INDOZONE.ID - Intermittent fasting (IF) tengah naik daun dan kerap disebut sebagai “jurus ampuh” untuk diet dan hidup lebih sehat. Banyak yang mengklaim berat badan turun, metabolisme membaik, bahkan fokus menjadi lebih tajam.
Namun faktanya, tidak semua tubuh bereaksi sama. Terutama pada perempuan, intermittent fasting bisa memberikan efek yang jauh lebih kompleks, bahkan berisiko jika dilakukan hanya karena ikut tren.
Kenapa Intermittent Fasting Bisa Beda Efeknya di Tubuh Perempuan?
Tubuh perempuan secara alami dirancang untuk menjaga keseimbangan energi dan sistem reproduksi. Saat puasa terlalu lama membuat tubuh merasa kekurangan asupan, otak bisa menganggapnya sebagai ancaman dan memicu mode bertahan hidup.
Padahal, hormon reproduksi seperti estrogen dan progesteron tidak hanya berperan dalam siklus haid atau kehamilan, tetapi juga mengatur metabolisme, energi, suasana hati, kesehatan mental, kekuatan tulang, hingga kondisi kulit dan rambut. Ketika keseimbangannya terganggu, dampaknya bisa dirasakan pada berbagai aspek kesehatan sekaligus.
Baca juga: Mengenal Intermittent Fasting, Diet ala Ade Rai yang Bisa Cegah Berbagai Penyakit
Efek Intermittent Fasting pada Hormon Perempuan yang Jarang Disadari
Pada sebagian perempuan, intermittent fasting dapat memicu ketidakseimbangan hormon, terutama estrogen. Gejalanya sering terlihat ringan, tetapi dampaknya nyata, mulai dari energi yang cepat drop, berat badan sulit turun atau justru naik, gula darah tidak stabil, sulit fokus, tubuh mudah lelah, penurunan kekuatan otot dan tulang, kulit dan rambut kusam, hingga siklus menstruasi yang tidak teratur.
Gangguan ini juga kerap berkaitan dengan hormon stres (kortisol) dan tiroid, sehingga memunculkan keluhan lanjutan seperti rasa cemas berlebihan, sulit tidur, ngidam gula, brain fog, serta perubahan suasana hati tanpa sebab yang jelas.
Apa Itu Intermittent Fasting? Jangan Cuma Ikut-ikutan
Intermittent fasting adalah pola makan dengan jeda waktu tanpa asupan kalori. Durasi puasanya beragam, mulai dari:
- 12 jam (termasuk waktu tidur),
- 14–16 jam,
- 20 jam,
- bahkan puasa 24 jam.
Ada yang melakukannya setiap hari, ada pula yang hanya beberapa kali seminggu. Fleksibel, tetapi justru di sinilah perempuan perlu ekstra hati-hati.
Apa Manfaat Intermittent Fasting?
Bukan tanpa alasan IF menjadi favorit banyak orang. Jika dilakukan dengan cara yang tepat, manfaatnya bisa meliputi:
- Membantu meningkatkan sensitivitas insulin.
- Mendukung pembakaran lemak.
- Mengontrol asupan kalori secara alami.
- Menjaga kesehatan metabolik.
- Mengurangi risiko diabetes tipe 2.
- Berpotensi mendukung fungsi otak.
Namun, manfaat ini sangat bergantung pada kondisi tubuh dan strategi penerapannya.
Alasan Intermittent Fasting Lebih “Tricky” bagi Perempuan
Saat tubuh perempuan merasa kekurangan energi, respons alaminya adalah menyimpan lebih banyak lemak, meningkatkan rasa lapar, dan menekan fungsi yang dianggap tidak prioritas, termasuk reproduksi. Inilah sebabnya sebagian perempuan justru mengalami stagnasi berat badan, gangguan hormon, atau kondisi tubuh yang semakin menurun saat menjalani intermittent fasting secara ekstrem.
Baca juga: Diet Intermittent Fasting ala Selebgram Shani Amelia
Tips Intermittent Fasting yang Lebih Aman untuk Perempuan
Perempuan tetap bisa mencoba intermittent fasting, asalkan dengan pendekatan yang lebih ramah hormon:
- Jangan puasa setiap hari berturut-turut.
- Cukup 2–3 kali seminggu.
- Mulai dari durasi ringan (12–13 jam).
- Hindari olahraga berat saat hari puasa.
- Sebaiknya tidak melakukan IF saat menstruasi.
- Pastikan asupan nutrisi tetap padat dan seimbang.
Jika tubuh terasa stabil, durasi puasa bisa ditingkatkan secara perlahan. Namun, jika muncul tanda-tanda gangguan hormon, sebaiknya segera dikurangi atau dihentikan.
Siapa yang Sebaiknya Melewatkan Intermittent Fasting?
Intermittent fasting tidak disarankan untuk perempuan yang memiliki riwayat gangguan makan, sedang hamil atau merencanakan kehamilan, mengalami gangguan tidur kronis, PMS berat, PCOS, endometriosis, fibroid, atau gangguan hormon lainnya.
Jangan Lawan Tubuh Demi Tren
Intermittent fasting bukan solusi instan yang cocok untuk semua orang. Bagi perempuan, kunci utamanya adalah mendengarkan tubuh sendiri dan memahami cara kerja hormon.
Sehat bukan soal mengikuti tren yang sedang viral, melainkan tentang membuat keputusan yang menjaga tubuh tetap seimbang dan berfungsi optimal dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Floliving.com