Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 10 DESEMBER 2025 • 16:10 WIB

Bagaimana Agar Gak “Burnout” sat Kelelahan Fisik dan Emosional? Apa yang Harus Dilakukan?

Bagaimana Agar Gak “Burnout” sat Kelelahan Fisik dan Emosional? Apa yang Harus Dilakukan?ilustrasi Burnout (Sumber : Freepik)

INDOZONE.ID - Burnout merupakan kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres berkepanjangan, yang seringkali dipicu oleh beban kerja berlebih dan ketidakseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional.

Kelelahan emosional bisa menyentuh seluruh aspek kehidupan: pekerjaan, hubungan pribadi, sampai kesehatan fisik. Banyak orang tidak sadar sedang menuju burnout karena prosesnya muncul perlahan.

Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Amerika, Herbert Freudenberger, pada tahun 1974. Ia mengamati bahwa pekerja di bidang pelayanan publik perlahan kehilangan kemampuan merespons secara emosional setelah terlalu lama menghadapi situasi penuh tekanan.

Baca juga: Awas! Ini 10 Penyebab Demam Tinggi yang Harus Diwaspadai

Pada 2021, WHO memperbarui definisinya dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD). Burnout tidak lagi dikategorikan sebagai penyakit, tetapi sebagai sindrom yang muncul akibat stress kronis.

Menurut Alina Bear, dokter hygiene dari Pusat Regional Minsk untuk Kebersihan, Epidemiologi, dan Kesehatan Masyarakat, penting untuk memahami bahwa burnout berkembang bertahap dan dapat berdampak serius jika diabaikan.

Pada tahap awal, gejalanya samar, dan sering baru terasa ketika tubuh serta emosi sudah tidak mampu lagi menahan tekanan.

Tanda-tanda utama kelelahan emosional meliputi:

  • Kelelahan kronis : kelelahan baik fisik maupun mental, bahkan setelah istirahat sekalipun, seseorang tetap merasa kosong, tidak bertenaga, dan tidak merasakan “recharge”.
  • Pandangan negatif terhadap kehidupan dan karier : seperti merasa apa pun yang dilakukan tidak akan berhasil.
  • Iritabilitas meningkat : hal-hal kecil jadi mudah memicu emosi.
  • Masalah tidur : seperti sulit tidur, sering terbangun, atau justru terlalu mengantuk sepanjang hari.
  • Gejala fisik : seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan tegang otot.

Baca juga: Penelitian KAIST Ungkap Teknologi Pengubah Sel Kanker, Harapan Baru Dunia Medis

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Mencegah atau Meminimalkan Burnout?

Burnout bisa dicegah atau dikurangi dengan beberapa langkah sederhana tapi konsisten:

1. Membuat lingkungan kerja yang sehat

  • Atur prioritas berdasarkan urgensi.
  • Beri diri sendiri jeda singkat di antara tugas.
  • Variasikan aktivitas untuk mengurangi monoton.

2. Menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi

Burnout sering makin parah ketika batas rumah–kerja kabur. Usahakan:

  • tidak membawa pekerjaan ke rumah,
  • biarkan malam dan akhir pekan benar-benar sebagai waktu istirahat.

3. Hidup lebih sehat

  • Aktivitas fisik rutin (contoh: jalan kaki 15 menit sehari).
  • Pola makan seimbang dengan lebih banyak sayur dan buah.
  • Kurangi gula, kafein, dan hindari alkohol berlebihan.
  • Jaga kualitas tidur 7–8 jam, serta hindari gadget minimal 2 jam sebelum tidur.

Baca juga: Gak Kerasa tapi Bahaya: Fakta Chlamydia yang Wajib Kamu Tahu!


4. Punya hobi

Aktivitas menyenangkan membantu memutus siklus stres dan memberi ruang bagi emosi untuk pulih.

5. Dapatkan dukungan

Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial, kemampuan mengelola stres, serta mencari bantuan profesional saat diperlukan dapat membantu seseorang pulih lebih cepat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Aif.by

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Bagaimana Agar Gak “Burnout” sat Kelelahan Fisik dan Emosional? Apa yang Harus Dilakukan?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!