INDOZONE.ID - Bisnis unik memang bisa mendatangkan keuntungan besar, tetapi terkadang juga memiliki risiko yang tidak terduga.
Hal itulah yang dialami Stephanie Matto, mantan bintang reality show 90 Day Fiancé, yang sempat viral karena menjual stoples berisi gas tubuh atau kentut secara online.
Stephanie menjual satu toples gas tubuh dengan harga sekitar US$1.000 atau sekitar Rp14 juta.
Bisnis yang terdengar nyeleneh tersebut ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pembeli hingga membuatnya meraup pendapatan sekitar US$200.000 atau setara Rp2,8 miliar.
Namun, kesuksesan itu tidak berlangsung lama. Demi memenuhi permintaan pelanggan, Stephanie mengubah pola makannya dengan mengonsumsi makanan tinggi protein dan berbagai jenis makanan yang diketahui dapat memicu produksi gas dalam tubuh.
Baca juga: Bukan Hanya Pedih, Ini Efek Berbahaya Terlalu Banyak Terpapar Gas Air Mata
Alih-alih terus menghasilkan keuntungan, pola makan tersebut justru membuatnya mengalami nyeri dada hebat hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memastikan bahwa kondisi tersebut bukan disebabkan oleh serangan jantung, melainkan penumpukan gas di saluran pencernaan yang memicu rasa nyeri di area dada.
Setelah kejadian itu, Stephanie memutuskan menghentikan bisnis penjualan gas tubuh demi menjaga kesehatannya.
Sebagai gantinya, ia beralih menjual versi digital dari produk tersebut dalam bentuk NFT (Non-Fungible Token).
Mengapa Penumpukan Gas Bisa Menyebabkan Nyeri Dada?
Meski terdengar sepele, penumpukan gas di saluran pencernaan memang dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup hebat. Menurut Cleveland Clinic, gas yang terperangkap di lambung atau usus dapat menyebabkan rasa penuh, kembung, tekanan pada perut, hingga nyeri yang menjalar ke dada. Dalam beberapa kasus, keluhannya bahkan bisa menyerupai gejala serangan jantung.
Sementara itu, Mayo Clinic menjelaskan bahwa gas merupakan bagian normal dari proses pencernaan. Namun, jika jumlahnya berlebihan atau sulit dikeluarkan, gas dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang cukup mengganggu.
Beberapa makanan diketahui lebih mudah menghasilkan gas saat dicerna, di antaranya:
- Kacang-kacangan
- Brokoli, kol, dan kembang kol
- Bawang
- Produk olahan susu bagi orang yang memiliki intoleransi laktosa
- Minuman berkarbonasi
- Makanan tinggi serat yang dikonsumsi secara berlebihan dalam waktu singkat
Selain jenis makanan, kebiasaan makan terlalu cepat, sering mengunyah permen karet, atau menelan udara saat makan juga dapat meningkatkan jumlah gas di saluran pencernaan.
Baca juga: 5 Cara Jitu Meminimalisir Efek Gas Air Mata: Panduan Praktis dan Cepat saat Darurat
Kapan Nyeri Dada Harus Diwaspadai?
Meski nyeri akibat gas umumnya tidak berbahaya, para ahli mengingatkan agar tidak langsung menganggap semua nyeri dada berasal dari gangguan pencernaan.
Menurut American Heart Association, seseorang sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila nyeri dada disertai gejala seperti:
- Sesak napas
- Nyeri yang menjalar ke lengan, bahu, rahang, leher, atau punggung
- Keringat dingin
- Mual atau muntah
- Pusing atau hampir pingsan
Pemeriksaan medis penting dilakukan untuk memastikan penyebab nyeri dada, karena gejalanya dapat menyerupai berbagai kondisi, mulai dari gangguan pencernaan hingga penyakit jantung yang memerlukan penanganan segera.
Kisah Stephanie Matto menjadi pengingat bahwa mengejar keuntungan tidak boleh mengorbankan kesehatan. Pola makan ekstrem atau sengaja mengonsumsi makanan tertentu secara berlebihan demi tujuan tertentu dapat menimbulkan dampak yang tidak diinginkan bagi tubuh.
Jika mengalami keluhan yang tidak biasa setelah mengubah pola makan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cleveland Clinic, Mayo Clinic, American Heart Association