Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 12:35 WIB

Biar Gak Gampang Capek, Ini 5 Cara Hadapi Orang yang Selalu Merasa Benar

Author

Ilustrasi menghadapi orang yang selalu merasa benar (freepik)

INDOZONE.ID - Punya hubungan dengan orang yang selalu merasa dirinya paling benar itu capek banget. Apalagi, kalau kamu nggak bisa menghindar dan masih harus berurusan sama mereka.

Bisa jadi itu kerabat dekat yang suka maksain pendapat, bahkan saat kamu tahu mereka salah. Orang kayak gini bisa ngajak debat panjang tanpa ujung.

Pertanyaannya, gimana caranya menyikapi situasi kayak gini tanpa emosi, tapi tetap nggak kehilangan pendirian? Yuk, kita bahas bareng cara menghadapi orang yang selalu merasa benar biar nggak gampang capek!

Peran Kecerdasan Emosional

Ilustrasi kecerdasan emosional (freepik)

Menghadapi orang yang merasa selalu benar itu butuh kecerdasan emosional alias EQ, bukan adu argumen. Perlu dicari tittik tengah, apalagi kalau orang yang ngajak debat adalah keluarga, teman kerja, atau orang yang nggak bisa kamu hindari.

Kalau lawan bicaramu kurang peka, kamu harus ngomong lebih jelas, bukan berharap mereka mengerti sendiri. Terus, sebenarnya kenapa bisa ada orang kayak gini?

Baca juga: 6 Tanda Kamu Menjalani Hubungan dengan Orang Narsis, Gimana Cara Menghadapinya?

Penelitian soal kecerdasan emosional menunjukkan kalau orang yang hobi maksa pendapat sering kali kurang peka sama perasaan orang lain. Mereka nggak sadar atau bahkan nggak peduli kalau sikapnya bikin orang capek.

Sementara EQ adalah kemampuan buat mengerti perasaan diri sendiri, membaca situasi, mengatur emosi, dan menghargai sudut pandang orang lain.

Orang dengan EQ tinggi biasanya bisa menyesuaikan diri. Sebaliknya, orang yang merasa harus selalu benar cenderung kaku, defensif, dan susah mendengarkan orang lain.

Baca juga: 40 Kata-kata Self Love yang Bikin Kamu Semangat dan Lebih Percaya Diri

Cara Menghadapi Orang yang Selalu Merasa Benar

Pasangan yang sedang berdebat. (photo/Ilustrasi/Pexels/Mikhail Nilov)

Daripada terjebak debat nggak ada ujungnya, lebih baik fokus mengatur reaksi diri sendiri. Ini beberapa cara yang bisa kamu coba:

Jangan sibuk memberi label kepribadian

Mungkin kamu langsung mikir, “Ini pasti narsistik.” Padahal ya belum tentu. Memberi label justru sering bikin emosi makin naik dan nggak menyelesaikan masalah.

Sadari kalau perilakunya bisa karena EQ yang rendah

Dengan memahami ini, kamu jadi lebih siap. Bisa jadi kamu perlu ngomong lebih jelas dan tegas soal perasaanmu, karena mereka nggak otomatis peka.

Jangan gampang kepancing

Berhadapan dengan orang yang terus menyerang pendapatmu memang bikin kesal. Akan tetapi, kalau kamu bisa tetap tenang, itu justru menunjukkan EQ yang lebih tinggi.

Coba berkaca ke diri sendiri

Walaupun menyebalkan, ada kalanya ada sedikit kebenaran dalam omongan mereka. Nggak ada salahnya berhenti sebentar dan mikir, apakah ada hal yang memang perlu kamu perbaiki?

Tetap jaga komunikasi

Menghindar memang kelihatan paling aman, tapi nggak selalu memungkinkan. Apalagi kalau itu keluarga atau rekan kerja. Cobalah cari titik temu. Siapa tahu, kamu justru menemukan lebih banyak kesamaan daripada yang kamu kira.

Orang yang selalu merasa paling benar memang bisa jadi tantangan terbesar dalam hubungan sosial. Namun, kalau kamu bisa belajar menghadapinya dengan bijak, kecerdasan emosionalmu justru bisa berkembang. Hidupmu pun jadi terasa lebih ringan dan dewasa secara emosional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Psychology Today

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU