Ilustrasi Gen Z (Sumber: Freepik)
INDOZONE.ID - Generasi Z, atau sering disingkat menjadi Gen Z, merupakan kelompok demografis yang lahir pada tahun 1997 hingga 2012-an. Gen Z ini merupakan generasi yang menggantikan generasi milenial yang lahir pada tahun 1981–1996. Gen Z telah menjadi subjek perbincangan hangat dalam beberapa waktu terakhir. Salah satu klaim yang kerap terdengar adalah bahwa Gen Z memiliki “mental tahu” atau mental yang lemah dan rapuh. Emang iya?
Dilansir dari Jakpat.net, terdapat data tahun 2022 yang menunjukkan bahwa sebanyak 46,7% Gen Z merasa mengalami gangguan kesehatan mental dibandingkan dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi Milenial dan Generasi X. Kenapa bisa begitu?
Baca juga: Apa Itu Girl Math? Fenomena Gen Z yang Bikin Dompet Cepat Kering
Dilansir dari hellosehat.com dan halodoc.com, Gen Z tumbuh di tengah revolusi teknologi yang memperkenalkan internet, media sosial, dan kecepatan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, dengan adanya kecepatan informasi tersebut membuat Gen Z lebih terbuka terhadap informasi-informasi kesehatan mental yang mereka dapatkan dan tak jarang menjadikan permasalahan kesehatan mental untuk melindungi dirinya sendiri.
Ilustrasi tanda kecil masalah kesehatan mental (freepik).
Mengutip dari communication.binus.ac.id, menurut Sandersan Onie, Presiden Asosiasi Pencegahan Bunuh Diri Indonesia, saat ini mental Gen Z memang lebih rentan mengalami depresi. Penyebabnya adalah media sosial yang membuat mereka selalu membandingkan diri sendiri dengan citra sempurna yang mereka lihat di media sosial. Oleh karena itu, media sosial menjadi pemicu utama mental Gen Z disebut bermental lemah.
Baca juga: Kenapa Gen Z Lebih Pilih Healing daripada Menabung? Ini Fakta Mengejutkannya
Walaupun begitu, hal tersebut patut diapresiasi karena Gen Z dianggap berani mengakui kerapuhan dirinya karena banyak terpapar informasi mengenai kesehatan mental di berbagai platform media.
Sebenarnya, baik Gen Z maupun generasi sebelumnya memiliki risiko yang sama untuk mengalami masalah mental. Namun bedanya, Gen Z mengalami versi yang lebih intens karena banyaknya kampanye kesehatan mental dari berita dan media sosial yang mereka dapatkan.
Pada akhirnya, permintaan akan pelayanan kesehatan mental meningkat dan tidak tabu lagi. Kesadaran akan masalah kesehatan mental semakin berkembang, sehingga apa yang dahulu mungkin diabaikan kini diakui sebagai permasalahan yang memerlukan perawatan khusus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Halodoc, Jakpat.net