Selasa, 20 JANUARI 2026 • 20:05 WIB

Kenapa Kita Sering Membandingkan Diri dengan Orang Lain? Ini Penjelasan Psikologinya

Author

Ilustrasi membandingkan diri. (Freepik/katemangostar)

INDOZONE.ID - Pernah nggak Kamu scroll media sosial dan tiba-tiba ngerasa, “Kenapa hidup mereka jauh lebih keren daripada aku?” atau “Kamu lihat teman seangkatan udah dapat pekerjaan bagus sementara Kamu masih nyari?” 

Kalau iya, Kamu nggak sendirian. Fenomena ini ternyata punya dasar psikologis yang kuat dan udah diteliti lama banget oleh para psikolog. 

Dalam artikel ini kita bakal kupas tuntas kenapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain, apa yang terjadi di otak kita, bagaimana media sosial bikin semuanya makin intens, sampai gimana cara supaya perbandingan itu nggak bikin Kamu down.

Baca juga: Apakah Makan Membatalkan Wudhu? Ini Penjelasan Lengkap Menurut Ulama

Membandingkan Diri Itu Bukan Kebiasaan Aneh, Itu Normal Secara Psikologis

Kesadaran kita terhadap tempat kita di dunia ini sering dibangun lewat perbandingan. 

Psikolog sosial Leon Festinger mengembangkan Social Comparison Theory yang mengatakan kalau manusia punya dorongan alami untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. 

Tujuan utamanya bukan iri-irian, tapi mengukur kemampuan, pendapat, dan perasaan kita terhadap standar sosial yang ada di sekitar kita. 

Bayangin Kamu lagi ngerjain presentasi, tapi nggak tau seberapa bagus hasilmu. Kalau Kamu bandingkan dengan orang lain, Kamu bisa nebak seberapa kuat Kamu dibanding mereka. 

Tanpa perbandingan, kadang kita nggak punya tolok ukur yang jelas tentang siapa diri kita di tengah banyaknya pilihan standar di kehidupan ini. 

Baca juga: Pantang Libur Meski Banjir, Pedagang Tahu Bulat Ini Tetap Jualan Meski Gerobaknya di Kelilingi Air

Intinya, otak manusia itu bukan mesin objektif yang bisa ngukur diri tanpa ada yang dijadikan titik acuan. 

Itulah kenapa membandingkan diri dengan orang lain itu sering banget terjadi tanpa kita sadar.

Dua Jenis Social Comparison: Upward vs Downward

Dalam teori psikologi, ada dua jenis perbandingan yang kerap kita lakukan:

1. Upward Comparison

Ini terjadi ketika kita membandingkan diri dengan orang yang kita anggap lebih baik dalam suatu hal. 

Misalnya teman yang kerjaannya sukses, punya pasangan ideal, atau follower Instagram jutaan. 

Perbandingan jenis ini bisa bikin Kamu termotivasi, tapi lebih sering bikin Kamu merasa kurang dari orang lain. 

Baca juga: 20 Nama Anomali Lengkap yang Viral dan Penjelasannya

2. Downward Comparison

Ini sebaliknya, Kamu membandingkan diri dengan orang yang punya kondisi yang menurutmu “lebih rendah.” 

Ini bisa bikin Kamu merasa lebih baik tentang diri sendiri, tapi kadang juga memunculkan rasa superior yang nggak sehat. 

Kedua jenis ini bukan sekadar statistik, tapi nyata banget mempengaruhi emosi dan persepsi diri. 

Terutama di era media sosial, di mana kita melihat highlight reel orang lain tanpa konteks lengkap kehidupan mereka, perbandingan jadi makin sering dan makin terasa menyakitkan.

Kenapa Kita Membandingkan Diri Begitu Sering?

Kalau Kamu mikir “Ah, itu cuma karena aku nggak pede,” jawabannya lebih kompleks dari itu. 

Baca juga: Tangis Pilu Anak Kecil Ini Ungkap Rindu pada Mama yang Pergi karena Kecelakaan

Ada beberapa alasan psikologis yang bikin kita sering terjebak dalam pola perbandingan ini:

1. Otak Kita Butuh Tolok Ukur

Beberapa aspek kehidupan kita gak punya kriteria objektif, nggak ada patokan resmi “seberapa sukses seseorang”, atau “berapa bahagianya hidup seseorang”. 

Jadi kita menggunakan orang lain sebagai reference point supaya kita bisa ngecek posisi kita sendiri. 

2. Media Sosial Memperluas Lingkup Perbandingan

Dulu, perbandingan mungkin terjadi antara Kamu dan tetangga atau teman sekelas. 

Baca juga: Niat Setia Dampingi Istri Lahiran, Suami Ini Justru Tumbang dan Tak Sadarkan Diri Bikin Bidan Bingung

Sekarang, dengan social media, Kamu bisa secara instan membandingkan diri dengan orang yang tinggal di benua lain, yang hidupnya terseleksi secara eksklusif buat terlihat sukses dan bahagia. 

Hal ini bikin perbandingan jadi lebih sering dan lebih ekstrem. 

3. Kita Ingin Tahu Posisi Kita di Lingkungan Sosial

Manusia secara alami punya kebutuhan untuk merasa diterima dan berkaitan dengan kelompoknya. 

Dengan membandingkan kemampuan, status atau pencapaian kita dengan orang lain, kita mencoba memahami di mana kita berada dalam “hierarki sosial”, entah itu di sekolah, kampus, lingkungan kerja, atau komunitas online. 

Baca juga: Pedagang Tahu Bulat di Bali Ini Lancar Berbahasa Inggris Saat Diwawancarai oleh Bule

Ketika Membandingkan Diri Jadi Benar-Benar Mengganggu

Tentu aja, bukan semua perbandingan itu buruk. 

Dalam jumlah kecil, itu bisa bikin Kamu termotivasi buat berkembang. 

Tapi masalahnya, banyak dari kita melakukan yang namanya upward social comparison secara terus-menerus di media sosial, dan itu bisa mengikis self-esteem kita. 

Efek negatifnya bisa berupa:

  • Rasa tidak cukup: ngerasa terus kekurangan dibanding orang lain
  • Kecemasan dan stres: karena merasa harus “keep up” dengan orang lain
  • Perasaan kurang percaya diri

Baca juga: Tangis Orang Tua Pecah Saat Membaca Pengantar Skripsi Anak Ceweknya

  • Perfeksionisme berlebihan yang bikin kita nggak pernah puas 

Ya, bahkan orang yang secara objektif “cukup sukses” pun bisa merasa gagal kalau otaknya udah keburu nge-filter semua hal lewat lensa perbandingan.

Self-Discrepancy: Ketika Kita Terus Mengejar Versi Ideal Diri

Sebelumnya kita bahas perbandingan sosial, tapi ada juga konsep lain dalam psikologi, yaitu Self-Discrepancy Theory. 

Ini menjelaskan bagaimana kita sering punya dua bayangan diri, actual self (siapa kita sekarang) dan ideal self (siapa yang kita pengen jadi). 

Baca juga: Jadwal ⁠Libur Nasional Imlek 2026, Ini Strategi Ambil Cuti Agar Dapat Long Weekend

Ketika ideal itu dibentuk dari gambar orang lain di media sosial atau kehidupan nyata, gap antara realita sama harapan bisa jadi jauh banget dan itu bikin perasaan tidak puas makin parah. 

Cara Menghadapi Kebiasaan Membandingkan Diri

Oke, sekarang kita udah tahu kenapa kita membandingkan diri. 

Tapi gimana caranya supaya kebiasaan ini nggak bikin kita stuck atau ngerusak mental?

Berikut beberapa strategi yang bisa Kamu coba:

1. Sadari Kapan Kamu Membandingkan Diri

Langkah pertama itu sadar. Ketika Kamu scroll Instagram kemudian ngerasa insecure, berhenti dulu dan tanya diri sendiri: “Apa aku lagi nge-compare?” 

Baca juga: Shalat Tarawih Berapa Rakaat? Ini Penjelasan Lengkapnya

Kesadaran kecil ini bisa bantu Kamu mulai nge-handle perasaan itu dengan lebih bijak.

2. Batasi Waktu Media Sosial

Kalau setiap hari Kamu lihat highlight reel orang lain tanpa henti, nggak heran Kamu merasa kurang. 

Batasi eksposure Kamu sama hal-hal yang bikin Kamu auto ngebandingin diri.

3. Fokus ke Kemajuan Pribadi Sendiri

Ingat, tujuan hidup Kamu itu bukan buat jadi copy-paste versi orang lain. Catet prestasi Kamu sendiri, sekecil apapun itu. 

Nggak perlu nunggu orang lain ngasih cap “sukses” buat Kamu ngerasa berhasil.

Baca juga: Cara Resmi Mengurus Surat Cerai di Pengadilan Agama dan Negeri

Membandingkan Diri Itu Alami, Tapi Bisa Kita Kelola

Jadi kenapa kita sering membandingkan diri dengan orang lain? Karena itu bagian dari cara otak kita nge-evaluate diri sendiri, kebutuhan untuk mengetahui posisi sosial kita, dan reaksi terhadap lingkungan sosial yang penuh dengan standar baru lewat media sosial. 

Masalahnya bukan cuma dibanding-bandingin itu sendiri, itu udah jadi bagian dari mekanisme diri manusia, tapi bagaimana kita merespon perbandingan itu. 

Kalau Kamu terus-menerus mengukur diri melalui kehidupan orang lain, besar kemungkinan Kamu bakal merasa kurang, bukan termotivasi. 

Yang perlu Kamu lakukan adalah mengubah fokus dari “dia lebih baik daripada aku” jadi “apa yang bisa aku pelajari dari situ?” dan tetap menghormati perkembangan diri sendiri.

Baca juga: Stop Keinget Mantan! Ini 6 Cara Mengatasi Flashback yang Bikin Susah Move On

Dengan cara itu, Kamu nggak cuma tahu kenapa Kamu nge-compare. Kamu juga tahu bagaimana cara ngeluarin energi itu jadi sesuatu yang lebih positif buat hidup Kamu sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU