Rabu, 14 JANUARI 2026 • 12:20 WIB

Puasa Qadha Ramadan: Pengertian, Tata Cara, dan Niat Ganti Puasa dengan Benar Menurut Ulama

Author

Ilustrasi Puasa Qadha Ramadan. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Buat sebagian orang, puasa qadha Ramadan justru terasa lebih bikin deg-degan dibanding puasa Ramadan itu sendiri.

Bukan karena laparnya, tapi karena takut niatnya salah, kurang lafaz, atau dianggap tidak sah. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk ribet dalam urusan niat.

Lewat penjelasan Buya Yahya di kanal YouTube/Al-Bahjah TV, kita diajak memahami puasa qadha Ramadan dengan cara yang lebih adem, masuk akal, dan menenangkan hati.

Pembahasan soal niat puasa qadha ini penting, apalagi buat anak muda yang sering dapat info setengah-setengah dari internet. Biar nggak salah paham dan nggak was-was berlebihan, yuk kita bahas pelan-pelan!

Baca juga: Hukum Bayar Fidyah Puasa dengan Uang, Boleh atau Tidak?

Apa Itu Puasa Qadha Ramadan?

Puasa qadha Ramadan adalah puasa pengganti bagi orang yang meninggalkan puasa Ramadan karena alasan tertentu, seperti sakit, haid, nifas, atau perjalanan jauh.

Puasa ini sifatnya wajib, karena mengganti kewajiban yang sempat tertinggal.

Makanya, puasa qadha berbeda dengan puasa sunnah. Tapi meski wajib, cara niatnya ternyata nggak seseram yang sering dibayangkan banyak orang.

Niat Puasa Qadha Ramadan itu Intinya di Hati

Buya Yahya menegaskan satu hal yang sering dilupakan, niat itu tempatnya di hati, bukan di lidah. Kalau di hati kita sudah mantap ingin mengganti puasa Ramadan karena Allah, maka niat tersebut sudah sah.

Sering kali orang terlalu fokus menghafal lafaz niat yang panjang dan takut salah satu kata. Padahal, niat bukan soal rangkaian kata, tapi soal kesadaran dan tujuan ibadah itu sendiri.

Kalau di hati sudah ada keyakinan “Saya niat puasa qadha Ramadan karena Allah”, itu sudah cukup.

Apakah Harus Menyebut Kata "Fardhu"?

Di beberapa kitab fikih memang disebutkan, niat puasa wajib harus menyertakan keperduannya. Tapi Buya Yahya menjelaskan dengan cara yang sangat sederhana.

Ketika seseorang berniat qadha puasa Ramadan, otomatis di dalam hatinya sudah ada keyakinan bahwa puasa tersebut adalah kewajiban.

Logikanya simpel. Kalau tidak yakin itu wajib, ngapain repot-repot qadha. Jadi tanpa menyebut kata “fardhu” pun, niatnya sudah memenuhi syarat karena hati sudah paham betul status ibadah tersebut.

Niat Tidak Harus Pakai Bahasa Arab

Ini bagian yang sering bikin orang minder. Banyak yang takut puasa qadha karena nggak hafal niat versi Arab. Padahal, niat tidak harus pakai bahasa Arab, apalagi diucapkan keras-keras.

Buya Yahya menjelaskan, niat dalam bahasa Indonesia atau bahasa sehari-hari pun sah, asalkan ada di hati.

Misalnya cukup dengan lintasan, “Saya niat puasa qadha Ramadan besok karena Allah.” Itu sudah sah dan nggak perlu ditambah-tambah.

Islam tidak menilai keindahan bahasa, tapi kejujuran niat.

Baca juga: Jika Tidak Mampu Fidyah, Bagaimana Cara Bayar Hutang Puasa? Ini Solusinya!

Ilustrasi Puasa Qadha Ramadan. (Foto: Freepik @Freepik)

Waktu Niat Puasa Qadha

Karena puasa qadha termasuk puasa wajib, niatnya harus dilakukan pada malam hari, sebelum masuk waktu subuh. Tapi malam hari di sini juga sering disalahpahami.

Niat tidak harus dilakukan pada jam tertentu. Selama niat itu sudah ada sejak malam hingga sebelum subuh, puasanya sah.

Bahkan ketika seseorang berkata dalam hati, “besok saya mau puasa qadha”, itu sudah termasuk niat malam hari.

Jangan Terjebak Was-was

Salah satu pesan paling tegas dari Buya Yahya adalah soal was-was. Banyak orang akhirnya takut beribadah karena merasa niatnya kurang sempurna. Padahal, syariat Islam datang untuk memudahkan, bukan memberatkan.

Buya Yahya sampai mencontohkan kasus ibu-ibu di kampung yang takut puasa karena tidak hafal niat panjang. Ini justru berbahaya, karena orang bisa meninggalkan ibadah hanya gara-gara takut salah lafaz.

Kalau ada ajaran yang bikin orang stres, takut, dan was-was berlebihan, berarti ada yang keliru dalam cara menyampaikannya.

Lisan Salah, Hati Tetap Jadi Penentu

Bagaimana kalau lidah salah ucap? Misalnya niatnya ingin puasa qadha, tapi yang terucap malah puasa sunnah. Menurut Buya Yahya, yang dihitung tetap niat di hati.

Kalau hati sudah mantap ingin qadha Ramadan, maka puasanya tetap sah sebagai puasa qadha. Lisan hanya alat bantu, bukan penentu utama.

Para ulama menjelaskan, fungsi niat adalah memastikan hati tahu apa yang sedang dikerjakan. Jadi selama hati tidak salah arah, ibadahnya tetap dinilai sesuai niat tersebut.

Cara Niat Puasa Qadha yang Paling Sederhana

Buat yang masih bingung, ini contoh niat puasa qadha yang simpel dan aman yaitu, “Saya niat puasa qadha Ramadan besok karena Allah.”

Cukup dilintaskan di hati pada malam hari, tanpa perlu suara, tanpa perlu bahasa Arab, tanpa perlu takut salah.

Baca juga: Cara Bayar Hutang Salat dan Puasa Orang Tua yang Sudah Meninggal, Ini Penjelasan Lengkapnya!

Ilustrasi Puasa Qadha Ramadan. (Foto: Freepik @Freepik)

Puasa qadha Ramadan sejatinya adalah bentuk tanggung jawab seorang muslim kepada kewajiban yang sempat tertinggal. Jangan sampai niat yang seharusnya sederhana justru jadi penghalang ibadah.

Pesan Buya Yahya sangat jelas, fokuslah pada hati, bukan pada kerumitan lafaz. Islam itu mudah, lembut, dan memanusiakan manusia.

Kalau hati sudah yakin, niat sudah ada, dan waktunya tepat, maka puasa qadha Ramadan insyaallah sah dan diterima Allah SWT.

Semoga penjelasan ini bisa bikin kita lebih tenang, lebih yakin, dan nggak lagi takut menjalankan ibadah hanya karena khawatir salah niat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU