Jumat, 10 APRIL 2026 • 15:14 WIB

Monumen Anyer-Panarukan, Penanda Sejarah sekaligus Penderitaan Rakyat di Masa Kolonial

Author

Monumen Anyer-Panarukan (google maps)

INDOZONE.ID - Di balik megahnya sebuah monumen di Ujung timur Pulau Jawa, tersimpan cerita kelam yang jarang dibahas secara mendalam. 

Monumen tersebut adalah Monumen 1000 Km Anyer–Panarukan, sebuah penanda sejarah yang bukan hanya soal pembangunan jalan panjang, tetapi juga tentang penderitaan ribuan rakyat di masa kolonial.

Monumen ini berdiri untuk mengenang proyek ambisius pembangunan jalan raya sepanjang sekitar 1.000 kilometer yang membentang dari Anyer di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur Jawa. 

Jalan ini dibangun pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels antara tahun 1807 hingga 1810.

Baca juga: Kenapa Awan Mendung Berwarna Hitam? Penjelasan Sains Lengkap

Lokasi Monumen dan Perubahan Fungsinya

Monumen 1000 Km Anyer–Panarukan berada di Desa Wringinanom, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo. 

Meski kisah yang diangkat berasal dari ratusan tahun lalu, monumen ini sendiri tergolong baru karena baru selesai dibangun pada September 2014.

Menariknya, sebelum menjadi monumen bersejarah, lokasi ini dulunya dikenal dengan tugu berbentuk udang. 

Hal tersebut mencerminkan identitas Panarukan sebagai salah satu daerah penghasil udang air payau. 

Kini, fungsi simboliknya berubah menjadi pengingat sejarah nasional yang jauh lebih dalam dan emosional.

Baca juga: Bapak Guru ini Sampaikan Pesan Tak Biasa Soal Pernikahan, Ujungnya Bikin Murid Menangis

Proyek Jalan Raya Pos: Ambisi Militer Kolonial

Pembangunan jalan ini dikenal sebagai Jalan Raya Pos atau sering disebut Jalan Daendels. 

Proyek ini bukan sekadar pembangunan infrastruktur biasa, melainkan strategi militer Belanda untuk mempertahankan Pulau Jawa dari ancaman Inggris yang saat itu sedang ekspansif di kawasan Asia.

Dengan adanya jalan ini, mobilisasi pasukan dan logistik menjadi lebih cepat dan efisien. 

Selain itu, jalan ini juga menghubungkan berbagai wilayah penting di Jawa, mulai dari kota-kota administratif hingga pusat ekonomi kolonial.

Baca juga: Kapan Lebaran Haji 2026? Ini Jadwal Lengkap Idul Adha dan Cuti Bersamanya

Berkaitan dengan Sistem Tanam Paksa

Tak hanya untuk kepentingan militer, jalan ini juga memiliki peran besar dalam mendukung sistem eksploitasi kolonial. 

Jalur Anyer–Panarukan mempermudah distribusi hasil bumi dari berbagai daerah di Jawa menuju pelabuhan-pelabuhan utama seperti Cirebon.

Dari sana, komoditas seperti kopi, tebu, dan rempah-rempah dikirim ke Belanda. Sistem ini kemudian dikenal sebagai bagian dari praktik ekonomi kolonial yang menekan rakyat, termasuk dalam skema tanam paksa yang memperkaya penjajah namun menyengsarakan pribumi.

Baca juga: Gadis 11 Tahun Sulap Pohon di Hackney Marshes Jadi Karakter Unik

Dibangun dengan Kerja Paksa dan Korban Jiwa

Di balik manfaat strategisnya bagi pemerintah kolonial, pembangunan jalan ini menyimpan tragedi kemanusiaan yang sangat besar. Proyek ini dilakukan dengan sistem kerja paksa yang dikenal sebagai rodi.

Ribuan rakyat dipaksa bekerja tanpa upah, dengan kondisi yang sangat buruk, minim makanan, dan tanpa perlindungan kesehatan. Akibatnya, banyak pekerja yang jatuh sakit, kelelahan, hingga meninggal dunia.

Diperkirakan setidaknya 24.000 orang tewas selama proses pembangunan jalan ini. Angka tersebut bahkan diyakini belum mencakup seluruh korban yang tidak tercatat dalam sejarah.

Kini, Monumen 1000 Km Anyer–Panarukan bukan hanya sekedar bangunan fisik, tetapi juga simbol dari perjuangan dan penderitaan rakyat Indonesia di masa penjajahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Indonesiakaya.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU