa “aku takut komitmen”
Kalau Kamu termasuk yang merasa ini, atau punya teman yang seperti ini, coba deh tips berikut.
- Ngobrol terbuka: Coba ajak pasangan atau calon pasangan Kamu buat ngobrol jujur soal harapan masing-masing dalam hubungan. Jangan takut bahas hal serius, transparansi justru bikin kalian lebih paham satu sama lain.
- Kenali diri sendiri: Coba tanya ke diri sendiri, sebenarnya apa sih yang Kamu takutin? Takut kehilangan kebebasan, belum stabil secara finansial, atau masih nyari jati diri? Begitu tahu akar masalahnya, proses healing bisa mulai.
- Pelan-pelan aja: Komitmen nggak harus langsung besar. Mulai dari hal kecil, kayak jaga komunikasi, sempatkan waktu buat ketemu, atau bikin rencana kecil bareng.
Baca juga: Lagi Panik Karena Ada Hal Menyebalkan? Begini Cara Tenangkan Diri Biar Gak Ganggu Aktivitas
- Stop bandingkan diri: Setiap orang punya timeline sendiri dalam membangun hubungan. Nggak perlu ngikutin kecepatan orang lain, fokus aja sama perjalanan Kamu.
- Cari bantuan profesional: Kalau rasa takut Kamu udah terlalu berat, misalnya sering cemas, selalu menghindar dari hubungan, atau ngerasa nggak pantas dicintai, nggak ada salahnya ngobrol sama psikolog atau konselor. Mereka bisa bantu Kamu ngerti dan mengelola perasaan itu dengan cara yang sehat.
Jadi, “kenapa banyak orang sekarang takut komitmen?” Jawabannya kompleks.
Baca juga: Anxious x Avoidant: Pasangan Romantis yang Nyambung, tapi Hobi Tarik Ulur
Bukan cuma karena “malas” atau “ngambek”, tapi seringnya karena perpaduan antara kebebasan, pengalaman masa lalu, pilihan yang banyak, dan visi masa depan yang belum jelas.
Buat generasi kita yang hidup di era cepat bergerak dan pilihan tanpa batas, takut komitmen bisa muncul sebagai refleksi dari keinginan supaya hidup tetap “on our own terms”.
Kalau Kamu atau temanmu sedang di titik ini, ingat, rasanya nggak salah.
justru dengan nge-explore ini, Kamu bisa lebih siap saat keputusan untuk komitmen itu tiba. Yuk, kita percaya sama prosesnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber