INDOZONE.ID - Di tengah biaya pendidikan yang tinggi, orang tua pasti ingin anaknya dapat fasilitas sekolah yang bagus, kurikulum terbaik, sekaligus perlakuan guru yang sempurna. Terlebih ketika memilh sekolah untuk gen alpha yang sangat kritis di era sekarang.
Kurikulum pembelajaran jadi salah satu pertimbangan yang harus dipikirkan orang tua saat memilih sekolah. Salah satu kurikulum yang diterapkan di banyak sekolah internasional di Indonesia adalah International Baccalaureate (IB).
Kepala Veritas Intercultural School Kelapa Gading Lauren Sarinah menerangkan, implementasi kurikulum IB sangat relevan untuk generasi sekarang. Kurikulum ini membantu mereka agar lebih siap menghadapi tantangan dan sukses dalam kehidupan.
“Harapannya kami bisa bekerja sama dengan orang tua untuk menyukseskan anak-anak, bukan hanya sukses di akademik, tetapi juga sukses dalam kehidupannya," kata Lauren saat ditemui usai peluncuran identitas baru Veritas Intercultural School (VIS) yang sekaligus rangkaian peringatan Hari Anak Nasional di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (23/7/2026).
Ia menambahkan, sekolah yang relevan untuk anak-anak gen alpha saat ini tak sekadar menempa kecerdasan intelektual dan akademik si kecil. Seorang guru juga harus mengajarkan tentang kepekaan hati untuk saling memahami, menghargai keberagaman, dan peduli terhadap sesama atau berempati.
“Dunia ini sudah berubah. Rqsanya tidak pas kalau memilih sekolah copy paste pendidikan kita dulu. Orangtua harus mempersiapkan masa depan anak 20 tahun lagi, kira-kira tantangan apa sih yang dihadapi anak-anak ini, AI itu menjadi tantangan tapi klo tdk pakai ai rasanya tdk mgkin,
Menurutnya, orangtua dan guru perlu bekali anak-anak soal keterampilan dan rasa empati. Sebab, anak yang pintar bukan hanya nilai matematika ra dan bahasa yang bagus, tapi ada keyerampilan yang diasah
“Anak-anak harus kenal kemampuan menganalisa, berkomunikasi, punya rasa empati. Sebagai orangtua wajib melihat sekolah bukan hanya namanya terkenal puluhan tahun dan mencetak nilai akademik bagus, tapi kita juga tahu sekolah ini membekali anak-anak dengan keterampilan yang mereka perlukan,” paparnya.
Baca juga: Bergaya Bak Model, Bocah Ini Sukses Jadi Sorotan di Hari Pertama Sekolah
Rupanya kondisi kegalauan saat memilih sekolah untuk buah hatinya juga dirasakan pasangan selebriti Artika Sari Devi dan Baim.
Mereka menyekolahkan kedua putrinya, Abbey dan Zoe di VIS Kelapa Gadimg sejak pre-school hingga SMA, masa-masa belum transformasi sampai sekarang. Agar pendidikan anaknya terpenuhi, mereka sangat selektif memilih sekolah.
Terlebih keduanya memilih anak berbeda generasi dari gen z dan gen alpha. Dalam pengasuhannya, Artika dan Baim mengaku menghadapi tantangan yang berbeda-beda.
Artika mengutarakan setiap anak punya sifat dan karakter yang berbeda-beda. Ia juga harus tetap membagi waktu untuk urusan pekerjaan dan mendampingi putrinya sejak bayi hingga tumbuh sebagai remaja.
“Kami punya anak Gen Z dan Gen Alpha. Gen Z yang sekarang tuh udah kelas SMA, udah naik kelas 3. Dan Gen Alpha ini sih yang banyak mau dan banyak pergerakan ini sekarang udah kelas 2 SMP gitu. Memang pendekatannya jadi berbeda,” ungkapnya.
Putrinya, Abbey tumbuh sebagai Gen Z yang masa remajanya datang saat pandemi. “Jadi semua udah berubah online. Itu juga saya ngeliat waktu itu sekolah ini sangat memperhatikan dengan sangat concern sekali,” terang Artika.
Ia dan Baim pun tetap mengajak putrinya untuk tetap bersosialisasi di sekolah maupun di luar ruangan. Sampai mereka mengajak putrinya untuk latihan anggar yang cukup ekstrem.
“Kalau anak yang Gen Alpha, tantangannya terus terang beda lagi ya. Kalau ngomong era digital memang untuk generasi Alpha ini sangat digital sekali sekarang,” imbuh bintang film “Dia Bukan Ibu” ini.
Pengalaman menyekolahkan anak selama lebih dari satu dekade di kedua putrinya di VIS Kelapa Gading, membuat Artika dan Baim semakin yakin bahwa memilih sekolah tidak bisa hanya berdasarkan fasilitas mewah atau status internasional semata.
Menurut mereka, ada beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan orangtua dalam memilih sekolah yang relevan dengan tantangan Gen Z dan Gen Alpha saat ini.
Berikut 5 tipsnya yang bisa jadi bahan pertimbangan ketika memilih sekolah untuk buah hati dari Baim dan Artika:
1. Pilih Lingkungan yang Bikin Anak Nyaman
Bagi Artika, kenyamanan anak menjadi faktor utama ketika memilih sekolah. Menurutnya, anak yang merasa diterima dan bahagia di sekolah akan lebih mudah berkembang, baik secara akademik maupun sosial.
“Terutama untuk bagaimana sekolah ini bisa tetap menciptakan ruang bukan hanya untuk belajar, tapi ngajakin anak-anak ini setelah sekolah selesai tetap bersosialisasi,” ujar Artika.
2. Perhatikan Komunikasi Antara Sekolah dan Orangtua
Di mata Artika, sekolah ideal bukan hanya fokus pada siswa, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka dengan orangtua. Ketika muncul kendala, sekolah dan orangtua bisa bekerja sama untuk mencari solusi terbaik bagi anak.
“Kalau kami ada keluhan atau ada kendala dengan anak kami di sekolah, selalu ditanggapi dengan positif, dicarikan solusinya. Komunikasi seperti ini yang selalu membuat kami sangat berkesan sekali,” bebernya.
3. Pastikan Sekolah yang Membangun Karakter
Artika menilai pendidikan karakter menjadi bekal penting yang harus dimiliki anak. Menurutnya, empati, etika, disiplin, dan kemampuan menghargai orang lain sama pentingnya dengan pencapaian akademik.
Karena itu, ia dan sang suami tidak hanya fokus pada nilai atau prestasi, tetapi juga pada pembentukan karakter anak sejak dini.
"Selain anak menjadi cerdas, kami ingin mereka punya etika dan empati. Itu yang kami kedepankan sebagai orangtua," tuturnya.
Artika juga menilai banyak sekolah saat ini terlalu menonjolkan aspek akademis tanpa memberikan perhatian yang cukup pada nilai-nilai dasar dalam kehidupan.
“Sekolah-sekolah banyak yang berlomba-lomba untuk mendepankan jargon akademis, tapi kadang-kadang ya basicnya itu yang tidak didalami,” paparnya.
4. Cari Sekolah yang Mendukung Beragam Potensi Anak
Baim percaya setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Karena itu, sekolah perlu memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya, tidak hanya berfokus pada nilai akademik.
"Multiple intelligence itu nyata. Anak tidak hanya pintar matematika, ada yang berbakat di musik, olahraga, bahasa, dan banyak bidang lainnya. Sekolah harus bisa melihat itu," jelasnya.
5. Pilih Kurikulum yang Relevan
Banyak sekolah yang menawarkan berbagai macam kurikulum sekolah terbaik, tapi sayang belum tentu itu relevan dengan karakter anak. Namun, Artika dan Baim sangat happy melihat tumbuh kembang kedua putrinya optimal dengan pembelajaran kurikulum International Baccalaureate (IB).
“Dengan berubah kurikulum menjadi IB di sekolah ini, kami juga merasa bahwa memang ternyata IB juga menjadi salah satu kurikulum yang saat ini, termasuk kurikulum yang menjadi top of mind kalau kita memilih sekolah.”
“Kami rasakan dari pengalaman-pengalaman sebelumnya, anak-anak ini bukan hanya mereka tumbuh, bisa menghargai diri sendiri, tapi mereka juga bisa menghargai orang lain,” ungkap Artika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan