Ilustrasi tanda kecil masalah kesehatan mental (freepik).
INDOZONE.ID - Indonesia tengah menghadapi krisis kesehatan mental yang kian mengkhawatirkan, terutama di kalangan anak-anak dan remaja. Berbagai faktor seperti dampak pandemi COVID-19, perubahan iklim, ketidakpastian ekonomi global, dinamika sosial, serta pesatnya perkembangan teknologi menambah tekanan terhadap kesejahteraan psikologis generasi muda.
Mereka tumbuh dalam lingkungan yang semakin kompleks, di mana tantangan sosial dan lingkungan memberi pengaruh besar terhadap kondisi mental.
Kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri di kalangan anak dan remaja menjadi perhatian serius. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan peningkatan kasus akibat tekanan akademik, perundungan (bullying), serta masalah keluarga.
Pada 2022 di Jakarta Timur, seorang remaja 14 tahun mengakhiri hidupnya setelah diduga menjadi korban perundungan di sekolah. Setahun sebelumnya di Bandung, siswa SMA ditemukan meninggal dunia setelah melompat dari gedung sekolahnya karena tekanan akademik dan persoalan pribadi. Kasus serupa terjadi di Surabaya pada 2023, ketika anak laki-laki berusia 13 tahun mengakhiri hidupnya usai menjadi korban cyberbullying.
Rangkaian peristiwa tragis ini menjadi alarm keras bahwa kesehatan mental generasi muda harus segera menjadi prioritas nasional.
Baca juga: Cara Mudah Menjaga Kesehatan Mental di Era Modern : Tidak Hanya Soal Meditasi!
Kesehatan jiwa anak dan remaja berdampak besar, bukan hanya pada masa kini tetapi juga masa depan bangsa. Sayangnya, salah satu hambatan utama dalam menangani persoalan ini adalah terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan mental.
Indonesia saat ini hanya memiliki sekitar 2.500 psikolog terdaftar untuk lebih dari 270 juta penduduk, artinya kurang dari satu psikolog untuk setiap 100.000 orang. Angka ini jauh di bawah standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan minimal satu psikolog untuk setiap 5.000 penduduk.
Di sektor pendidikan, rasio guru bimbingan konseling (BK) juga jauh dari ideal. Satu guru BK kerap menangani 500 hingga 1.000 siswa, padahal idealnya hanya 150 siswa. Ketimpangan ini menyebabkan penanganan masalah psikologis di sekolah menjadi tidak optimal, terutama di daerah pelosok yang minim tenaga profesional.
Selain keterbatasan layanan, stigma sosial terhadap isu kesehatan mental masih sangat kuat. Banyak masyarakat menganggap mencari bantuan profesional sebagai tanda kelemahan atau sesuatu yang memalukan. Akibatnya, banyak remaja enggan terbuka atau mencari pertolongan, bahkan saat berada dalam tekanan berat.
Dengan dilantiknya Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober 2024 dan pembentukan Kabinet Merah Putih pada 21–22 Oktober, muncul harapan besar bahwa kesehatan mental anak akan menjadi prioritas nasional.
Pembagian Kementerian Pendidikan menjadi tiga lembaga, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membuka peluang untuk mengintegrasikan program kesehatan mental ke dalam kurikulum sekolah.
Presiden Prabowo diharapkan membawa perspektif baru dalam menangani krisis ini, dengan memperluas akses layanan kesehatan mental, meningkatkan jumlah psikolog dan guru BK, serta memberikan pelatihan agar guru dapat menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan menangani masalah psikologis siswa sejak dini.
Langkah-langkah tersebut bukan hanya memperkuat sistem pendidikan, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi generasi yang sehat, tangguh, dan berdaya saing tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uinjkt.ac.id