Kamis, 26 MARET 2026 • 13:40 WIB

9 Tanda Kamu Pacaran dengan “Si Narsisistik” yang Menguras Mentalmu

Author

Ilustrasi berhubungan dengan soerang nasistik (freepik).

INDOZONE.ID - Di zaman sekarang, kata “narsis” sering banget dipakai buat nyebut orang yang doyan selfie atau suka pamer di media sosial

Tapi faktanya, dalam dunia psikologi, narsisme bukan sekadar soal percaya diri berlebihan.

Istilah ini berkaitan dengan kondisi serius bernama narcissistic personality disorder (NPD) — gangguan kepribadian yang bikin seseorang merasa paling hebat, selalu butuh pengakuan, dan minim empati terhadap orang lain. 

Kalau kamu terjebak dalam hubungan dengan orang seperti ini, dampaknya bisa bikin mental capek banget.

Baca juga: 5 Cara Stop Self-Diagnose dari Internet, Biar Nggak Makin Parno dan Salah Kaprah!

Nah, ini dia tanda-tanda yang sering muncul — dan mungkin tanpa kamu sadari sedang kamu alami:

1. Awalnya Terlalu Indah Seperti Drama

Di fase awal, semuanya terasa sempurna. Dia super perhatian, romantis, dan cepat banget bilang cinta. Tapi hati-hati — intensitas yang terlalu cepat justru bisa jadi red flag. 

Kamu belum benar-benar kenal, tapi sudah dibawa ke hubungan yang terasa “serius”.

2. Obrolan Selalu Balik ke Dia

Ngobrol sama dia rasanya kayak nonton monolog. Topik apa pun ujung-ujungnya balik ke cerita hidupnya, pencapaiannya, atau kehebatannya. 

Saat kamu mulai cerita, responnya dingin atau malah mengalihkan lagi ke dirinya sendiri.

Baca juga: Pola Pikir di Balik Obsesi Masyarakat Tiongkok terhadap Uang, Bukan Sekadar Kekayaan

3. Nggak Bisa Hidup Tanpa Pujian

Di balik kepercayaan dirinya, ada kebutuhan besar untuk terus divalidasi. Dia ingin selalu dipuji dan diakui. Kalau tidak, dia bisa cari cara supaya tetap jadi pusat perhatian — bahkan dengan menjatuhkan orang lain.

4. Empatinya Tipis Banget

Saat kamu lagi butuh didengar atau lagi down, dia justru terlihat cuek. Responnya datar, bahkan terkesan gak peduli. Akibatnya, kamu sering merasa sendirian meskipun sedang dalam hubungan.

Baca juga: Paskah 2026: Jadwal Lengkap Pekan Suci, Makna Kebangkitan, dan Tradisi Unik di Indonesia

5. Hubungan Sosialnya Gak Bertahan Lama

Biasanya, orang dengan kecenderungan ini sulit menjaga hubungan jangka panjang. Entah itu pertemanan atau hubungan keluarga, konflik sering terjadi. 

Bahkan, dia bisa bikin kamu merasa bersalah kalau terlalu dekat dengan orang lain.

6. Sering “Menjatuhkan” Secara Halus

Awalnya mungkin terasa seperti bercanda. Tapi lama-lama, komentar negatifnya mulai menyakitkan. Dari penampilan sampai pilihan hidup, semua bisa jadi bahan kritik yang bikin kamu kehilangan percaya diri.

Baca juga: Apa Itu Focus Group Discussion (FGD)? Pengertian, Tujuan, dan Tahapannya

7. Jago Manipulasi (Gaslighting)

Dia bisa memutar fakta sampai kamu jadi ragu dengan perasaan sendiri. Kamu jadi sering merasa bersalah, bingung, bahkan mempertanyakan apakah kamu yang salah — padahal sebenarnya tidak.

8. Gak Pernah Mau Disalahkan

Berdebat dengan dia? Siap-siap capek sendiri. Dia selalu merasa paling benar, susah diajak kompromi, dan hampir gak pernah minta maaf.

Baca juga: Rumus Keliling Persegi Panjang serta Contoh Soal dan Pembahasannya

9. Reaksinya Ekstrem Saat Kamu Mau Pergi

Ketika kamu mulai menjaga jarak atau ingin mengakhiri hubungan, sikapnya bisa berubah drastis. Bisa jadi marah, menyalahkan, atau bahkan mencoba menyakiti kamu secara emosional.

Lalu, Harus Gimana?

Kalau kamu merasa tanda-tanda ini relate, penting untuk mulai mengambil langkah:

  • Sadari kalau kamu layak punya hubungan yang sehat
  • Dekatkan diri ke teman dan keluarga yang suportif
  • Pertimbangkan bantuan profesional seperti psikolog
  • Hindari debat yang gak ada ujungnya
  • Kalau sudah terlalu toxic, berani ambil keputusan untuk pergi

Baca juga: 5 Cara Mengatasi Rasa Sesal Setelah Kehilangan Seseorang, Biar Hati Lebih Tenang!

Yang perlu kamu ingat: kamu gak bisa menyembuhkan seseorang hanya dengan cinta.

Memang, tidak semua orang yang punya satu-dua sifat di atas langsung bisa dilabeli narcissist. 

Tapi kalau perilaku itu terus terjadi dan bikin kamu gak bahagia, itu sudah cukup jadi alarm.

Hubungan yang sehat itu bukan soal siapa yang paling dominan. Tapi tentang saling menghargai, memahami, dan tumbuh bersama — tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU