INDOZONE.ID - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan yang paling dinanti oleh umat Islam setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu di bulan suci Ramadhan. Pada pagi hari di tanggal 1 Syawal, umat Muslim disyariatkan untuk melaksanakan ibadah sholat Ied secara berjamaah.
Namun, ada satu rutinitas penting yang membedakan pagi Idul Fitri dengan hari-hari puasa sebelumnya, yakni anjuran untuk makan sebelum sholat Idul Fitri. Kebiasaan ini bukan sekadar rutinitas pengisi perut agar kuat melaksanakan ibadah, melainkan sebuah ibadah sunnah yang memiliki landasan hukum, sejarah, dan filosofi mendalam dalam ajaran Islam.
Berikut adalah rangkuman penjelasan mengenai alasan dianjurkannya makan sebelum berangkat sholat Idul Fitri, jenis makanan yang disunnahkan, hingga amalan-amalan pelengkap lainnya.
Baca juga: Potret Antusiasme Warga Malang Rayakan Lebaran, Berduyun-duyun Salat Ied di Masjid UMM
Alasan Disunnahkannya Makan Sebelum Sholat Idul Fitri
Alasan utama umat Islam dianjurkan untuk makan dan minum terlebih dahulu sebelum melangkah ke masjid atau lapangan adalah demi itbaan li Rasulillahi (mengikuti sunnah dan jejak langkah Nabi Muhammad SAW).
Sepanjang hidupnya, Rasulullah SAW tidak pernah keluar rumah untuk melaksanakan sholat Idul Fitri sebelum beliau menyantap makanan. Tujuan syariat ini diberlakukan adalah untuk menegaskan status keharaman berpuasa pada Hari Raya Idul Fitri. Makan di pagi hari menjadi pengumuman simbolis bahwa kewajiban puasa Ramadhan telah usai dan umat Islam kembali dihalalkan untuk makan dan minum di siang hari.
Selain itu, terdapat filosofi kebersamaan sosial (habluminannas) di balik kesunahan ini. Momen pagi hari raya adalah waktu di mana fakir miskin sedang menikmati hidangan dari pembagian zakat fitrah. Dengan ikut makan di pagi hari, umat Islam yang berkecukupan secara tidak langsung membersamai kebahagiaan kaum duafa dalam menikmati rezeki dari Allah SWT.
Anjuran Makanan: Mengapa Harus Kurma dalam Jumlah Ganjil?
Meskipun Anda diperbolehkan memakan hidangan apa saja (seperti ketupat atau opor ayam), makanan yang paling utama dan dicontohkan langsung oleh Nabi adalah kurma dalam jumlah ganjil (misalnya tiga, lima, atau tujuh butir).
Hal ini ditegaskan dalam hadis riwayat Anas bin Malik RA:
"Rasulullah tidak berangkat pada Idul Fitri hingga beliau memakan beberapa kurma." (HR. Bukhari).
Mengapa dianjurkan memakan kurma atau makanan yang manis? Mengutip penjelasan para ulama dari NU Online, makanan manis berfungsi secara medis dan spiritual untuk memulihkan energi serta menguatkan kembali pandangan mata yang mungkin melemah akibat berpuasa sebulan penuh. Jika tidak memiliki kurma, kesunahan ini tetap bisa diraih dengan mengonsumsi makanan atau minuman manis lainnya.
Menurut Imam As-Syafi'i dalam kitab Al-Umm, jika seseorang tidak sempat sarapan di rumah karena terburu-buru, ia tetap disunnahkan untuk makan atau minum di tengah perjalanan atau saat tiba di tempat sholat. Meninggalkan kesunahan ini secara sengaja sangat disayangkan, bahkan sebagian ulama menghukuminya makruh.
Perbedaan Mendasar dengan Sholat Idul Adha
Penting untuk dicatat bahwa kesunahan makan ini hanya berlaku pada saat Idul Fitri. Aturan ini berbanding terbalik ketika umat Islam merayakan Idul Adha.
Pada saat Idul Adha, umat Islam justru disunnahkan untuk menahan diri dari makan dan minum sebelum sholat Ied. Kesunahan makan baru dianjurkan setelah sholat Idul Adha selesai, dengan harapan makanan pertama yang disantap pada hari itu berasal dari daging hewan kurban yang baru saja disembelih dan disedekahkan.
Baca juga: Berapa Kali Takbir Sholat Idul Fitri? Ini Rincian Jumlah, Tata Cara, dan Bacaannya
Amalan Sunnah Lainnya Jelang Sholat Idul Fitri
Selain menyantap kurma, sempurnakanlah pahala di pagi Idul Fitri Anda dengan melakukan tiga amalan sunnah berikut ini:
- Mandi Sunnah Sebelum Sholat Ied
Sangat dianjurkan untuk membersihkan diri dengan mandi wajib sebelum mengenakan pakaian terbaik. Niat mandinya adalah:
Nawaitul ghusla li 'îdil fithri sunnatan lillâhi ta'âlâ. (Aku niat mandi untuk merayakan Idul Fitri sebagai sunnah karena Allah ta'ala). - Mengambil Rute Jalan yang Berbeda
Nabi Muhammad SAW selalu menempuh jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat sholat. Hikmah sosiologisnya adalah agar kita dapat bertemu dengan lebih banyak warga sekitar, bersilaturahmi, saling bersalaman, dan mendoakan satu sama lain di hari kemenangan. - Memperbanyak Lantunan Takbir
Sesuai anjuran Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 185, umat Islam disunnahkan mengumandangkan takbir sejak malam terakhir Ramadhan (malam takbiran) hingga imam naik ke mimbar untuk berkhutbah di pagi hari 1 Syawal. Takbir bisa dilantunkan di mana saja, baik di rumah, di perjalanan, maupun saat duduk menunggu sholat di masjid.
Memulai hari dengan seteguk air atau sebutir kurma mungkin terlihat sepele, namun di situlah letak ketaatan seorang hamba dalam mengikuti setiap detail sunnah utusan-Nya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NU Online