INDOZONE.ID - Di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, banyak orang yang masih keliru membedakan antara burnout dan depresi.
Dua hal tersebut kerap disamakan karena memiliki gejala yang serupa, seperti kelelahan ekstrim, kehilangan semangat, hingga kesulitan berkonsentrasi.
Padahal, burnout dan depresi adalah dua hal yang berbeda baik secara medis maupun psikologis.
Kesalahan dalam mendiagnosa diri sendiri bisa berujung pada penanganan yang tidak tepat dan lambat, dimana hal tersebut bisa berakibat fatal, lho!
Baca juga: 7 Manfaat Jus Blueberry untuk Kesehatan Tubuh, Terutama untuk Otak
Menurut WHO, burnout bukanlah gangguan medis, melainkan sebuah fenomena yang kadang terjadi karena pengerjaan sesuatu yang berlebihan dalam bekerja.
Sementara itu, depresi adalah salah satu jenis penyakit mental yang mempengaruhi perasaan, cara berpikir, dan perilaku seseorang.
American Psychiatric Association (APA) juga mengklaim bahwa burnout adalah pengalaman, bukan sebuah diagnosa medis.
Burnout biasanya dialami oleh sekelompok orang yang bekerja dalam lingkup pelayanan atau yang berada dalam dunia kerja dengan tekanan tinggi, seperti: pekerja sosial, guru, petugas pemasyarakatan, dokter, perawat, terapis, dan konselor trauma.
Studi oleh Fischer et.al, pada tahun 2020 mengatakan bahwa gejalanya keduanya ternyata sangat berbeda ketika ditilik lebih dalam.
Untuk mendapatkan penanganan yang tepat, penting untuk membedakan gejala antara burnout dan depresi dengan tepat.
Baca juga: Kenali Gejala Diseksi Aorta Sejak Dini untuk Cegah Komplikasi yang Berbahaya
Untuk benar-benar dapat didiagnosis sebagai depresi, seseorang harus mengalami setidaknya 5 gejala dibawah ini selama 2 minggu berturut-turut atau lebih.
Baca juga: Mengintip Bagaimana Dokter Dilatih Menangani Pasien Gigitan Ular Berbisa
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medicalnewstoday.com