INDOZONE.ID - Sebuah proposal terbaru dari media China daratan, menyarankan agar universitas menawarkan mata kuliah tentang pendidikan cinta untuk membantu mahasiswa menyeimbangkan studi dengan hubungan romantis.
Hal ini bertujuan untuk meningkatkan angka pernikahan dan kelahiran yang semakin tahun semakin menurun di negara tersebut.
Proposal tersebut diuraikan dalam artikel berjudul "Universitas Harus Berfungsi sebagai Platform Utama untuk Pendidikan Cinta dan Pernikahan".
Artikel ini diterbitkan pada 2 Desember di China Population Daily, yang ditulis oleh Yang Hualei dan Li Shuangshuang dari Sekolah Administrasi Publik di Universitas Ekonomi dan Hukum Zhongnan, Provinsi Hubei.
Laporan ini dimulai dengan pemaparan temuan survei terbaru yang menunjukkan bahwa generasi muda menjadi kontributor utama angka kelahiran di masa depan, namun semakin enggan menjalin hubungan romantis.
Baca Juga: Kalahkan China, Kini India Negara Penduduk Terbanyak Dunia dengan 1,417 Miliar Jiwa
Menurut survei tersebut, sebanyak 56,9 persen responden tidak tertarik untuk berkencan.
Para penulis berpendapat bahwa alasan utama mahasiswa menghindari hubungan romantis adalah kurangnya pemahaman tentang cara menyeimbangkan waktu antara studi dan cinta.
Hal ini menyoroti adanya kesenjangan signifikan dalam pendidikan hubungan yang sistematis dan ilmiah, sehingga mahasiswa memiliki persepsi yang tidak jelas tentang koneksi emosional.
Di samping itu, studi tersebut juga menyebutkan bahwa 82 persen mahasiswa melaporkan bahwa universitas mereka tidak menawarkan mata kuliah tentang cinta dan hubungan, hanya sekitar 2,5 persen yang pernah mengambil mata kuliah serupa.
Hampir 66 persen menyatakan minat untuk memiliki program-program tersebut di universitas mereka.
Berdasarkan survei tersebut, para penulis menganjurkan supaya universitas dapat memberikan pengetahuan yang sistematis dan ilmiah mengenai pendidikan mata kuliah cinta bagi para mahasiswa.
Artikel tersebut juga memberikan lima rekomendasi praktis, termasuk mengintegrasikan mata kuliah ini ke dalam kurikulum mata kuliah pilihan universitas, memanfaatkan model pengajaran hibrida yang menggabungkan metode daring dan luring, serta membangun mekanisme umpan balik untuk evaluasi mata kuliah.
Di samping itu, baik pemerintah maupun universitas harus mengalokasikan sumber daya yang diperlukan untuk melatih instruktur yang berkualifikasi.
Keluarga juga harus mempromosikan sikap yang sehat terhadap cinta dan pernikahan.
Inisiatif ini secara umum dipandang sebagai respons terhadap angka pernikahan yang mencapai rekor terendah dan penurunan angka kelahiran di China.
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah nasional dan daerah telah memperkenalkan berbagai kebijakan pronatalis, seperti menindak tebusan pengantin yang mahal, memberikan subsidi tunai, dan menawarkan insentif perumahan bagi keluarga dengan banyak anak.
Baca Juga: Jumlah Penduduk Terus Turun, Jepang Butuh 6,47 Juta Pekerja Asing
Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa universitas ternama di China, termasuk Universitas Wuhan, Universitas Xiamen, dan Universitas Tianjin, telah mulai menawarkan mata kuliah seperti "Pernikahan dan Cinta", "Psikologi Cinta", dan "Sosiologi Cinta".
Artikel ini menuai berbagai kritik dari para warganet. Mereka berpendapat bahwa rendahnya angka kelahiran adalah masalah sosial kompleks, yang memerlukan langkah-langkah komprehensif, bukan solusi yang sederhana dan kasar.
Mereka mengatakan lebih baik berfokus pada angka pengangguran karena seseorang membutuhkan stabilitas ekonomi sebelum mempertimbangkan pernikahan dan anak.
Kemudian, muncul kritik dari warganet atas larangan menjalin cinta monyet atau berkencan di sekolah menengah, tetapi begitu memasuki universitas, justru ada dorongan untuk segera menikah.
Mereka menilai bahwa bukan tidak mungkin, mahasiswa nantinya akan diwajibkan menikah terlebih dahulu sebelum diizinkan lulus.
Warganet juga berkomentar bahwa hal ini merupakan karma dari era kebijakan satu anak, di mana orang dipaksa menggugurkan anak tambahan, dan sekarang mereka sedang menyaksikan akibat dari kebijakan tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Scmp.com