Selasa, 19 MEI 2026 • 11:05 WIB

Ini Rahasia Teknik Journaling yang Efeknya Nggak Main-Main, Rasakan Hanya dalam 5 Hari!

Author

Ilustrasi journaling (pexels/@jessbaileydesign) (pexels/@jessbaileydesign)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih ngerasa kepala penuh banget, tapi bingung harus cerita ke siapa? Atau semua pikiran numpuk sampai rasanya sesak sendiri? 

Nah, ada satu cara simpel yang lagi banyak dibahas lagi karena efeknya ternyata bukan sekadar “katarsis” biasa: journaling.

Tapi jangan salah, journaling yang dimaksud di sini bukan cuma nulis “Aku hari ini sedih” atau “Aku lagi capek”. Ada teknik tertentu yang ternyata sudah diteliti dan hasilnya cukup mengejutkan!

Baca juga: Cara Membuat Anak Berani untuk Ikut Lomba, Jangan Sampai Orang Tua Salah Mendampingi!

Bukan Sekadar Nulis Diary, Tapi “Buang Isi Kepala” ke Kertas

Salah satu metode paling terkenal dalam journaling adalah free-writing alias menulis bebas.

Konsepnya simpel banget: kamu nulis apa pun yang muncul di kepala tanpa sensor. Nggak perlu mikirin ejaan, susunan kalimat, apalagi estetika tulisan. Pokoknya, semua yang ada di pikiran langsung “ditumpahin” ke kertas atau catatan digital.

Bisa campur aduk, seperti:

  • Pikiran yang lagi kacau
  • Emosi yang belum selesai
  • Memori lama yang tiba-tiba muncul
  • Bahkan hal-hal random yang nggak nyambung sekalipun

Baca juga: Sering Diabaikan, Kebiasaan Simpel Ini Disebut Bisa Bantu Turunkan Risiko Kanker

Justru disitu poin pentingnya!

Ternyata Efeknya Bisa Cepat: Cuma 3–5 Hari!

Menurut penelitian psikolog James Pennebaker (1997), menulis tentang pengalaman emosional bisa membantu kondisi mental jadi lebih stabil. Dan yang menariknya, efek journaling ini nggak butuh waktu lama. 

Cukup 15–30 menit per hari dan dilakukan 3–5 hari berturut-turut. Atau kalau mau lebih santai, bisa juga seminggu sekali selama satu bulan.

Dan ya, hasilnya sudah mulai bisa terasa bahkan dalam waktu singkat.

Baca juga: Dinkes DKI Pantau Enam Kasus Suspek Hantavirus di Jakarta

Kenapa Nulis Bisa Bikin Lega? Ini Penjelasan Sederhananya

Banyak orang nggak sadar kalau mereka sering “menahan” emosi sendiri. Dipendam, disimpan, dan akhirnya numpuk tanpa disadari.

Nah, journaling jadi semacam “katup pelepas”.

Saat semua pikiran ditulis, otak seperti punya ruang kosong baru. Hal-hal yang tadinya berantakan di kepala mulai terlihat lebih jelas dan terstruktur.

Karena jurnal itu pribadi, kita juga jadi lebih jujur tanpa takut dihakimi orang lain. Dan justru di situlah efek lega itu muncul.

Baca juga: Puskesmas Baru di Meruya Selatan Ini Bikin Warga Antusias, Lansia 83 Tahun Ikut Rutin Datang

Cara Mulai Journaling Tanpa Ribet

Kalau kamu baru mau coba, nggak perlu setting-an yang ribet atau peralatan mahal. Cukup siapkan kertas, notes di HP, atau aplikasi untuk menulis di tablet kamu, lalu mulai dengan cara ini:

Tulis semua hal yang paling kamu rasakan dan pikirkan saat ini. Nggak perlu disaring apa yang mau ditulis. Mau itu soal masa lalu, hubungan, tekanan hidup, atau hal yang lagi bikin overthinking — tulis aja semuanya.

Nggak ada aturan baku. Nggak ada tulisan yang “salah”.

Yang penting: jujur.

Baca juga: 7 Buah yang Bisa Meredakan Asam Urat secara Alami, Harus Kamu Tahu!

Bukan Cuma Curhat: Ada Juga Journaling Versi Lebih “Ringan”

Kalau nulis emosi yang dalam terasa terlalu berat, ada alternatif lain yang lebih santai tapi tetap bermanfaat: Gratitude Journaling (Latihan Rasa Syukur)

Gratitude journaling lebih fokus ke sisi positif hidup.

Kamu cukup menulis hal-hal kecil yang kamu syukuri setiap hari. Nggak harus sesuatu yang besar — bahkan hal sederhana seperti “makanan di meja makan hari ini” atau “hari ini nggak telat bangun” juga cukup.

Menurut penelitian Kaczmarek dkk. (2015), kebiasaan ini bisa bantu meningkatkan mood dan rasa bahagia secara bertahap.

Baca juga: Rajin Olahraga Bisa Bantu Turunkan Risiko Kanker? Ini Penjelasan yang Jarang Disadari Banyak Orang

Gratitude journaling bisa juga dikreasikan dalam bentuk lain, misalnya daftar syukur harian, catatan momen kecil yang bikin senyum, sampai bikin kolase hal-hal positif.

Jadi, Journaling Itu Worth It Nggak?

Jawabannya: iya, kalau dilakukan dengan cara yang tepat.

Journaling bukan sekadar tren self-healing yang viral di media sosial. Ada dasar ilmiahnya, dan yang lebih penting — cara ini bisa dilakukan siapa saja tanpa modal besar.

Nggak perlu jago nulis, nggak perlu puitis, dan nggak perlu panjang.

Baca juga: Sering Begadang Demi Scroll TikTok atau Netflix? Hati-Hati, Dampaknya Bisa Picu Risiko Kanker!

Kadang, yang kamu butuhkan bukan jawaban dari luar. Tapi ruang aman buat “ngeluarin semua isi kepalamu” dulu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Healthline

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU