Cara otak memproses suara yang mempengaruhi preferensi musik
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu rekam suara sendiri, lalu pas diputar ulang langsung mikir, “Waduh, kok suaraku beda banget, ya?” Tenang, kamu nggak sendirian! Hampir semua orang pernah kaget mendengar suara mereka sendiri di rekaman. Tapi ini bukan karena kamu overthinking, ada penjelasan ilmiahnya di balik fenomena ini.
Di artikel ini, kita bakal bahas secara santai tapi tetap ilmiah, kenapa suara kita terdengar berbeda saat direkam, dan kenapa justru suara rekaman itu lebih mirip dengan yang orang lain dengar dari kita.
Baca juga: Bisakah Polusi Suara Memicu Kecemasan? Ini Faktanya
(Air Conduction vs Bone Conduction)
Kunci utamanya ada pada bagaimana suara sampai ke telinga kita. Saat berbicara, suara yang kita hasilkan melewati dua jalur berbeda:
Saat berbicara, otak kita menerima gabungan dari kedua jalur ini, udara dan tulang. Akibatnya, suara yang kita dengar terasa lebih kaya dan penuh. Namun, ketika mendengarnya dari rekaman, yang terdengar hanyalah versi udara (air conduction), karena mikrofon hanya menangkap getaran yang merambat di udara. Komponen bone conduction-nya hilang, sehingga suara terdengar lebih tinggi, tipis, dan kurang “berisi”.
Jadi, suara yang terdengar di rekaman sebenarnya adalah versi yang orang lain dengar setiap hari.
Ilustrasi Tips Reset Otak. (Foto: Freepik @kjpargeter)
Suara di Kepala vs Suara Nyata
Selain faktor fisik, otak juga berperan besar. Otak kita terbiasa dengan versi “eksklusif” dari suara sendiri, versi yang diperkuat oleh getaran tulang tengkorak dan jaringan tubuh.
Saat mendengar rekaman yang hanya lewat udara, otak langsung merasa aneh karena itu bukan versi yang biasa dia dengar. Fenomena ini disebut voice confrontation, yaitu rasa tidak nyaman atau penolakan terhadap suara diri sendiri saat direkam.
Ditambah lagi, otak manusia cenderung lebih menyukai hal yang familiar (mere exposure effect). Karena seumur hidup kita mendengar suara sendiri dalam versi gabungan (air + bone conduction), versi rekaman terasa asing dan “bukan diri kita”. Padahal, justru itulah suara yang didengar orang lain setiap hari.
Selain faktor biologis dan persepsi, faktor teknis juga bisa membuat suara rekaman terdengar makin berbeda:
Jadi, hasil rekaman bukan sepenuhnya “suara asli”, melainkan gabungan antara suara udara, kualitas alat, dan kondisi sekitar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Betterhealthfacts.com, Scientificamerican.com