Ilustrasi ana susah tidur. (Freepik)
INDOZONE.ID - Tidur merupakan kebutuhan dasar bagi tumbuh kembang anak, baik secara emosional, fisik, maupun kognitif.
Namun, semakin banyak anak yang mengalami kesulitan untuk tidur nyenyak, di tengah gaya hidup modern yang serba cepat.
Rutinitas padat, paparan gawai, hingga tekanan akademik, membuat sejumlah anak mengalami masalah tidur yang berkepanjangan.
Menurut para ahli yang dikutip dari Medical Daily, gangguan tidur anak tidak selalu sekadar masalah gelisah.
Sejumlah faktor lain dapat memengaruhi kemampuan anak untuk tertidur, maupun mempertahankan tidur sepanjang malam.
Baca juga: Psikolog: Kamar Tidur Bisa Pengaruhi Tumbuh Kembang dan Kemandirian Anak
Kekhawatiran mengenai sekolah, pertemanan, hingga perubahan dalam keluarga, dapat menimbulkan kecemasan yang berujung pada gangguan tidur.
National Institute of Mental Health menjelaskan, kecemasan dapat memicu hiper-arousal, kondisi yang membuat anak sulit tenang menjelang tidur.
Jam tidur yang tidak teratur, menjadi salah satu penyebab utama insomnia pada anak. Paparan cahaya biru dari layar gawai sebelum tidur, terbukti menunda produksi melatonin, hormon yang mengatur siklus tidur.
Penelitian Harvard Medical School mengungkapkan, penggunaan gawai sebelum tidur berdampak langsung pada gangguan ritme sirkadian anak.
Ilustrasi anak tidur. (Freepik)
Kondisi seperti teror malam atau sleepwalking, sering muncul ketika anak kurang tidur atau terlalu lelah. Meski tidak berbahaya, gangguan ini mengindikasikan kualitas tidur yang tidak optimal.
OSA dialami oleh sekitar 1–5 persen anak, dan kerap disebabkan oleh amandel membesar atau obesitas.
Gangguan ini menyebabkan aliran napas terganggu saat tidur, sehingga berdampak pada konsentrasi dan perilaku di siang hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Medical Daily