Ilustrasi mata merah (freepik)
INDOZONE.ID - Banyak orang mengira mata merah hanya disebabkan oleh kelilipan atau kelelahan. Padahal, salah satu penyebab mata merah yang serius adalah uveitis.
Uveitis adalah peradangan pada lapisan tengah mata (uvea) yang bisa berujung pada kerusakan permanen hingga kebutaan jika tidak segera ditangani.
Menurut Dokter Sub Spesialis Ocular Infection and Immunology, JEC Eye Hospitals and Clinics Dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, uveitis merupakan penyebab kebutaan yang sering kali tidak disadari karena gejalanya bisa menyerupai gangguan mata ringan. Padahal, kondisi ini memerlukan diagnosis dan penanganan yang tepat dan cepat.
“Kalau mata merah bukan berarti kelilipan karena bisa jadi ada peradangan di mata dan iru harus kita cari tahu,” kata dr Vani dalam acara Diskusi Media - Gangguan Retina dan Uveitis: Masalah Penglihatan yang Sering Terabaikan, di Jakarta.
Baca juga: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganan Mata Merah
Uveitis bisa muncul dengan gejala yang bervariasi. Pasien gak hanya mengalami mata merah berulang tapi disertai rasa nyeri saat melihat cahaya terang (fotofobia), lenglihatan kabur, serta muncul bayangan hitam kecil seperti floaters yang melayang.
Namun, tidak semua uveitis disertai mata merah. Ada juga jenis uveitis yang gejalanya hanya berupa penglihatan yang buram secara perlahan, tanpa rasa sakit.
Gejala-gejala ini penting untuk dikenali karena peradangan di dalam mata bisa terus berkembang meski tidak terasa nyeri.
Uveitis bisa menyebabkan kerusakan pada berbagai bagian mata, baik bagian depan (seperti kornea dan lensa) maupun bagian belakang (seperti vitreus dan retina). Bila peradangan terjadi secara kronis dan tidak tertangani dengan baik, struktur mata bisa rusak secara permanen.
“Yang gak banyak kita tahu adalah uveitis bisa merusak struktur depan dan belakang, semakin banyak yang rusak dan kondisinya berat. Kalau sudah kronik bisa jadi komplikasi dan sudah mengalami kebutaan. Banyak pasien mata sebelah tidak berfungsi dan terkena uveitis, kalau datang lebih early bisa diselamatkan,” ungkap dr Vani.
Baca juga: Waspada! Mata Merah & Belekan Jadi Gejala Baru Varian Arcturus yang Terdeteksi di Jakarta
Kata dr Vani, di Indonesia datanya masih terbatas. Namun penelitian di Jakarta menunjukkan sekitar 30–35% kasus uveitis disebabkan oleh infeksi, 25% karena autoimun, dan 30% lainnya idiopatik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan