Ilustrasi wanita mengalami nyeri haid hebat akibat Adenomiosis. (Freepik)
INDOZONE.ID – Adenomiosis merupakan salah satu gangguan pada rahim yang kerap dialami wanita usia reproduktif. Terlebih, mereka yang berusia 40 hingga 50 tahun.
Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri haid yang hebat, perdarahan menstruasi berlebihan, hingga pembesaran rahim.
Meski bukan penyakit kanker, adenomiosis dapat mengganggu kualitas hidup dan dalam beberapa kasus dikaitkan dengan masalah kesuburan maupun komplikasi kehamilan.
Dikutip dari Mayo Clinic, adenomiosis adalah kondisi ketika jaringan endometrium, yaitu jaringan yang melapisi bagian dalam rahim, tumbuh masuk ke dalam lapisan otot rahim (miometrium).
Dalam siklus menstruasi normal, jaringan endometrium akan menebal sebagai persiapan kehamilan. Jika tidak terjadi pembuahan, jaringan tersebut akan luruh dan keluar sebagai darah menstruasi.
Baca juga: Mengenal Adenomiosis, Penyakit yang Diderita Melaney Ricardo hingga Rahimnya Diangkat
Namun, pada penderita adenomiosis, jaringan yang tumbuh di dalam otot rahim juga mengalami penebalan, peluruhan, dan perdarahan setiap kali menstruasi.
Akibatnya, rahim dapat membesar dan menimbulkan nyeri, kram hebat, serta perdarahan menstruasi yang lebih banyak dari biasanya.
Sebagian wanita dengan adenomiosis, tidak mengalami gejala sama sekali. Namun, pada sebagian lainnya, kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan, antara lain:
Ilustrasi nyeri haid (Pixabay/Anastasia Gepp)
Segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami:
Pemeriksaan sejak dini penting, untuk memastikan penyebab keluhan dan membedakan adenomiosis dari penyakit rahim lainnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti adenomiosis masih belum diketahui. Namun, para ahli memiliki beberapa teori mengenai bagaimana kondisi ini dapat terjadi, di antaranya:
Terlepas dari mekanismenya, pertumbuhan jaringan adenomiosis diketahui dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Mayo Clinic