INDOZONE.ID - Ujub merupakan salah satu penyakit hati yang paling licin sekaligus berbahaya.
Ia bekerja diam-diam, membuat seseorang kagum berlebihan pada dirinya sendiri.
Awalnya terasa seperti percaya diri atau puas atas amal, tapi pelan-pelan berubah menjadi rasa paling benar, paling taat, bahkan merasa sudah “aman” di sisi Allah.
Padahal, Al-Qur’an sudah mengingatkan dengan nada keras tentang bahaya perasaan semacam ini:
Baca juga: 5 Tips Menuntut Ilmu dalam Islam Agar Berkah dan Bermanfaat di Dunia dan Akhirat
“Katakanlah, apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103–104)
Artinya jelas: merasa sudah paling baik justru bisa menjadi awal kerugian terbesar.
Imam Ali R.A bahkan menyebut ujub sebagai jalan cepat menuju kehancuran:
“Orang yang ujub telah meresap ke dalam hatinya, maka ia sedang menuju kehancuran.” (Al-Saduq, al-‘Amali, hlm. 447)
Baca juga: Ilmu Bukan Sekedar Pintar: Ini Alasan Kenapa Islam Mewajibkan Umatnya Terus Belajar
Ujub Itu Apa, dan Apa yang Bukan?
Perlu diluruskan, ujub bukan berarti dilarang merasa senang setelah berbuat baik.
Bahagia karena bisa shalat tepat waktu, bersedekah, atau membantu orang lain — selama dibarengi rasa syukur dan rendah hati — justru terpuji.
Masalahnya muncul ketika amal dibesar-besarkan, lalu hati mulai berbisik: “Aku lebih baik dari yang lain.”
Baca juga: 10 Tanda Akhlak Mulia dalam Islam yang Sering Kita Abaikan
Atau merasa diri paling dekat dengan Allah, seolah kesalahan sudah tak lagi relevan.
Imam Ali R.A mengingatkan dengan tajam:
“Orang yang menganggap dirinya besar di sisi Allah, sejatinya tidak bernilai.” (Al-Amidi, Ghurar al-Hikam, hadis no. 8609)
Sementara Rasulullah SAW menggambarkan ciri orang bijak:
“Ia menganggap sedikit kebaikan orang lain sebagai banyak, dan memandang banyak kebaikan dirinya sebagai sedikit.” (Al-Noori, Mustadrak al-Wasa’il, jil. 1, hlm. 132)
Baca juga: Bukan Sekadar Sopan Santun, Ini Makna dan Peran Adab dan Etika dalam Islam
Wajah-Wajah Ujub yang Sering Tak Disadari
Ujub tidak selalu tampil vulgar. Ia punya banyak bentuk, bahkan sering bersembunyi di balik tampilan religius.
- Ujub dalam iman: seseorang merasa keimanannya adalah jasa besar bagi Allah. Ia lupa bahwa iman dan hidayah sepenuhnya adalah karunia, bukan prestasi pribadi.
- Ujub dalam akhlak dan “status spiritual”: ada yang merasa dirinya termasuk golongan khusus, dekat dengan Allah, bahkan menafsirkan musibah sebagai tanda keistimewaan, bukan ujian.
- Ujub dalam amal: ia yakin amalnya pantas diganjar besar. Di dalam hati, muncul protes saat melihat orang lain diuji atau pelaku maksiat tampak hidup nyaman.
- Merasa lebih suci dari orang lain: kesalahan orang lain terlihat jelas, tapi dosa sendiri luput dari perhatian. Hati sibuk menilai, bukan memperbaiki diri.
- Ujub pada keburukan: ini yang paling parah. Seseorang bangga dengan pemikiran sesat atau perilaku buruknya, menganggap diri “paling modern” dan menolak nasihat agama.
Baca juga: Jadwal Puasa Sunnah 1447–1448 H Lengkap dengan Hari Besar Islam 2026
Tentang kondisi ini, Imam Ja’far al-Shadiq menukil pernyataan Iblis:
“Jika aku berhasil menjerumuskan anak Adam dalam tiga hal, aku tidak peduli apa pun amalnya, karena amal itu tidak akan diterima: membesar-besarkan amal baiknya, melupakan dosanya, dan terjangkit ujub.” (Al-Saduq, al-Khisal, jil. 1, hlm. 112)
Kenapa Ujub Lebih Berbahaya dari Dosa?
Dosa masih bisa melahirkan penyesalan. Ujub justru mematikan rasa bersalah.
Inilah yang membuatnya lebih beracun. Dari ujub, lahir riya’, nifaq, kesombongan, dan kebiasaan merendahkan orang lain.
Baca juga: Puasa Ramadhan dalam Islam: Dalil, Tafsir, dan Keutamaannya bagi Setiap Muslim
Imam Ali R.A menegaskan:
“Tidak ada kesepian yang lebih mengerikan daripada kesepian akibat ujub.” (Nahjul Balaghah, hikmah no. 113)
Bahkan beliau berkata dengan tegas:
“Orang yang ujub tidak memiliki akal.” (Ghurar al-Hikam, hadis no. 1008)
Cara Mengobati Ujub: Mulai dari Diri Sendiri
Langkah awal melawan ujub adalah muhasabah — berani m ngoreksi diri dengan jujur.
Mintalah kepada Allah agar ditunjukkan cacat dan kelemahan diri, karena itu justru tanda kasih sayang-Nya.
Baca juga: Cara Bayar dan Hitung Utang Puasa Ramadhan Bertahun-Tahun Sesuai Syariat Islam
Ingat satu hal penting: hidup, ilmu, tenaga, dan setiap amal baik hanyalah pantulan dari izin Allah. Tanpa-Nya, kita tak mampu berbuat apa-apa.
Bisa jadi, Allah-lah yang menutupi banyak aib kita, bukan karena kita sudah sempurna.
Bahkan para nabi dan wali Allah mengakui ketidakmampuan mereka mensyukuri nikmat-Nya secara utuh.
Maka sikap paling aman adalah rendah hati, terus belajar, dan banyak memohon ampun.
Saat mengucap alhamdulillah, latih hati untuk benar-benar sadar bahwa segala pujian hanya milik Allah.
Baca juga: Pengertian, Tugas dan Keutamaan Muadzin dalam Islam
Jika sebuah kebaikan membuat kita makin tawadhu, itu tanda selamat.
Tapi jika justru melahirkan rasa bangga dan meremehkan orang lain, bisa jadi di situlah ujub mulai tumbuh.
Semoga Allah menjaga hati kita dari penyakit yang tak terlihat, tapi mampu menghapus amal tanpa terasa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Al-Islam.org