Ilustrasi lemak di perut. (Ilustrasi/gi.md.com)
INDOZONE.ID - Selama bertahun-tahun, indeks massa tubuh (BMI) digunakan sebagai dasar dalam menentukan apakah seseorang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.
Sementara itu, para dokter sering menggunakan BMI untuk memperkirakan risiko kanker seseorang. Sebab, pada beberapa jenis kanker diketahui berkaitan dengan berat badan berlebih.
Namun, sebuah penelitian terbaru menunjukkan, BMI dianggap terlalu dini untuk menilai risiko kanker.
Studi tersebut menemukan, tempat tertimbunnya lemak dalam tubuh, dinilai sama pentingnya dengan jumlah lemak itu sendiri. Terlebih dalam untuk menentukan risiko seseorang terhadap berbagai jenis kanker.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the National Cancer Institute ini, meneliti hubungan antara lemak di lima area tubuh—perut, sekitar organ dalam (viseral), bokong dan paha, hati, serta pankreas—terhadap risiko 12 jenis kanker yang berkaitan dengan obesitas.
Hasilnya, lemak di perut berkaitan dengan peningkatan risiko tiga jenis kanker yakni, kanker endometrium, kanker esofagus, dan kanker hati.
Baca juga: Kenapa Perut Tiba-tiba Terasa Keras? Ini 7 Penyebabnya
Sebaliknya, lemak di area bokong dan paha justru dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara dan meningioma (tumor otak jinak).
Menurut Ahli Onkologi dan Hematologi dari The Mesothelioma Center at Asbestos, Dr. Daniel Landau, temuan ini memperkuat bukti bahwa, bukan hanya obesitas yang berperan, melainkan juga lokasi penumpukan lemak.
“Obesitas di bagian tengah tubuh atau lemak perut menjadi faktor risiko independen untuk diabetes, penyakit jantung, dan kanker. Lemak di area ini sering dikaitkan dengan pola makan buruk serta tingkat peradangan tinggi yang bisa memicu kanker,” ujarnya dikutip dari Medical News Today.
Ilustrasi lemak perut (Pixabay/Bruno/Germany)
Untuk meneliti hubungan sebab-akibat antara distribusi lemak dan risiko kanker, para peneliti menggunakan pendekatan Mendelian Randomization, yaitu teknik yang memanfaatkan data genetik untuk menilai hubungan kausal.
Data penelitian diambil dari UK Biobank dan FinnGen, dua basis data kesehatan besar di Eropa.
Ahli Bedah Onkologi dari Providence Saint John’s Cancer Institute, Dr. Anton Bilchik, mengatakan, metode ini sangat kompleks.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical News Today