INDOZONE.ID - Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI) dan terjadi di dalam grup obrolan kembali jadi pengingat bahwa kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik.
Kadang, bentuknya justru muncul dari hal yang dianggap sepele, seperti candaan di tongkrongan atau chat grup.
Yang lebih mengkhawatirkan, banyak dari perilaku ini masih dinormalisasi. Padahal, di baliknya ada masalah yang lebih besar, yakni rape culture.
Baca juga: Kasus Dugaan Pelecehan di KRL Libatkan Dosen Unpam, Begini Klarifikasi dan Fakta Terbarunya!
Ketika Candaan Jadi Bentuk Pelecehan
Dalam kasus ini, dugaan pelecehan terjadi lewat percakapan di grup chat. Biasanya, bentuknya bisa berupa:
- Candaan seksual atau porn jokes
- Komentar yang mengarah pada tubuh atau seksualitas seseorang
- Objektifikasi perempuan
Sering kali, pelaku atau bahkan anggota grup lain akan berdalih, “Ah, cuma bercanda.”
Padahal, tidak semua hal bisa dibungkus sebagai humor. Ketika candaan tersebut membuat orang lain tidak nyaman, merendahkan, atau melecehkan, itu bukan lagi sekadar lelucon melainkan bentuk pelecehan.
Apa Itu Rape Culture?
Rape culture adalah kondisi di mana kekerasan dan pelecehan seksual dianggap biasa, diremehkan, atau bahkan dijadikan bahan candaan oleh masyarakat.
Dalam budaya ini pelecehan sering dianggap hal lumrah, pelaku kerap dibela atau dimaafkan, korban justru disalahkan atau tidak dipercaya, dan batasan pribadi sering diabaikan.
Hal ini membuat lingkungan jadi tidak aman, terutama bagi perempuan.
Kenapa Hal Ini Bisa Terjadi?
Salah satu penyebab utamanya adalah cara pandang yang masih menganggap perempuan sebagai objek bukan individu yang harus dihormati sepenuhnya.
Sejak lama, perempuan di-sexualize sejak usia muda, dijadikan bahan candaan, dan dinilai dari tubuh atau penampilan.
Ditambah lagi, tekanan sosial membuat banyak orang takut menegur karena khawatir dianggap baper, ikut tertawa agar tidak dikucilkan, dan menganggap ini sebagai hal biasa dalam pergaulan.
Padahal, diam atau ikut tertawa justru memperkuat budaya tersebut.
Baca juga: Fenomena Fan Culture: Ketemu Komunitas Baru yang Seru Tapi Dramanya Bikin Overwhelming
Dampaknya Nyata, Bukan Sekedar Candaan
Meskipun terjadi di ruang digital seperti di grup chat, dampaknya tetap nyata bagi korban:
- Merasa tidak nyaman dilecehkan
- Kehilangan rasa aman di lingkungan sosial
- Trauma atau tekanan psikologis
Yang sering dilupakan, tidak semua orang bisa menertawakan hal yang menyangkut dirinya sendiri.
Kenapa Kita Harus Berhenti Menormalisasi?
Kasus seperti ini menunjukkan bahwa rape culture masih hidup di sekitar kita, bahkan di lingkungan yang seharusnya menjunjung tinggi hukum dan keadilan.
Kalau hal-hal kecil seperti candaan seksual terus dianggap wajar, maka batas antara bercanda dan melecehkan akan semakin kabur.
Dan dari situlah, kekerasan yang lebih besar bisa berawal.
Mulai dari Lingkungan Terdekat
Perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Justru, langkah kecil bisa punya dampak besar.
Kamu bisa memulainya dengan cara:
- Tidak ikut menertawakan candaan yang melecehkan
- Berani menegur, meski dengan cara santai
- Menghormati batasan dan kenyamanan orang lain
- Menciptakan ruang yang aman di lingkungan pertemanan
Baca juga: Tersadar Usai Nonton 'Walid', Mantan Santriwati Laporkan Ustaz Ponpes di Lombok Barat atas Pelecehan
Kasus dugaan pelecehan oleh mahasiswa Fakultas Hukum ini bukan sekadar soal individu, tapi juga cerminan dari budaya yang masih membiarkan hal-hal kecil dinormalisasi.
Sudah saatnya kita berhenti menganggap semua hal bisa dijadikan bahan bercanda. Karena pada akhirnya, ini bukan soal humor, melainkan soal rasa hormat dan keamanan satu sama lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Rapecrisis.org.uk, Inside.southernct.edu, Antara