INDOZONE.ID - Gangguan kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan (anxiety) selama ini kerap dianggap hanya memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Namun, sebuah studi terbaru mengungkap fakta yang mengejutkan. Masalah mental ternyata bisa memperpendek umur seseorang hingga puluhan tahun.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Lancet Regional Health–Europe mengungkapkan bahwa orang dengan gangguan mental umum memiliki harapan hidup yang jauh lebih pendek.
Rentangnya tidak main-main, yaitu berkurang sekitar 10 hingga 20 tahun dibandingkan populasi umum.
Baca juga: 6 Manfaat Daun Kemuning untuk Kesehatan yang Jarang Diketahui
Lantas, apa yang menyebabkan angka harapan hidup tersebut menurun drastis? Peneliti menyebut salah satu pemicu utamanya adalah melonjaknya risiko penyakit kardiovaskular, seperti penyakit jantung dan stroke.
"Orang yang hidup dengan gangguan kesehatan mental memiliki risiko penyakit jantung, stroke, maupun kematian akibat penyakit kardiovaskular sekitar 50 persen hingga dua kali lebih tinggi," demikian dikutip dari laporan penelitian via Best Life, Rabu (15/7/2026).
Hubungan antara kesehatan mental dan fisik ini juga disebut bersifat dua arah. Artinya, orang yang mengidap penyakit jantung juga berisiko tinggi mengalami masalah psikologis.
Bahkan, data menunjukkan lebih dari 40 persen pasien penyakit kardiovaskular diketahui mengidap depresi atau kecemasan.
Baca juga: 7 Manfaat Daun Pacar Cina untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
Secara lebih rinci, riset ini memaparkan seberapa besar ancaman tersebut mengintai tubuh kita:
- Depresi: Meningkatkan risiko terkena penyakit jantung sebesar 72 persen.
- Gangguan Kecemasan (Anxiety): Dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular sebesar 41 persen.
- Skizofrenia: Memiliki risiko tertinggi, dengan kemungkinan meningkat hingga 95 persen atau hampir dua kali lipat mengalami penyakit kardiovaskular.
Baca juga: 6 Manfaat Daun Murbei untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
Gara-gara Stres Kronis dan Gaya Hidup Buruk
Peneliti menjelaskan bahwa hubungan erat ini dipengaruhi oleh mekanisme biologis dan perubahan perilaku. Stres berkepanjangan yang memicu depresi atau kecemasan memicu keluarnya hormon stres dan proses peradangan di dalam tubuh. Respons inilah yang memperburuk kondisi jantung.
Di sisi lain, masalah mental juga sangat memengaruhi gaya hidup sehari-hari seseorang.
"Gangguan mental juga sering kali memengaruhi kebiasaan sehari-hari, seperti meningkatnya kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola tidur yang buruk, hingga pola makan yang tidak sehat," terang peneliti dalam studinya.
Faktor-faktor buruk dari gaya hidup inilah yang pada akhirnya berakumulasi menjadi penyakit jantung tersembunyi.
Baca juga: 7 Manfaat Daun Jambu Biji untuk Kesehatan yang Perlu Kamu Tahu
Sayangnya, meski risikonya tinggi, penderita gangguan mental justru paling jarang melakukan pemeriksaan fisik atau skrining jantung.
Hal ini terjadi karena adanya stigma, keterbatasan akses ke layanan kesehatan, hingga minimnya dukungan sosial (support system).
Oleh karena itu, para ahli menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan yang terintegrasi untuk memeriksa mental sekaligus fisik secara bersamaan.
"Penanganan depresi, kecemasan, dan gangguan mental lainnya sejak dini tidak hanya membantu meningkatkan kualitas hidup, tetapi juga berpotensi mengurangi risiko penyakit jantung dan memperpanjang harapan hidup," pungkas laporan itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Best Life